DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pemerintah bergerak cepat menahan tekanan harga ayam hidup (livebird) di tingkat peternak yang belakangan terus melemah. Kementerian Pertanian (Kementan) menetapkan harga minimal ayam hidup Rp 19.500 per kilogram untuk bobot 1,8 kilogram ke atas guna menjaga keberlangsungan usaha peternak rakyat.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan langkah stabilisasi dilakukan atas arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman. Pemerintah ingin menjaga keseimbangan produksi dan harga agar industri perunggasan tetap berjalan.
“Dalam rangka menjaga stabilisasi industri perunggasan nasional baik untuk ayam pedaging maupun juga ayam telur, Bapak Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional memerintahkan kepada kami untuk menjaga stabilisasi produksi dan juga harga untuk komoditas ayam dan telur ini khususnya di tingkat peternak,” kata Agung dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026).
Menurut Agung, angka Rp 19.500 dipilih setelah mempertimbangkan kondisi lapangan, termasuk kenaikan harga pakan dan biaya logistik yang membebani peternak. Ia menyebut harga tersebut menjadi batas psikologis agar usaha peternakan ayam ras tetap berlanjut di tengah tekanan pasar.
“Tadi kembali kami melakukan pertemuan dengan kementerian lembaga terkait dan juga seluruh asosiasi, kemudian perusahaan peternakan ayam broiler juga koperasi untuk bersama-sama mengambil komitmen harga penjualan ayam hidup di tingkat peternak yaitu di angka minimal Rp19.500 untuk bobot 1,8 kg ke atas,” ujarnya.
Kementan juga menegaskan akan mengawal implementasi kesepakatan harga tersebut di lapangan. Pemerintah bahkan menyiapkan langkah tegas terhadap pelaku usaha yang dinilai melanggar komitmen stabilisasi harga ayam hidup di tingkat peternak.
“Kalau menemukan para pelaku yang melakukan pelanggaran kami akan tindak sesuai dengan kewenangan yang kami miliki di Kementerian Pertanian karena ini semua tujuannya adalah untuk kepentingan bersama,” tegas Agung.
Pelaku industri perunggasan menyambut langkah pemerintah tersebut. Ketua IV Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas, Asrokh Nawawi, mengatakan harga Rp 19.500 merupakan langkah awal untuk memulihkan pasar setelah sebelumnya harga ayam hidup sempat jatuh di bawah Rp 18.000 per kilogram akibat panen serentak menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). [in]