DIALEKSIS.COM | Feature - Pesan singkat itu masuk ke telepon genggam menjelang akhir Januari. Isinya undangan sederhana: ngopi bareng insan media bersama pimpinan Bank Aceh Syariah. Pengirimnya Riza Syahputra, Kepala Bidang Arsip dan Sekretariat Bank Aceh Syariah. Undangan tersebut ditujukan kepada Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Aceh, namun segera meluas ke berbagai organisasi pers dan asosiasi perusahaan media.
Pagi 2 Februari, gedung Expo UMKM Bank Aceh Syariah di kawasan Lampineung, Banda Aceh, mulai dipenuhi tamu. Sejak pukul delapan, satu per satu perwakilan organisasi pers berdatangan. Hadir organisasi profesi wartawan dan asosiasi perusahaan media, di antaranya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Ikatan Wartawan Online (IWO), hingga IWO Indonesia (IWOI). Jumlah undangan yang hadir diperkirakan mencapai sekitar seratus orang.
Acara belum dimulai, tetapi suasana sudah hidup. Panitia menyambut tamu dengan kopi khas Aceh robusta dan arabika yang diseduh hangat. Di meja hidangan tersaji menu sarapan khas pagi hari: lontong dan nasi gurih. Obrolan ringan mengalir di antara cangkir kopi dan piring sarapan, mencairkan sekat antara manajemen bank dan para jurnalis yang sehari-hari lebih sering bertemu lewat pemberitaan.
Setelah sesi santai, seluruh undangan diarahkan ke ruang utama. Acara dibuka dengan doa dan pengajian singkat. Nuansanya tetap sederhana, namun terasa formal sebuah pertemuan silaturahmi yang sengaja dikemas tanpa jarak.
Sekretaris Perusahaan Bank Aceh Syariah, Ilham Novrizal, membuka acara dengan pengantar. Ia menyampaikan bahwa pertemuan tersebut dirancang sebagai ruang bertemu dan berdialog langsung antara manajemen bank dan insan media. Tidak ada agenda seremonial panjang. Fokusnya adalah silaturahmi dan komunikasi.
Inti acara kemudian disampaikan oleh Direktur Utama Bank Aceh Syariah, Fadhil Ilyas. Dalam sambutannya, Fadhil menempatkan pertemuan ini sebagai momen refleksi atas perjalanan bank daerah itu, terutama setelah melewati masa sulit akibat bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh.
“Pada pagi yang berbahagia ini, atas nama manajemen, kami mengucapkan terima kasih kepada insan media. Berbagai cobaan dan rintangan alhamdulillah atas izin Allah SWT telah kita lalui bersama,” ujar Fadhil. Menurut dia, peran media tidak bisa dilepaskan dari proses pemulihan layanan perbankan pasca-bencana.
Fadhil mengakui, seharusnya pertemuan semacam ini dilakukan lebih awal. Namun kondisi bencana kala itu membuat manajemen Bank Aceh Syariah memilih fokus pada pemulihan layanan. Di akhir 2025, kata dia, seluruh jajaran bank bekerja tanpa terkecuali untuk menstabilkan kembali sistem layanan keuangan agar tetap berjalan bagi masyarakat.
Bank Aceh Syariah, kata Fadhil, membentuk dua tim khusus pasca-bencana: tim manajemen dan tim layanan bisnis. Keduanya bertugas memastikan layanan perbankan bisa pulih secepat mungkin.
“Respons cepat itu juga mendapat apresiasi dari bank daerah di luar Aceh. Mereka bangga karena layanan perbankan di Aceh bisa aktif kembali dalam waktu singkat,” ujarnya.
Namun, Fadhil tidak menutup mata terhadap berbagai kekurangan. Ia menyinggung pentingnya menjaga kepercayaan publik ‘trust’ yang menurutnya sangat dipengaruhi oleh pemberitaan. “Semakin banyak berita positif, tentu semakin baik kepercayaan masyarakat. Jika ada berita yang kurang baik, kami berharap bisa bersinergi dengan media untuk klarifikasi,” kata dia.
Untuk memperbaiki komunikasi, manajemen Bank Aceh Syariah kini menyiapkan saluran satu pintu atau sekretariat bersama sebagai jalur resmi penyampaian informasi kepada media. Langkah ini diambil untuk menghindari keterlambatan respons dan simpang siur informasi. Fadhil juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama ini ada pesan pribadi dari wartawan yang belum sempat terbalas oleh pimpinan bank.
Dalam pertemuan itu, Fadhil juga menyinggung sejumlah isu yang kerap menjadi perhatian publik, mulai dari relaksasi kredit, layanan pensiun, hingga program pembiayaan UMKM. Ia menegaskan bahwa relaksasi pembayaran bukan berarti penghapusan kewajiban. “Menunda bukan menghapuskan utang,” ujarnya.
Untuk sektor UMKM, Bank Aceh Syariah, kata Fadhil, menyiapkan subsidi kuota margin dengan nilai yang disesuaikan regulasi. Program ini disertai pembinaan berkelanjutan, termasuk pembiayaan bagi perempuan dari kelompok kurang mampu melalui skema perbankan syariah. Bank juga tengah menyusun skema khusus bagi aparatur sipil negara yang terdampak bencana.
Soal tata kelola, Fadhil menyebut pengisian posisi komisaris sepenuhnya mengikuti mekanisme yang berlaku. Manajemen, kata dia, hanya mengantarkan proses sesuai aturan. Prinsip kehati-hatian dan kepatuhan terhadap prinsip perbankan syariah tetap menjadi fondasi utama.
Dialog antara manajemen dan insan media berlangsung terbuka. Sejumlah pertanyaan disampaikan, mulai dari transparansi program hingga mekanisme layanan pasca-bencana. Suasana diskusi tetap cair, sejalan dengan konsep awal acara: ngopi dan berbincang tanpa sekat.
Menjelang siang, acara ditutup tanpa seremoni berlebihan. Para undangan kembali berbaur, melanjutkan percakapan ringan sebelum meninggalkan lokasi. Di tengah hiruk-pikuk isu ekonomi dan bencana, pertemuan ini menjadi penanda satu hal: Bank Aceh Syariah dan insan media tengah merawat hubungan yang sama-sama bergantung pada kepercayaan publik dengan secangkir kopi sebagai perantaranya. [arn]