Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Feature / Raya Tanpa Tuan Rumah, Sekda Jadi Wajah Negara di Aceh

Raya Tanpa Tuan Rumah, Sekda Jadi Wajah Negara di Aceh

Sabtu, 21 Maret 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Suasana hari pertama Lebaran di rumah dinas Wakil Gubernur dan rumah dinas Sekda Aceh tampak hangat. Sosok Muhammad Nasir sebagai tuan rumah sekaligus Sekda Aceh menerima para tamu yang datang. Foto: Kolase Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Feature - Pintu rumah dinas itu tetap terbuka sejak pagi. Di halaman, mobil datang bergantian. Para tamu turun dengan pakaian terbaik mereka baju koko, kebaya, sarung, dan senyum lebar khas hari raya. Mereka datang untuk satu hal yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun: bersilaturahmi.

Namun, pada Sabtu, 21 Maret 2026, ada satu yang berbeda. Tuan rumah utama Gubernur Aceh Muzakir Manaf dan Wakil Gubernur Fadhlullah tidak berada di tempat.

Di tengah kekosongan itu, seorang pria berdiri mengambil peran. Ia menyambut, mengatur, sekaligus memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Ia adalah Sekretaris Daerah Aceh, Muhammad Nasir, S.IP., MPA.

Pagi baru saja beranjak ketika arus tamu mulai berdatangan. Selepas salat Id, halaman rumah dinas gubernur berubah menjadi ruang pertemuan besar. Tangan-tangan saling bersalaman, pelukan hangat bertukar, dan ucapan “mohon maaf lahir dan batin” mengalir tanpa jeda.

Di tengah suasana itu, Nasir tidak hanya berdiri sebagai pejabat yang menggantikan. Ia bergerak.

Sesekali ia mendekat ke pintu masuk, menyambut tamu yang datang. Lalu beralih ke dalam ruangan, memastikan kursi cukup, alur tamu tidak tersendat, dan suasana tetap nyaman. Ia memberi isyarat halus kepada petugas protokol, memastikan semuanya berjalan rapi tanpa terasa kaku.

Perannya tak terlihat mencolok, tetapi justru di situlah letaknya. “Silakan masuk, Pak. Sudah disiapkan di dalam,” katanya kepada seorang tamu, dengan nada yang lebih hangat daripada formal.

Hari itu, birokrasi bekerja dalam bentuk paling sederhana: menyambut manusia.

Ketiadaan gubernur dan wakil gubernur bukan tanpa sebab. Di waktu yang sama, keduanya berada di Aceh Tamiang, mendampingi Presiden Prabowo Subianto.

Di sana, presiden melaksanakan salat Id bersama masyarakat, berlebaran, dan meninjau langsung progres rehabilitasi serta rekonstruksi pascabencana banjir dan longsor. Wilayah itu menjadi salah satu yang paling terdampak dalam bencana besar beberapa waktu lalu.

Agenda negara berjalan di sana. Namun, di Banda Aceh, agenda sosial dan budaya tak bisa ditinggalkan.

Rumah dinas gubernur bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol keterbukaan, tempat masyarakat datang tanpa sekat. Dan simbol itu harus tetap hidup, siapa pun yang berada di dalamnya.

Nasir memahami itu. Redaksi Dialeksis yang berkunjung ke rumah dinas gubernur dan wakil gubernur pagi itu melihat satu hal yang konsisten: pelayanan tetap berjalan tanpa cela.

Tak ada kesan kosong, tak ada kekakuan karena absennya pimpinan. Yang ada justru suasana hangat, terjaga, dan teratur.

Nasir mengisi ruang itu. Ia tak hanya mengawasi dari jauh. Ia turun langsung. Sesekali ia berbicara dengan staf, memastikan konsumsi cukup. Di lain waktu, ia berdiri menyambut tamu yang baru datang.

Di tengah keramaian, ia menjadi titik keseimbangan. Seorang tamu yang ditemui di lokasi mengaku tidak merasakan kekosongan.

“Walaupun Pak Gubernur tidak ada, tapi tetap terasa disambut. Pak Sekda langsung menyapa,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi mencerminkan sesuatu yang penting: pelayanan tidak boleh bergantung pada satu figur.

Waktu bergerak menuju siang. Jarum jam mendekati pukul 12.00 WIB. Arus tamu belum juga surut.

Namun, Nasir harus berpindah. Ia meninggalkan rumah dinas gubernur, menuju rumah dinasnya sendiri. Di sana, peran yang sama menunggu: menerima tamu, menyambut silaturahmi, menjaga tradisi.

Perpindahan itu seperti estafet yang tak terlihat. Dari satu titik ke titik lain, dari satu rumah ke rumah berikutnya, pelayanan terus berlanjut.

Tak ada jeda. Sebagai Sekda, Nasir adalah figur kunci dalam birokrasi. Ia bertugas memastikan roda pemerintahan berjalan, dari perencanaan hingga eksekusi.

Namun, pada hari raya seperti ini, tugas itu berubah bentuk. Bukan lagi soal dokumen atau rapat, tetapi tentang kehadiran.

Tentang bagaimana negara hadir di tengah masyarakat, bahkan dalam suasana nonformal sekalipun.

Nasir menjalaninya tanpa jarak. Ia tidak membangun sekat antara dirinya dan tamu. Ia tidak membiarkan birokrasi menjadi dingin. Sebaliknya, ia membuatnya terasa hangat”nyaris seperti keluarga besar yang sedang berkumpul.

Sementara itu, di Aceh Tamiang, Presiden Prabowo berjalan di antara hunian sementara. Ia melihat langsung kondisi warga, berbincang, dan memastikan proses pemulihan berjalan.

Di sana, negara hadir dalam bentuk kebijakan dan keputusan. Di Banda Aceh, negara hadir dalam bentuk pelayanan dan keramahan.

Dua wajah yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Lebaran selalu punya makna ganda. Ia adalah perayaan, tetapi juga cermin.

Ia memperlihatkan bagaimana relasi antara pemerintah dan masyarakat terbangun. Apakah hangat, apakah kaku, atau justru berjarak.

Pada 21 Maret 2026, di Aceh, cermin itu menunjukkan sesuatu yang menarik.

Ketika pimpinan daerah menjalankan tugas negara di tempat lain, birokrasi tidak kehilangan wajahnya. Ia justru menemukan bentuknya yang paling nyata.

Dalam sosok seorang Sekda yang berdiri sejak pagi, menyambut tanpa lelah, dan memastikan semuanya berjalan baik.

Menjelang sore, keramaian mulai mereda. Kursi-kursi yang sebelumnya terisi kini mulai kosong. Suasana menjadi lebih tenang.

Namun, kesan hari itu tetap tertinggal. Bahwa negara, dalam bentuk apa pun, tidak boleh absen bahkan di hari raya.

Dan bahwa pelayanan, sekecil apa pun bentuknya, bisa menjadi hal paling bermakna bagi mereka yang datang.

Muhammad Nasir mungkin tidak berdiri di panggung utama hari itu. Tidak ada pidato, tidak ada sorotan besar.

Namun, justru di balik kesederhanaan perannya, ia menunjukkan sesuatu yang lebih penting, bahwa kepemimpinan bisa hadir dalam bentuk pelayanan. Dan di hari raya, itu adalah wajah negara yang paling dibutuhkan.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI