DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di balik kesibukannya mengurus dunia kepemudaan dan olahraga di Kota Banda Aceh, Reza Karmilin ternyata menyimpan sisi lain yang lembut terlihat jiwa seni yang peka menangkap suasana, kenangan, dan makna sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Banda Aceh itu menuliskan sebuah puisi bernuansa reflektif di dinding Facebook pribadinya, Minggu, 21 Juni 2026. Puisi tersebut dikutip Dialeksis sebagai gambaran lain dari seorang pejabat publik yang tidak hanya bekerja dengan program dan kebijakan, tetapi juga mampu memandang kota, lorong, kopi, matahari pagi, dan rasa syukur dengan bahasa batin.
Dalam puisinya, Reza membawa pembaca menyusuri lorong Peunayong pada waktu subuh. Bukan sekadar lorong tua di pusat kota, tetapi ruang kenangan yang mengajarkan tentang ketenangan, penerimaan, dan cara baru untuk bersyukur.
Berikut puisi Reza Karmilin:
Pagi suboh ini, masih di lorong yang sama.
Matahari datang perlahan,
menyapa dinding-dinding tua dengan cahaya yang lembut.
Aroma kopi menyatu dengan udara,
menghangatkan rindu yang tak pernah benar-benar pergi.
Kenangan tak lagi meminta untuk diulang,
cukup menjadi teman dalam diam.
Di sini, aku belajar
bahwa berkah tak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia hadir sederhana,
matahari pagi, secangkir kopi,
dan hati yang menemukan kedamaian.
Lorong ini tetap sama,
Peunayong yang sama.
namun setiap pagi selalu mengajarkan
cara baru untuk bersyukur.
