Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Gaya Hidup / Perantauan Usai Lebaran di Jakarta Jadi Kisah Hangat dan Inspiratif di RRI Takengon

Perantauan Usai Lebaran di Jakarta Jadi Kisah Hangat dan Inspiratif di RRI Takengon

Minggu, 29 Maret 2026 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Suasana penuh makna dan kehangatan tersaji dalam program talk show Pro 1 RRI Takengon 93,0 FM, Jumat (27/3/2026) pukul 17.30 WIB. Dipandu dengan santai namun berbobot oleh moderator Fazri, siaran ini menghadirkan Sutrisno, S.Sos., M.A yang membagikan kisah perantauan usai Lebaran di Ibu Kota Jakarta sebuah cerita yang dekat dengan kehidupan banyak orang. [Foto: dok. RRI]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Suasana penuh makna dan kehangatan tersaji dalam program talk show Pro 1 RRI Takengon 93,0 FM, Jumat (27/3/2026) pukul 17.30 WIB. Dipandu dengan santai namun berbobot oleh moderator Fazri, siaran ini menghadirkan Sutrisno, S.Sos., M.A yang membagikan kisah perantauan usai Lebaran di Ibu Kota Jakarta sebuah cerita yang dekat dengan kehidupan banyak orang.

Dalam perbincangan yang mengalir hangat, Sutrisno mengajak pendengar menyelami nuansa Ramadan di Jakarta yang dinamis namun tetap sarat makna. Ia mengungkapkan, meski secara umum tidak jauh berbeda dengan daerah lain, Ramadan di Ibu Kota menghadirkan ujian kesabaran yang lebih terasa, terutama di tengah kemacetan yang kerap mengular menjelang waktu berbuka.

“Di Jakarta, Ramadan mengajarkan kita untuk benar-benar menata hati. Saat macet di sore hari, di situlah kesabaran diuji, sekaligus dilatih,” tuturnya dengan penuh refleksi.

Namun di balik hiruk-pikuk tersebut, tersimpan keindahan yang tak kalah mengesankan. Sutrisno menggambarkan tingginya toleransi antarumat beragama di Jakarta, di mana masyarakat saling menghormati mereka yang menjalankan ibadah puasa. Suasana ini menghadirkan harmoni yang menyejukkan di tengah padatnya kehidupan kota.

Keindahan Ramadan semakin terasa saat sore hari tiba. Deretan penjual takjil, aroma makanan khas berbuka, hingga momen buka puasa bersama di masjid menjadi pemandangan yang selalu dirindukan. Belum lagi semaraknya kajian Ramadan serta ibadah i’tikaf dan qiyamul lail di 10 malam terakhir yang diikuti jamaah dari berbagai kalangan, menciptakan suasana spiritual yang begitu syahdu.

Memasuki malam takbiran, Jakarta berubah menjadi lautan cahaya dan gema takbir. Sutrisno menggambarkan kemeriahan di Bundaran HI yang dipenuhi festival bedug, lantunan takbir, tahmid, dan tahlil yang menggema, menghadirkan rasa haru sekaligus rindu akan kampung halaman. Pawai obor LED, kendaraan hias khas Ibu Kota, hingga panggung hiburan dengan penampilan sanggar seni dan artis religi seperti Haddad Alwi semakin menambah semarak malam kemenangan.

Namun, keindahan itu seketika berubah menjadi ketenangan di hari pertama Idulfitri. Jakarta yang biasanya riuh mendadak lengang. Jalanan yang sebelumnya padat kini terasa lapang, menghadirkan suasana damai yang jarang ditemui di hari-hari biasa.

“Lebaran di Jakarta itu unik. Sunyi, tapi justru terasa hangat. Kita bisa menikmati kota dengan cara yang berbeda,” ungkap Sutrisno.

Ia juga menambahkan, kebijakan tarif Rp1 untuk MRT dan LRT menjadi kebahagiaan tersendiri bagi warga yang tetap berada di Jakarta, karena memudahkan mereka untuk bersilaturahmi tanpa beban biaya.

Bagi para perantau yang tidak mudik, Lebaran tetap menjadi momen istimewa. Kebersamaan dibangun melalui silaturahmi dengan tetangga, sesama perantau, hingga mengunjungi berbagai destinasi wisata di Jakarta sebagai cara sederhana mengobati rindu akan kampung halaman.

Melalui talk show ini, RRI Takengon tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga menghadirkan rasa bahwa di tengah gemerlap dan kesibukan Ibu Kota, nilai kebersamaan, toleransi, dan kekhusyukan ibadah tetap tumbuh dan memberi makna mendalam bagi setiap insan yang menjalaninya. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI