Minggu, 28 Juni 2026
Beranda / Gaya Hidup / Tak Sekedar Daur Ulang, Pemuda Aceh Ubah Jeans Bekas Jadi Produk Fesyen

Tak Sekedar Daur Ulang, Pemuda Aceh Ubah Jeans Bekas Jadi Produk Fesyen

Sabtu, 27 Juni 2026 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Pendiri Bumoe, Bunayya Ilhamullah sedang membuat sepatu berbahan limbah kain jeans di rumah produksi Bumoe, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (27/6/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Tumpukan celana jeans bekas yang bagi sebagian orang hanya dianggap sampah, justru menjadi sumber inspirasi bagi Bunayya Ilhamullah. 

Berbekal kreativitas, ketekunan, dan kepedulian terhadap lingkungan, pemuda asal Banda Aceh itu berhasil mengubah limbah tekstil menjadi berbagai produk fesyen bernilai ekonomi tinggi, mulai dari tas, dompet, sepatu hingga pakaian.

Di rumah produksi Bumoe yang berlokasi di Banda Aceh, Sabtu (27/6/2026), suara mesin jahit berpadu dengan tumpukan potongan kain jeans yang telah dipilah berdasarkan warna dan teksturnya. Satu per satu potongan kain tersebut dirangkai menjadi produk baru yang unik dengan karakter berbeda di setiap bagiannya.

Rumah produksi Bumoe kini mampu menghasilkan sekitar 100 produk setiap bulan, dengan harga jual mulai dari Rp25 ribu hingga Rp500 ribu per produk. Selain memberikan nilai tambah ekonomi, usaha tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengurangi limbah tekstil yang selama ini terus meningkat.

Pendiri Bumoe, Bunayya Ilhamullah, menceritakan bahwa usaha tersebut bermula dari program kewirausahaan mahasiswa yang diikutinya pada awal 2025. Saat itu, ia masih berstatus mahasiswa dan mengikuti program pengembangan usaha kampus.

"Awalnya ini sebenarnya usaha kelompok. Kami bertiga dalam satu tim, dua dari Fakultas Ekonomi dan saya dari Seni. Tapi dalam perjalanan, saya memutuskan untuk melanjutkan usaha ini sendiri," kata Bunayya kepada media dialeksis.com, Sabtu (27/6/2026).

Latar belakang pendidikan seni yang dimilikinya menjadi modal penting dalam merancang setiap produk. Ia mengaku lebih tertarik menghadirkan karya yang memiliki nilai artistik dibanding sekadar memproduksi barang dalam jumlah besar.

"Karena saya dari seni, saya ingin setiap produk punya ciri khas. Jadi setiap potongan jeans memiliki cerita sendiri. Tidak semuanya sama," ujarnya.

Keunikan itulah yang membuat sebagian produknya mengusung konsep one of one, yakni hanya dibuat satu-satunya sehingga tidak ada produk lain yang benar-benar serupa.

Selain memanfaatkan limbah jeans, Bunayya juga mulai menjalin kolaborasi dengan berbagai komunitas kreatif, termasuk band-band independen di Aceh. Salah satu konsep yang sedang disiapkan adalah membuat kaos dengan tambahan panel jeans bekas yang dihiasi nama band, judul lagu hingga penggalan lirik.

"Nanti konsepnya tetap kaos biasa, tapi ada sentuhan jeans bekas di bagian belakang. Di situ akan ada identitas band, judul lagu dan lirik mereka. Jadi produknya lebih eksklusif," jelasnya.

Menurut Bunayya, produk yang paling banyak diminati sejauh ini adalah pakaian berbahan jeans daur ulang. Sementara dompet, tas dan sepatu lebih banyak diproduksi secara terbatas karena proses pengerjaannya membutuhkan ketelitian lebih tinggi.

"Hampir semua produk dibuat manual. Jadi memang membutuhkan waktu lebih lama, apalagi kalau sepatu atau dompet karena harus presisi," katanya.

Harga setiap produk pun bervariasi sesuai tingkat kesulitan. Dompet dibanderol mulai puluhan ribu rupiah, sedangkan tas dan sepatu bisa mencapai Rp500 ribu.

Selain menjual produk jadi, Bumoe juga menerima pesanan khusus atau custom. Masyarakat dapat membawa sendiri celana atau jaket jeans lama yang sudah tidak digunakan untuk diubah menjadi produk baru sesuai keinginan.

"Kami memang ingin orang jangan langsung membuang pakaian jeans yang sudah tidak dipakai. Kalau masih ada bahannya, bisa dibawa ke sini dan kami ubah menjadi barang baru," ujarnya.

Bunayya mengatakan konsep tersebut sekaligus mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

"Daripada jadi sampah, lebih baik dipakai lagi dalam bentuk yang berbeda. Nilainya juga jadi lebih tinggi," katanya.

Untuk mendapatkan bahan baku, Bumoe tidak hanya membeli jeans bekas dari masyarakat, tetapi juga menerima donasi. Meski ada yang menghibahkan, Bunayya tetap berusaha memberikan pembayaran sebagai bentuk penghargaan kepada pemilik barang.

"Harganya berbeda-beda. Kalau jeans anak sekitar Rp25 ribu, sedangkan ukuran dewasa bisa Rp50 ribu. Kami juga bekerja sama dengan beberapa tempat usaha. Bahkan ada yang membayar minuman menggunakan celana jeans bekas," ujarnya sambil tersenyum.

Skema tersebut dinilai saling menguntungkan. Mitra usaha memperoleh bahan baku daur ulang, sementara Bumoe mendapatkan pasokan jeans yang terus berkelanjutan.

Pemasaran produk dilakukan melalui berbagai jalur. Secara offline, Bumoe telah bekerja sama dengan sejumlah gerai oleh-oleh dan toko kreatif di Banda Aceh. Sementara penjualan daring dilakukan melalui Shopee, TikTok Shop serta media sosial.

"Kami juga sedang menyiapkan pemasaran ke platform internasional supaya produk dari Aceh bisa dikenal lebih luas," kata Bunayya.

Sejauh ini, pesanan terjauh telah dikirim ke Bandung. Produk yang paling banyak diminati pelanggan luar daerah adalah dompet dan sepatu berbahan jeans daur ulang.

"Alhamdulillah sudah ada yang pesan dari Bandung. Yang paling banyak dibeli itu dompet sama sepatu," ujarnya.

Meski permintaan mulai meningkat, Bunayya mengaku masih menjalankan hampir seluruh proses produksi seorang diri. Mulai dari memilah bahan, membuat pola, memotong kain hingga menjahit dilakukan secara mandiri.

Pendiri Bumoe, Bunayya Ilhamullah sedang membuat sepatu berbahan limbah kain jeans di rumah produksi Bumoe, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (27/6/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]

Ia berharap ke depan dapat memperluas rumah produksi dan membuka kesempatan bagi anak-anak muda Aceh untuk bergabung mengembangkan industri kreatif berbasis daur ulang.

"Sekarang memang masih sendiri. Mudah-mudahan nanti bisa berkembang, punya tempat yang lebih besar dan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk teman-teman yang punya minat di bidang ini," katanya.

Dengan kreativitas dan kemauan untuk berinovasi, potongan-potongan jeans bekas dapat disulap menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi, estetika, sekaligus membawa pesan penting tentang pelestarian lingkungan.

"Harapan saya sederhana. Semoga semakin banyak orang yang sadar bahwa barang bekas masih bisa dimanfaatkan. Kalau kita mau berkreasi, limbah pun bisa menjadi sesuatu yang bernilai," tutup Bunayya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes