Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Haba Ramadan / Ketika Puasa Menjadi Jalan Keluar dari Krisis

Ketika Puasa Menjadi Jalan Keluar dari Krisis

Senin, 09 Maret 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Guru Besar Filsafat Islam, Prof. Dr. Drs. H. Syamsul Rijal, M.Ag. Foto: for Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Aceh - Di tengah krisis kemanusiaan dan tekanan ekonomi pasca bencana banjir serta dinamika global yang ikut memengaruhi stabilitas ekonomi masyarakat, ibadah puasa dinilai memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar ritual menahan lapar dan dahaga.

Guru Besar Filsafat Islam, Prof. Dr. Drs. H. Syamsul Rijal, M.Ag, menilai Ramadhan seharusnya dipahami sebagai ruang transformasi pengetahuan yang mampu membentuk cara berpikir dan bertindak masyarakat dalam menghadapi krisis.

Menurutnya, proses pemulihan pasca bencana tidak hanya membutuhkan bantuan fisik dan ekonomi, tetapi juga fondasi moral dan sosial yang kuat. Hal ini menjadi semakin penting ketika masyarakat juga harus menghadapi tekanan ekonomi global yang dipicu konflik internasional serta berbagai gangguan sosial di tingkat lokal.

“Dalam konteks pemulihan pasca banjir misalnya, kita tidak hanya berbicara tentang rekonstruksi infrastruktur, tetapi juga rekonstruksi kesadaran sosial. Ramadhan memberikan ruang bagi lahirnya empati, solidaritas, dan kepercayaan sosial yang menjadi fondasi penting bagi pemulihan masyarakat,” ujar Syamsul Rijal kepada Dialeksis saat dihubungi, Senin (9/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa puasa dapat dipahami sebagai sebuah sistem pengetahuan yang memiliki tahapan yang jelas.

Pertama adalah input, yaitu perintah Allah yang hadir melalui teks-teks keagamaan yang rasional dan dapat dipahami manusia.

Tahap kedua adalah proses, yakni latihan disiplin total yang tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga mental, sosial, bahkan etika digital dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya adalah output, yaitu lahirnya takwa sebagai kesadaran normatif yang stabil dalam diri manusia. Kesadaran ini bukan sekadar emosi sesaat, melainkan sikap hidup yang membentuk perilaku sosial.

Adapun outcome dari proses tersebut adalah terciptanya kepercayaan sosial, empati, dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat.

“Puasa mengajarkan manusia mengenal Tuhan melalui tindakan menahan diri. Di situlah latihan moral terjadi. Ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya, ia juga akan lebih mampu mengendalikan cara ia memperlakukan orang lain,” jelasnya.

Syamsul menegaskan, jika Ramadhan hanya dipahami sebatas menahan lapar dan dahaga, maka ia hanya menjadi ritual biologis. Namun ketika puasa melahirkan kendali diri, empati sosial, serta kelapangan hati terhadap perbedaan, maka Ramadhan telah menjadi transformasi ontologis, yaitu perubahan pada cara manusia menjalani keberadaannya di dunia.

Ia juga menyoroti berbagai persoalan sosial yang muncul dalam masa krisis, seperti tekanan ekonomi bagi penyintas bencana, munculnya praktik public bullying, hingga ancaman terhadap relawan kemanusiaan yang bekerja membantu masyarakat terdampak.

Menurutnya, nilai-nilai yang dibangun melalui puasa dapat menjadi problem solver bagi berbagai persoalan tersebut.

“Puasa melatih manusia untuk menahan ego, menumbuhkan empati, dan membangun kesadaran kolektif. Jika nilai ini benar-benar hidup di masyarakat, maka potensi konflik sosial, intimidasi terhadap relawan, hingga perundungan publik dapat ditekan,” katanya.

Selain itu, ia menilai pemerintah juga perlu menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada penyintas bencana melalui insentif ekonomi, dukungan terhadap usaha kecil, serta program pemulihan sosial yang memperkuat solidaritas masyarakat.

Bagi Syamsul Rijal, Ramadhan pada akhirnya bukan hanya tentang ibadah individual, tetapi juga tentang membangun arsitektur sosial yang lebih beradab.

“Ketika puasa melahirkan kepercayaan sosial, empati, dan kedamaian, maka di situlah Ramadhan menjadi energi pemulihan bagi masyarakat. Ia tidak hanya memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memperbaiki hubungan manusia dengan sesamanya,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI