DIALEKSIS.COM | Jakarta - Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya membuka peluang besar bagi peningkatan produktivitas dan efisiensi, tetapi juga memunculkan ancaman siber yang semakin kompleks.
Penyebaran disinformasi, konten deepfake, penipuan digital, hingga serangan siber berbasis AI menjadi tantangan baru yang perlu diantisipasi oleh masyarakat dan pemerintah.
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Alexander Sabar, mengatakan ruang digital kini telah menjadi ruang publik utama masyarakat Indonesia. Karena itu, berbagai ancaman yang muncul di dalamnya memiliki dampak yang semakin luas terhadap kehidupan sosial, ekonomi, hingga keamanan nasional.
"Jika pada abad ke-20 ruang publik utama ada di alun-alun dan ruang fisik lainnya, maka pada abad ke-21 ruang publik terbesar di Indonesia ada pada ruang digital," ujar Alexander yang dilansir pada Kamis (11/6/2026).
Menurut Alexander, teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan berbagai aktivitas manusia. Namun, teknologi yang sama juga dapat digunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk memanipulasi informasi, menjalankan penipuan digital, serta memperkuat pola serangan siber yang semakin sulit dideteksi.
Ia menegaskan bahwa keamanan digital tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kesiapan manusia dan tata kelola yang diterapkan. Karena itu, diperlukan keseimbangan antara tiga fondasi utama keamanan siber, yakni manusia (people), tata kelola (process), dan teknologi (technology).
"Insiden keamanan siber terjadi bukan karena lemahnya teknologi tapi karena manusia. Teknologi hanya alat, efektivitas ditentukan oleh manusia dan tata kelolanya," kata Alexander.
Menurut dia, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor penting untuk menghadapi ancaman siber yang terus berkembang. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat adalah membiasakan diri memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya guna mencegah meluasnya disinformasi.
"Verifikasi sebelum amplifikasi," ujarnya.
Karena itu, penguatan literasi digital, etika penggunaan AI, dan kesadaran keamanan siber dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi berbagai risiko yang muncul seiring pesatnya perkembangan teknologi. Dengan kesiapan masyarakat yang lebih baik, manfaat AI dapat dioptimalkan tanpa mengabaikan ancaman yang menyertainya. [*]