Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Kolom / Growth Mindset: Ketika Tak Semua Ruang Dapat Bertumbuh?

Growth Mindset: Ketika Tak Semua Ruang Dapat Bertumbuh?

Kamis, 07 Mei 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Muhammad Fawazul Alwi

Muhammad Fawazul Alwi, Ketua PD Gerakan Pemuda Al Washliyah Aceh Barat & Sekretaris KPRM Universitas Teuku Umar. [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Kolom - Dalam diskursus pengembangan sumber daya manusia, kita sering terjebak pada dikotomi antara bakat bawaan dan garis tangan. Namun, jika kita membedah melalui teori Growth Mindset yang digagas Carol Dweck, yang sejatinya esensi pertumbuhan manusia terletak pada keyakinan bahwa kapasitas intelektual dan mental bukanlah sebuah entitas statis.

Sebagai pemuda yang bergerak di akar rumput maupun akademisi, kita harus menyadari bahwa tantangan terbesar bukanlah keterbatasan kemampuan, melainkan "pot" atau lingkungan yang mencoba mengerdilkan daya pikir.

Ketika sebuah ekosistem justru memelihara monopoli kekuasaan dan menutup pintu bagi inovasi, maka di sanalah terjadi pembusukan potensi. Seseorang yang memiliki pola pikir bertumbuh akan melihat gunjingan dan hambatan internal bukan sebagai akhir, melainkan sebagai umpan balik untuk mencari "tanah lapang" yang lebih luas guna mengaktualisasikan visi besarnya.

Selaras dengan hal tersebut, filsafat humanistik memberi penekanan bahwa setiap individu memiliki dorongan kodrati menuju aktualisasi diri. Manusia bukanlah objek yang bisa dimanipulasi oleh kepentingan kelompok tertentu atau dibatasi oleh kacamata kuda para pemegang otoritas lokal yang minim literasi.

Dalam perspektif humanisme, kehormatan seorang visioner tidak terletak pada pengakuan dari lingkungan yang terbelenggu ego kekuasaan, melainkan pada integritasnya untuk terus belajar dan berbaur dengan semua kalangan.

Ironi yang sering terjadi saat ini adalah ketika lingkungan internal gagal menghargai aset pemikirnya sendiri karena ketakutan akan perubahan atau mengganggu status quo, namun dunia luar justru menyambutnya sebagai oase bagi kemajuan, bahkan dihargainya seperti "emas".

Oleh karena itu, bagi para penggerak organisasi, berpindah atau memperluas jangkauan bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap rumah sendiri, melainkan sebuah keharusan filosofis agar cahaya pemikiran tidak padam dalam ruang yang sempit.

Sebelum saya menulis opini ini, saya merenungi quotes yang saya dapatkan di media sosial yang bunyinya: "Sebuah benih pohon raksasa tidak akan pernah bisa tumbuh besar jika ia dipaksakan hidup di dalam pot yang kecil. Ia harus membiarkan akarnya menembus batas, atau berpindah ke tanah lapang di mana langit tidak lagi memiliki batas."

Bagi saya, quotes itu meyakinkan kita akan tentang keberanian. Ketika sebuah ruang tak lagi memungkinkan untuk bertumbuh, maka tugas kita bukan mengerdilkan diri agar muat di dalamnya, melainkan mencari tanah yang lebih lapang untuk memastikan bahwa potensi yang dititipkan Tuhan tidak mati sia-sia dalam kungkungan struktur yang tak lagi menghargai kebenaran dan ilmu pengetahuan. [**]

Penulis: Muhammad Fawazul Alwi (Ketua PD Gerakan Pemuda Al Washliyah Aceh Barat & Sekretaris KPRM Universitas Teuku Umar)

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI