DIALEKSIS.COM | Kolom - Di dataran tinggi Gayo, nama Teungku Haji Ilyas Leube tidak hanya dikenang sebagai seorang ulama dan bangsawan Linge. Ia adalah figur yang mempertemukan identitas Gayo, keulamaan, kepemimpinan tradisional, dan perjuangan politik Aceh dalam satu perjalanan hidup.
Pada 26 April 1976 di Takengon, Gayo Lut, Teungku Ilyas Leube pernah menjelaskan sejarah Gayo dengan bahasa Gayo. Dalam pidatonya, ia menyebut bahwa sejarah Gayo dengan mengenal dua kerajaan penting: Kerajaan Linge dan Kerajaan Malik Ishak.
Bagi saya, pernyataan tersebut penting dibaca bukan sekadar sebagai penjelasan sejarah lokal, melainkan sebagai cermin kesadaran sejarah seorang tokoh yang memahami bahwa Gayo memiliki akar sejarah, pemerintahan, dan identitasnya sendiri dalam perjalanan panjang Aceh.
Teungku Ilyas Leube lahir di Kenawat, Aceh Tengah, 20 Januari 1920. Riwayat pendidikannya menunjukkan bahwa Ilyas Leube tidak tumbuh hanya dalam lingkungan tradisional Gayo. Ia menimba ilmu di Bireuen dan dikenal memiliki kemampuan dalam ilmu agama. Di sana ia berinteraksi dengan sejumlah tokoh dan ulama, termasuk Daud Beureueh.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan Ilmu Hukum ke Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Persahabatannya dengan Teungku Hasan M. di Tiro juga telah terjalin sejak masa pendidikan di Pulau Jawa pada dekade 1940-an
Dalam The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro (1984), Hasan di Tiro memberikan kesaksian yang sangat kuat tentang Ilyas Leube. Ia bukan hanya seorang orator yang mampu memikat pendengar berjam-jam, tetapi juga seorang pelaku sejarah dan revolusioner sejati. Menurut Hasan di Tiro, Ilyas Leube telah mengalami kesulitan dan perjuangan bersamanya sejak awal perjuangan Aceh Merdeka.
Di sinilah posisi Ilyas Leube menjadi penting dalam sejarah Aceh Merdeka. Ia tidak sekadar berbicara tentang Aceh, tetapi mengambil posisi sebagai pelaku perjuangan. Pengalaman sebagai ulama, tokoh masyarakat, sekaligus Reje Linge memberinya legitimasi sosial yang kuat. Ia membawa suara masyarakat Gayo ke dalam perjuangan politik Aceh yang lebih luas.
Ketika perjuangan Aceh Merdeka memasuki fase bersenjata, Ilyas Leube dipercaya menduduki posisi penting dalam pemerintahan perjuangan. Ia menjadi Menteri Kehakiman sekaligus Wakil Perdana Menteri Aceh Merdeka, dan dikenal sebagai salah satu orator paling kuat dalam barisan perjuangan.
Namun, kekuatan Ilyas Leube bukan hanya terletak pada jabatan dan kemampuan berpidato. Kesaksian dr. Husaini M. Hasan dalam bukunya Dari Rimba Aceh ke Stockholm (2015) memperlihatkan sisi lain dari dirinya: seorang pemimpin yang mampu menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang para syuhada Aceh.
Dalam sebuah pelantikan kabinet Aceh Merdeka di Lhok Nilam Cokkan, setelah para menteri disumpah oleh Wali Negara Teungku Hasan M. di Tiro, Ilyas Leube menyampaikan pidatonya dalam bahasa Aceh. Ia mengingatkan kembali para pejuang yang telah gugur, antara lain Teungku Chik di Samar Kilang, Teungku Chik di Cot Cicem, Teungku di Barat, dan para syuhada lainnya.
Kemudian ia membacakan Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 154 tentang orang-orang yang syahid di jalan Allah yang pada hakikatnya hidup di sisi-Nya. Pidato itu, sebagaimana dikenang Husaini M. Hasan, menciptakan suasana hening dan menggugah perasaan para pejuang yang hadir.
Menariknya, Ilyas Leube juga menunjukkan bahwa identitas Gayo dan Aceh tidak harus dipertentangkan. Ia membawa identitasnya sebagai Reje Linge XIX dari dataran tinggi Gayo, tetapi pada saat yang sama mengambil bagian dalam perjuangan politik Aceh sebagai Menteri Kehakiman dan Wakil Perdsna Menteri Aceh Merdeka 1976-1980 serta sebagai Perdana Menteri Aceh Merdeka kedua 1980-1982 menggantikan dr. Muchtar Yahya Hasbi, DTM&H yang syahid dalam pertempuran di Aceh Tamiang 15 Agustus 1980.
Aceh Merdeka bagi Reje Linge-Gayo XIX
Ilyas Leube membawa identitas Linge dan sebagai Reje Linge XIX ke dalam perjuangan Aceh yang lebih luas. Posisi tersebut menarik secara historis, sebab ia tidak meninggalkan identitas Gayo ketika memilih bersama perjuangan Aceh Merdeka. Justru, identitas Linge menjadi bagian dari legitimasi sosial dan historisnya.
Sejarawan dan peneliti konflik Aceh melihat Ilyas Leube sebagai salah satu tokoh penting yang memiliki pengalaman politik dan militer sebelum lahirnya Aceh Merdeka. Ia pernah menjadi pemimpin pasukan yang mendampingi Daud Beureueh turun dari rimba pada 1962. Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal penting ketika ia bergabung dalam perjuangan yang dipimpin Hasan di Tiro tahun 1976.
Syahid di Jeunieb: Akhir Perjalanan Reje Linge XIX
Perjalanan panjang Teungku Haji Ilyas Leube akhirnya berujung di wilayah Jeunieb, Kabupaten Bireuen. Setelah bertahun-tahun bergerak dari satu tempat ke tempat lain dalam perjuangan, Reje Linge XIX itu memilih tetap berada di rimba bersama para pengikutnya.
Pada 16 April 1982, Ilyas Leube syahid bersama Gubernur Aceh Merdeka wilayah Batee Iliek Tgk. Idris Ahmad dalam sebuah pertempuran dengan RPKAD (Kopassus TNI AD) di wilayah Jeunieb, Bireun. Keterangan tersebut disampaikan Wali Nanggroe Aceh PYM Tgk. Malik Mahmud Al-Haytar ketika menganugerahkan gelar kehormatan Sri Alam kepada almarhum pada 2021.
Penghormatan itu memperlihatkan bahwa jejak Ilyas Leube tidak berhenti ketika ia gugur. Ia tetap hadir dalam memori sejarah Aceh sebagai Reje Linge XIX, ulama, orator, dan pejuang Aceh Merdeka dari Linge-Gayo.
Namun, syahidnya Ilyas Leube tidak dapat dipahami hanya sebagai berakhirnya kehidupan seorang pejuang. Ia telah melewati tiga zaman perjuangan: menghadapi penjajahan, terlibat dalam perjuangan DI/TII, dan kemudian bergabung dalam perjuangan Aceh Merdeka bersama Teungku Hasan M. di Tiro. Dalam struktur Aceh Merdeka, ia dipercaya sebagai Menteri Kehakiman dan kemudian menjadi Perdana Menteri kedua pada 1980–1982.
Bagi saya, Jeunieb menjadi titik terakhir perjalanan seorang Raja dari Linge yang membawa identitas Gayo ke dalam sejarah perjuangan Aceh. Ia gugur bukan sebagai tokoh yang hanya hidup dalam pidato, tetapi sebagai seseorang yang memilih mempertanggungjawabkan keyakinannya hingga akhir hayat.
Karena itu, warisan Ilyas Leube tidak berhenti pada tanggal gugurnya sang pejuang. Ia meninggalkan pertanyaan sejarah kepada generasi sesudahnya: apa arti perjuangan, ketika sebuah keyakinan harus dibayar dengan pengorbanan hidup?.
Pada akhirnya, membaca Ilyas Leube berarti membaca lebih jauh daripada sekadar kisah seorang tokoh. Ia adalah gambaran bagaimana sejarah Gayo, Islam, kepemimpinan tradisional, dan perjuangan Aceh bertemu dalam diri seorang manusia.
Ilyas Leube telah pergi, tetapi sejarah tidak pernah benar-benar kehilangan orang-orang yang hidupnya dipersembahkan untuk keyakinan yang mereka perjuangkan.
Ditulis dengan perspektif sejarah dan analisis penulis, berdasarkan kesaksian Teungku Hasan M. di Tiro, dr. Husaini M. Hasan, serta pidato Teungku Haji Ilyas Leube. [**]
Penulis: Teuku Avicenna Al Maududdy, M.Hum (Dosen Tetap Prodi Pengembangan Masyarakat Islam, Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI), Kab. Bireun, Aceh)

