Minggu, 31 Mei 2026
Beranda / Berita / Nasional / Deteksi Dini Gangguan Mental Anak Penting, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Awal

Deteksi Dini Gangguan Mental Anak Penting, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Awal

Sabtu, 30 Mei 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Ilustrasi gangguan kesehatan mental. Kemampuan mendeteksi dini gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah masalah psikologis berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. [Foto: Freepik]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kemampuan mendeteksi dini gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah masalah psikologis berkembang menjadi kondisi yang lebih berat, termasuk psikosis akibat skizofrenia.

Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Titi Eko Rahayu, mengatakan orang tua, keluarga, dan guru perlu memahami tanda-tanda awal gangguan mental yang kerap muncul melalui perubahan perilaku sehari-hari.

Menurut Titi, gejala yang perlu diwaspadai antara lain penurunan motivasi belajar, perubahan emosi yang drastis, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga kesulitan berkonsentrasi. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti perundungan, kekerasan, tekanan akademik, maupun persoalan pengasuhan.

"Deteksi dini dapat dilakukan dengan mengenali perubahan perilaku secara cepat serta membangun komunikasi yang aman, suportif, dan tidak menghakimi," kata Titi.

Senada, Ketua Tim Kerja Deteksi Dini dan Pencegahan Masalah Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan, Yunita Arihandayani, menegaskan deteksi dini merupakan kunci untuk mencegah gangguan psikososial berkembang menjadi masalah kesehatan jiwa yang lebih serius. 

"Karena itu, skrining kesehatan jiwa di sekolah perlu diperkuat bersamaan dengan meningkatnya kepekaan lingkungan sekitar anak," ucapnya.

Psikiater Shelly Iskandar mengingatkan anak yang tiba-tiba menjadi pendiam, mudah marah, kehilangan minat belajar, atau menjauh dari pergaulan membutuhkan perhatian lebih. Sementara Psikolog Klinis Raden Roro Rahajeng Ika Wahyu Indrawati menilai anak perlu memiliki ruang aman untuk bercerita agar pendampingan dapat diberikan lebih cepat dan tepat. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI