DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul peningkatan titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) hingga Senin (5/10/2026) pukul 21.15 WIB, terdeteksi 1.359 hotspot high confidence secara nasional. Angka ini meningkat 832 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 527 titik.
Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 569 titik, naik tajam dari 116 titik. Selanjutnya, Sumatera Selatan mencatat 142 titik, Kalimantan Barat 69 titik, Kalimantan Selatan 28 titik, Riau 4 titik, sedangkan Jambi nihil.
Dari enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, total tercatat 812 hotspot, meningkat dari 225 titik pada Minggu (4/10/2026). Kemenhut meningkatkan pemantauan dan verifikasi lapangan, terutama di Kalimantan Tengah.
Kemenhut mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan jumlah kejadian kebakaran atau luas lahan terbakar. Setiap indikasi harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi di lapangan.
Pengendalian dilakukan melalui operasi darat dan udara bersama Manggala Agni, BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak terkait. Pemerintah menyiagakan 61 armada udara, terdiri dari 44 unit untuk water bombing serta 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Perhatian juga diberikan terhadap lahan gambut karena bara api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan. Pemerintah turut memantau kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2,5 dan mengimbau masyarakat di wilayah terdampak mengikuti informasi kualitas udara serta mengurangi aktivitas luar ruangan jika kondisi memburuk. [*]