Rabu, 09 September 2026
Beranda / Berita / Nasional / Kemendikdasmen Buka Beasiswa S1 dan D4 bagi 32.828 Guru pada 2026

Kemendikdasmen Buka Beasiswa S1 dan D4 bagi 32.828 Guru pada 2026

Rabu, 09 September 2026 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

 Sebanyak 32.828 guru mendapat kesempatan meningkatkan kualifikasi akademik ke jenjang Sarjana (S-1) atau Diploma Empat (D-4) pada 2026. Program yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini menjadi salah satu upaya memperluas akses pendidikan tinggi bagi guru. Foto: Dok Kemendikdasmen 


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Sebanyak 32.828 guru mendapat kesempatan meningkatkan kualifikasi akademik ke jenjang Sarjana (S-1) atau Diploma Empat (D-4) pada 2026. Program yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini menjadi salah satu upaya memperluas akses pendidikan tinggi bagi guru, terutama mereka yang selama ini menghadapi keterbatasan untuk melanjutkan studi.

Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik S-1/D-4 Guru tersebut dilaksanakan Kemendikdasmen melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) dengan menggandeng 127 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di berbagai daerah.

Pada Gelombang 3 tahun 2026, tercatat 45.660 guru mendaftar, sementara 32.828 guru difasilitasi untuk mengikuti program. Dari jumlah tersebut, 25.936 merupakan guru dan pendidik PAUD, 3.278 guru SD, 3.391 guru mata pelajaran jenjang SMP, SMA, dan SMK, serta 223 guru SLB. Kemitraan tersebut diperkuat melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik S-1/D-4 Guru Gelombang 3 di Jakarta, Senin (7/9/2026).

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, mengatakan peningkatan kualifikasi guru tidak boleh berhenti karena kendala akses terhadap perguruan tinggi. Karena itu, pemerintah membuka kesempatan bagi guru untuk melanjutkan pendidikan dengan skema yang tetap memungkinkan mereka menjalankan tugas di sekolah.

“Kualifikasi bukanlah mimpi. Bapak Presiden Prabowo dan Bapak Mendikdasmen membuka kesempatan bagi guru-guru yang memiliki keterbatasan untuk bisa belajar di perguruan tinggi,” ujar Nunuk.

Menurut dia, skema pembelajaran yang disiapkan bersama LPTK dirancang fleksibel agar guru tidak harus meninggalkan sekolah dan murid selama menempuh pendidikan. Dengan pola tersebut, peningkatan kualifikasi akademik tidak diposisikan sebagai pilihan antara kuliah atau mengajar. Guru tetap dapat menjalankan tanggung jawabnya di sekolah sekaligus memperoleh kesempatan meningkatkan kapasitas akademik.

“Bangsa yang maju ditentukan oleh seberapa baik kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, pendidikan merupakan kunci penting dalam membangun manusia Indonesia, terutama ditentukan dengan kualitas gurunya,” kata Nunuk.

Menurut Nunuk, keterlibatan perguruan tinggi menjadi bagian penting dari upaya mempercepat pemenuhan kualifikasi akademik guru. Dari 127 LPTK yang terlibat tahun ini, 35 LPTK merupakan mitra yang baru bergabung dalam program. Kolaborasi tersebut dinilai menunjukkan bahwa peningkatan kualitas guru membutuhkan gotong royong antara pemerintah dan perguruan tinggi.

“Perjanjian kerja sama yang dilakukan bersama Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan merupakan salah satu bentuk gotong royong dalam memajukan pendidikan. Dengan semangat kolaboratif dan bersinergi, bergerak bersama memajukan pendidikan melalui peningkatan kualitas guru,” tutur Nunuk.

Besarnya jumlah pendaftar juga menunjukkan masih tingginya kebutuhan guru terhadap akses peningkatan kualifikasi akademik. Dari 45.660 pendaftar Gelombang 3, sebanyak 32.828 guru mendapat fasilitasi untuk mengikuti program.

Program ini juga memiliki konsekuensi lebih jauh. Kualifikasi S-1/D-4 menjadi salah satu pintu bagi guru untuk melanjutkan ke Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi Guru Tertentu dan memperoleh sertifikasi pendidik sesuai ketentuan. Pada 2026, sebanyak 8.900 guru ditargetkan menyelesaikan Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik Gelombang 1 melalui skema afirmasi, untuk kemudian melanjutkan ke program PPG.

Namun, Nunuk menegaskan keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah guru yang memperoleh ijazah. “Program ini bukan hanya memenuhi tuntutan regulasi, tetapi lebih jauh mendukung upaya dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Tak hanya kualifikasi yang terpenuhi, namun juga meningkatnya kompetensi guru dalam melaksanakan proses belajar dan mengajar di kelas,” ujarnya.

Dengan demikian, peningkatan kualifikasi akademik diarahkan untuk menghasilkan dampak yang lebih nyata di ruang kelas. Guru yang memperoleh kesempatan kuliah diharapkan tidak hanya memenuhi persyaratan formal, tetapi juga membawa pengetahuan dan kompetensi baru ke dalam proses pembelajaran.

Direktur Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal, Saiful Bari, mengatakan dukungan terhadap program tersebut penting karena masih terdapat kesenjangan kualifikasi akademik guru.

Berdasarkan data Dapodik, tercatat 174.520 guru belum memenuhi kualifikasi akademik S-1/D-4. Sebagian besar di antaranya berasal dari kelompok guru PAUD dan SD. 

“Artinya, ratusan ribu anak didik kita masih belajar bersama guru yang perlu kita dukung untuk meningkatkan kompetensinya,” kata Saiful.

Karena itu, menurut dia, dukungan 127 LPTK dalam program tersebut bukan sekadar kerja sama kelembagaan. Kolaborasi itu menjadi bagian dari upaya memperluas akses peningkatan kualifikasi guru sekaligus memperbaiki kualitas layanan pendidikan yang diterima peserta didik.

“Apresiasi yang setinggi-tingginya kami sampaikan kepada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penyelenggara Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik S-1/D-4 Guru atas dukungan dan kerja samanya. Kehadiran Ibu/Bapak hari ini menunjukkan komitmen kita bersama untuk menghadirkan pendidikan bermutu bagi semua anak Indonesia,” ujar Saiful.

Dengan masih adanya 174.520 guru yang belum memenuhi kualifikasi S-1/D-4, program tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidik masih menjadi pekerjaan besar. Tantangannya bukan hanya membuka akses kuliah, tetapi memastikan semakin banyak guru dapat menyelesaikan pendidikan dan mengubah peningkatan kualifikasi tersebut menjadi kualitas pembelajaran yang benar-benar dirasakan murid.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI