Sabtu, 05 September 2026
Beranda / Berita / Nasional / Kemenkes Ungkap Tanda Gangguan Mental yang Perlu Diwaspadai, Jangan Tunggu Krisis

Kemenkes Ungkap Tanda Gangguan Mental yang Perlu Diwaspadai, Jangan Tunggu Krisis

Sabtu, 05 September 2026 11:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Ilustrasi krisis kesehatan mental [Foto: Kementerian Kesehatan]




DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental dengan mengenali tanda-tanda gangguan jiwa sejak dini. Masalah kesehatan mental dapat dialami siapa saja dan kerap tidak terlihat secara fisik.

Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, banyak orang tampak sehat secara fisik, tetapi sebenarnya tengah mengalami masalah kesehatan mental.

"Orang sebenarnya kelihatan sehat, tetapi kalau kita evaluasi, dia punya masalah. Tidak kelihatan secara fisik, tetapi secara mental dia punya masalah," ujar Dante.

Menurut Dante, masyarakat perlu lebih peka terhadap perubahan kondisi orang di sekitarnya dan tidak menunggu hingga masalah berkembang menjadi krisis. Ia menyebut empat langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu, yakni Tanya, Dengarkan, Temani, dan Hubungkan.

Masyarakat dapat menanyakan kondisi seseorang yang terlihat mengalami perubahan, mendengarkan tanpa menghakimi, menemani agar tidak merasa sendirian, serta membantu menghubungkannya dengan keluarga atau tenaga profesional bila diperlukan.

Kemenkes juga mengingatkan sejumlah perubahan yang perlu diperhatikan, terutama jika berlangsung konsisten lebih dari dua minggu. Di antaranya gangguan pola tidur, mudah lelah, perubahan berat badan, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan, sulit berkonsentrasi, serta perubahan pola bicara dan aktivitas.

"Jangan tunggu sampai krisis. Gejala yang muncul sejak awal harus ditangani agar tidak berkembang menjadi krisis," tegasnya.

Secara global, sekitar satu dari tujuh orang hidup dengan gangguan kejiwaan. Di Indonesia, upaya deteksi dini terus diperkuat melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Dari pelaksanaan CKG, sekitar 35 ribu anak atau 1,08 persen teridentifikasi mengalami gangguan jiwa. Sementara pada kelompok dewasa, sekitar 186 ribu orang ditemukan mengalami depresi dan kecemasan.

Skrining kesehatan mental juga dapat dilakukan secara mandiri melalui SATUSEHAT menggunakan kuesioner Self Reporting Questionnaire (SRQ-20). Hasil skrining dapat menjadi langkah awal untuk mengetahui kondisi kesehatan mental dan menentukan kebutuhan konsultasi lebih lanjut.

Bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan, Kemenkes menyediakan layanan Healing119 secara gratis melalui 119 ekstensi 8. Layanan tersebut memberikan dukungan psikologis dan membantu menghubungkan masyarakat dengan pertolongan yang sesuai. [red]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
pema - damai
dishub