DIALEKSIS.COM | Jakarta - PT PLN Indonesia Power (PLN IP) menguji penggunaan hidrogen dan amonia sebagai campuran bahan bakar pembangkit listrik. Langkah ini diarahkan untuk mengurangi konsumsi gas alam dan batu bara sekaligus menekan emisi karbon.
Pengujian hidrogen dilakukan di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Gas (PLTDG) Pesanggaran, Bali, sedangkan amonia diuji di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuan, Banten. Melalui teknologi co-firing, kedua bahan tersebut digunakan untuk menggantikan sebagian bahan bakar fosil.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, mengatakan pengembangan bahan bakar alternatif harus berjalan seiring dengan upaya menjaga keandalan pasokan listrik.
“Transisi energi membutuhkan inovasi yang dapat diterapkan secara bertahap, terukur, dan tetap mengedepankan keandalan pasokan listrik,” kata Bernadus, Kamis (29/10/2026).
Di Pesanggaran, pengujian dilakukan bertahap. Mengutip Antara, rasio campuran hidrogen meningkat dari 2 persen pada 2022 menjadi 7 persen pada 2024, kemudian mencapai 23 persen pada 2025.
Hasil pengujian yang disampaikan perusahaan menunjukkan potensi peningkatan efisiensi mesin hingga 5 persen dan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil hingga 17 persen. Penurunan emisi karbon diperkirakan mencapai 9.600 ton karbon dioksida (CO₂) per tahun.
Sementara itu, pengujian di PLTU Labuan menggunakan campuran amonia sebesar 1 persen. Hasilnya menunjukkan potensi perbaikan efisiensi pembangkit hingga 1,3 persen serta penghematan batu bara sekitar 19.700 ton per tahun.
Perusahaan juga menyebut potensi penurunan emisi karbon hingga 1,8 persen. Pengujian tersebut memperlihatkan peluang pengurangan emisi tahunan PLTU hingga 35.000 ton.
Untuk mendukung pengembangan amonia hijau, PLN IP menjajaki pemanfaatan kelebihan hidrogen dari PLTGU Cilegon, PLTGU Priok, dan PLTGU Tambak Lorok sebagai bahan baku.
Bernadus mengatakan pengembangan teknologi akan dilanjutkan melalui kajian, pengujian, dan evaluasi teknis. Keselamatan, keandalan, efisiensi, serta kelayakan penerapan menjadi pertimbangan dalam menentukan pengembangannya.