Sabtu, 05 April 2025
Beranda / Berita / Nasional / Prof. Agussabti: Sinergi Riset Ristek - TNI Kunci Kemandirian Pangan dan Teknologi Pertahanan

Prof. Agussabti: Sinergi Riset Ristek - TNI Kunci Kemandirian Pangan dan Teknologi Pertahanan

Jum`at, 04 April 2025 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Ketua Forum Wakil Rektor I Perguruan Tinggi Negeri Badan Kerja Sama (PTN BKS) Wilayah Barat sekaligus  Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Syiah Kuala. Foto: for Dialeksis.com


DIALEKSIS.COM | Aceh - Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menegaskan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam mendorong riset dan pengembangan teknologi strategis. Langkah ini dinilai sebagai terobosan progresif untuk mempercepat kemajuan bangsa, terutama di bidang pangan dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang menjadi prioritas pemerintah.

Kebijakan itu mendapatkan tanggapan dari Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si., IPU, Ketua Forum Wakil Rektor I Perguruan Tinggi Negeri Badan Kerja Sama (PTN BKS) Wilayah Barat, menyambut positif inisiatif ini. Menurutnya, kolaborasi multidisiplin antara akademisi dan institusi pertahanan tidak hanya akan memperkuat keamanan nasional, tetapi juga membuka peluang inovasi untuk menjawab tantangan global.

Menurut Prof Agussabti menjelaskan pemerintah menetapkan dua fokus utama dalam kerja sama ini berbasis ketahanan pangan dan pengembangan Artificial intelligence (AI) untuk keamanan. 

“Di bidang pangan, peran perguruan tinggi disebut krusial melalui tiga pilar: riset teknologi benih unggul, pendampingan masyarakat dalam pemberdayaan pertanian, serta hilirisasi produk pangan bernilai tambah,” ungkapnya saat dihubungi Dialeksis.com (Jumat, 04/04/2025).

“Perguruan tinggi harus menjadi garda terdepan dalam inovasi pangan. Misalnya, riset benih adaptif perubahan iklim, pendampingan petani untuk optimasi lahan terbatas, hingga pengolahan pangan lokal menjadi produk ekspor. Ini bukan hanya soal swasembada, tapi juga kedaulatan pangan,” tegas Agussabti, yang juga Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Syiah Kuala.

Sementara di bidang AI menurut pria penceramah ini, kerja sama dengan TNI diarahkan untuk menciptakan solusi teknologi di sektor keamanan, seperti sistem pengawasan wilayah perbatasan, analisis data intelijen, hingga pengembangan drone dan robotika pertahanan.

Prof Agussabti menekankan, AI tidak hanya berguna untuk militer, tetapi juga untuk mitigasi bencana, penanganan konflik, dan perlindungan data strategis negara.

“Integrasi AI dalam sistem pertahanan harus berbasis riset mendalam. Misalnya, algoritma yang mampu memprediksi ancaman siber atau mengoptimalkan logistik militer di daerah terpencil. Di sinilah peran kampus sebagai penyedia solusi berbasis ilmu pengetahuan,” paparnya.

Lebih mendalam lagi Agussabti menilai, kerja sama Kementerian Ristek dengan TNI merupakan langkah visioner yang sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. 

Menurutnya, kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kapasitas riset dan kemampuan menerjemahkan ilmu pengetahuan menjadi solusi nyata.

“Contoh konkretnya, riset bersama antara ahli bioteknologi kampus dengan insinyur TNI bisa menghasilkan teknologi pangan darurat untuk operasi militer atau daerah rawan krisis. Begitu pula pengembangan AI untuk cybersecurity harus melibatkan ahli etika dan hukum agar tetap sejalan dengan prinsip hak asasi manusia,” ujarnya.

Ia juga menyarankan agar kolaborasi ini diperkuat dengan pendanaan berkelanjutan, pertukaran sumber daya manusia, dan pembentukan konsorsium riset nasional. “Ini momentum untuk membangun ekosistem inovasi yang menghubungkan kampus, pemerintah, dan TNI. Jika dijalankan dengan baik, Indonesia bisa menjadi contoh negara yang memadukan kekuatan intelektual dan pertahanan,” tambahnya.

Meski optimistis, Agussabti mengingatkan pentingnya menjaga independensi akademik dalam kemitraan ini. 

“Riset harus tetap berpegang pada prinsip ilmiah, bukan sekadar kepentingan pragmatis. TNI dan kampus perlu menyusun peta jalan bersama yang transparan, dengan tujuan akhir untuk kemaslahatan bangsa,” tegasnya.

Kementerian Ristek dan TNI harapan dari Prof Agussabti segera merancang mekanisme kerja sama teknis, termasuk skema hibah riset, pelatihan bersama, dan komersialisasi produk inovasi. Dengan sinergi ini, Indonesia diyakini mampu mengejar ketertinggalan di bidang teknologi sekaligus memperkokoh ketahanan nasional.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI