DIALEKSIS.COM | Bogor - Penyuluh Agama Islam di seluruh Indonesia menggelar 100.000 Khataman Al-Qur’an menyambut tahun baru 1 Muharam 1448 H. Gerakan ini tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, tapi harus menjadi titik awal transformasi diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa melalui pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Muchlis M. Hanafi, dalam giat 100.000 Khataman Al-Qur’an dan Doa Bersama untuk Bangsa. Acara ini berlangsung di Auditorium Pusat Literasi Keagamaan Islam (PLKI), Ciawi, Bogor, Rabu (17/6/2026).
Khataman Al-Qur’ana diikuti secara langsung oleh 200 penyuluh agama Islam serta ribuan peserta lainnya secara daring.
“Di tengah era yang ditandai oleh ketidakpastian global, disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (AI), perubahan iklim, serta polarisasi sosial di ruang digital, Al-Qur’an perlu dihadirkan sebagai energi spiritual kolektif bangsa,” terang Muchlis M Hanafi.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Peaceful Muharam 1448 H tersebut berhasil melampaui target dengan capaian lebih dari 111.031 khataman Al-Qur’an yang dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Islam dan kelompok binaannya di seluruh Indonesia.
Menurut Muchlis, pemilihan kegiatan khataman Al-Qur’an pada momentum Tahun Baru Islam memiliki makna yang mendalam. Muharam bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Hijriah, melainkan momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
“Hijrah yang diajarkan Rasulullah saw. bukan hanya perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perpindahan dari kondisi yang kurang baik menuju kondisi yang lebih baik. Karena itu, memasuki tahun baru Hijriah, kita diajak melakukan evaluasi dan memperbarui komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Al-Qur’an,” ujarnya.
Muchlis menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai bacaan yang mendatangkan pahala, tetapi juga petunjuk hidup yang membimbing manusia dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
“Al-Qur’an berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam, bahkan memberikan prinsip-prinsip untuk membangun kehidupan yang adil, damai, dan bermartabat. Karena itu, khataman Al-Qur’an harus melahirkan semangat untuk menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata,” katanya.
Menurut Muchlis, Al-Qur’an memiliki peran strategis sebagai sumber inspirasi, sumber harapan, sekaligus rujukan moral yang mampu memperkuat optimisme dan persatuan bangsa.
Ia menambahkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya membentuk kesalehan individual, tetapi juga membangun karakter kolektif bangsa melalui nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, persaudaraan, keadilan, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama.
“Ketika jutaan umat Islam membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an, sesungguhnya kita sedang membangun fondasi kebangsaan yang kokoh. Al-Qur’an bukan hanya petunjuk bagi kehidupan pribadi, tetapi juga sumber etika publik yang memperkuat persatuan, memperteguh optimisme, dan menumbuhkan harapan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.
Melalui kegiatan khataman dan doa bersama ini, Muchlis mengajak seluruh peserta untuk mendoakan Indonesia agar senantiasa diberikan kedamaian, persatuan, keberkahan, dan kemampuan menghadapi berbagai tantangan masa depan. [*]
