DIALEKSIS.COM | Bandung - Khatib Masjid Miftahul Ulum Bandung, Ustadz Muslim Kamil, mengingatkan pentingnya merawat keimanan sebagai pondasi utama dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, iman bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi harus hadir dari lubuk hati terdalam dan tampak dalam perilaku sehari-hari.
Dalam khutbah Jumatnya, Ustadz Muslim Kamil menegaskan bahwa seorang muslim harus menjaga kesungguhan dalam beribadah kepada Allah SWT. Salah satu tanda keimanan, kata dia, terlihat dari kesiapan seseorang memenuhi panggilan Allah, termasuk datang ke masjid sebelum azan berkumandang.
“Berbicara keimanan tentu harus dimulai dari lubuk hati sanubari yang paling dalam. Ketika seseorang pergi ke masjid sebelum azan berkumandang, itu menunjukkan adanya dorongan iman, adanya harapan untuk meraih ridha Allah SWT,” ujar Ustadz Muslim Kamil.
Ia mengatakan, kehidupan seorang muslim harus senantiasa berlandaskan iman. Sebab, amal tanpa iman tidak memiliki nilai yang sempurna di sisi Allah SWT. Sebaliknya, iman yang benar harus melahirkan amal saleh dan akhlak yang baik.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”
(QS. Al-Bayyinah: 7)
Menurut Ustadz Muslim Kamil, ayat tersebut menunjukkan bahwa iman dan amal saleh merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Mengaku beriman hanya dengan lisan, namun tidak dibuktikan melalui perilaku, kepedulian, ketaatan, dan akhlak mulia, tidak akan memberi makna besar dalam kehidupan.
“Iman itu pondasi utama beragama. Mengaku beriman tidak cukup hanya sebatas ucapan. Harus ada bukti nyata dalam perilaku, dalam ibadah, dalam cara kita memperlakukan sesama, dan dalam cara kita menjauhi larangan Allah,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa di tengah perkembangan zaman yang semakin canggih, kemajuan teknologi dan arus kehidupan modern dapat menggerus nilai-nilai keimanan apabila tidak dijaga dengan baik. Banyak manusia, kata dia, akhirnya terbawa arus dunia, lupa ibadah, lalai terhadap akhirat, dan menjauh dari nilai-nilai agama.
Karena itu, Ustadz Muslim Kamil mengajak umat Islam memperkuat benteng iman agar tidak mudah terjerumus dalam perbuatan yang dilarang Allah, seperti minum khamar, mencuri, berzina, membunuh, menzalimi orang lain, hingga melakukan berbagai kemaksiatan.
“Keimanan adalah pelindung. Orang yang benar-benar memiliki iman akan takut kepada Allah. Ia akan berpikir sebelum melakukan dosa. Ia sadar bahwa semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT,” ujarnya.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW:
“Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman. Tidaklah seorang pencuri mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut, kata Ustadz Muslim Kamil, menjadi peringatan bahwa kemaksiatan dapat melemahkan bahkan mencederai kualitas iman seseorang. Karena itu, iman harus terus dijaga melalui shalat, zikir, membaca Al-Qur’an, memperbanyak amal saleh, serta menjauhi lingkungan yang dapat menyeret kepada keburukan.
Ustadz Muslim Kamil juga menyebutkan, iman yang kuat akan menghadirkan petunjuk dan hidayah dari Allah SWT. Dengan iman, seseorang akan lebih mudah mengikis sifat buruk seperti sombong, congkak, rakus, iri hati, kikir, dan cinta dunia secara berlebihan.
“Keimanan menjadi arah, pondasi, dan penuntun hidup. Dengan iman, manusia tahu batas. Dengan iman, manusia mampu menahan diri. Dengan iman, manusia tidak hanya mengejar dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal akhirat,” ucapnya.
Ia menambahkan, salah satu tanda iman yang hidup adalah ketika ibadah mampu membentuk akhlak. Shalat, puasa, sedekah, dan amal lainnya seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, jujur, sabar, peduli, dan takut melakukan kezaliman.
“Menjadi miris apabila keimanan seseorang tidak memberi dampak dalam kehidupannya. Rajin beribadah, tetapi masih suka menipu. Mengaku beriman, tetapi masih kikir, rakus, dan menyakiti orang lain. Ini yang harus kita muhasabah bersama,” katanya.
Di akhir khutbahnya, Ustadz Muslim Kamil mengajak jamaah untuk kembali memperbaiki kualitas iman. Menurutnya, hidup yang dijalani tanpa iman akan mudah kehilangan arah, sementara hidup yang dibimbing iman akan membawa manusia kepada keselamatan dunia dan akhirat.
“Marilah kita rawat iman ini. Jangan biarkan dunia menguasai hati. Jadikan iman sebagai cahaya, sebagai benteng, dan sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan. Semoga Allah menetapkan hati kita dalam iman dan ketaatan kepada-Nya,” tutup Ustadz Muslim Kamil.
