DIALEKSIS.COM | Jakarta - Cedera bukan akhir dari perjalanan seorang atlet. Dengan rehabilitasi yang tepat dan terukur, atlet dapat kembali bertanding sekaligus membangun performa agar mencapai level terbaik.
Hal tersebut disampaikan profesional fisioterapi Matias Ibo dalam kegiatan Professional Sport Workforce Training bertema "From Science to Performance", bagian dari Indonesia Sport Summit 2026, di Cendrawasih Room, JICC Komplek GBK, Senayan, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Dalam materi bertajuk "Beyond Rehab: Performance Turning Injury Recovery Into Performance Excellence", Matias menekankan bahwa rehabilitasi tidak boleh hanya berfokus pada menghilangkan rasa sakit. Proses tersebut harus diarahkan untuk mengembalikan kemampuan atlet ke level sebelum cedera, atau bahkan lebih baik.
"Cedera bukan akhir karier. Justru melalui proses rehabilitasi yang terukur dan tepat, atlet dapat membangun kembali tubuh, kepercayaan diri, dan performanya untuk kembali lebih kuat," ujar Matias.
Menurut dia, rehabilitasi dilakukan secara bertahap, mulai dari melindungi area cedera dan mengendalikan nyeri, memulihkan rentang gerak, membangun kekuatan serta kontrol tubuh, hingga latihan yang semakin spesifik sesuai cabang olahraga.
Matias juga mengingatkan bahwa keputusan return to play tidak boleh hanya berdasarkan waktu. Atlet harus memenuhi sejumlah indikator, seperti rentang gerak, kekuatan otot, kemampuan hop test, kualitas gerakan dan pendaratan, kapasitas aerobik-anaerobik, serta kesiapan psikologis.
"Atlet juga tidak boleh terburu-buru melakukan comeback. Program rehabilitasi yang hanya berpatokan pada waktu berisiko membuat atlet kembali bertanding sebelum benar-benar siap," jelasnya.
Karena itu, proses pemulihan membutuhkan kolaborasi dokter, fisioterapis, ahli nutrisi, pelatih fisik, pelatih utama, dan atlet. Rehabilitasi dan pengembangan performa pun idealnya berjalan beriringan sejak hari pertama cedera. [b]