Sabtu, 05 April 2025
Beranda / Opini / Idul Fitri: Perpaduan Ritual dan Kearifan Budaya dalam Bingkai Kebersamaan

Idul Fitri: Perpaduan Ritual dan Kearifan Budaya dalam Bingkai Kebersamaan

Rabu, 02 April 2025 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Alif Alqausar

Penulis Alif Alqausar (Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh)


DIALEKSIS.COM | Opini - Idul Fitri, atau yang akrab disapa Lebaran, bukan sekadar perayaan keagamaan bagi umat Islam Indonesia. Ia telah menjelma menjadi fenomena sosio - kultural yang sarat makna. Tahun ini, perayaan tersebut jatuh pada 31 Maret 2024, mengakhiri rangkaian ibadah Ramadan selama 30 hari. Namun esensinya melampaui ritual semata; Lebaran merupakan cerminan nilai-nilai luhur masyarakat Indonesia: persaudaraan, rekonsiliasi, dan kebersamaan yang mengakar.

Istilah "Lebaran" sendiri berasal dari kosakata Jawa "lebar" yang berarti "akhir" atau "penyelesaian". Maknanya pun berkembang menjadi simbol penutupan siklus lama sekaligus pembukaan babak baru melalui proses saling memaafkan. Inilah yang membuat Idul Fitri—yang secara harfiah berarti "kembali kepada kesucian"—dimaknai sebagai momentum pemurnian jiwa-raga, khususnya melalui tradisi saling bermaafan antargenerasi.

Bagi masyarakat Indonesia, momen ini dinanti layaknya puncak dari perjalanan spiritual sebulan penuh. Selepas latihan menahan diri dari lapar, dahaga, dan nafsu duniawi, umat Islam menyambutnya dengan sukacita melalui serangkaian tradisi khas: halalbihalal, silaturahmi antar keluarga, hingga pertukaran amplop berisi uang atau hadiah. Tak ketinggalan, zakat fitrah sebagai wujud kepedulian sosial—biasanya diberikan oleh yang mampu kepada kaum dhuafa, atau orang tua kepada anak-anak.

Lebaran sebagai Perekat Sosial

Kontekstualisasi Idul Fitri di Nusantara memperlihatkan dinamika interaksi agama dan budaya. Tradisi seperti mudik, halalbihalal, dan zakat fitrah menunjukkan bagaimana nilai Islam beradaptasi dengan kearifan lokal tanpa kehilangan esensi spiritualnya. Sejalan dengan teori interaksi simbolik, ucapan "Mohon maaf lahir dan batin" bukan sekadar formalitas, melainkan simbol kerendahan hati yang mengandung komitmen memperbaiki relasi. Masyarakat memaknainya sebagai pengakuan kesalahan, mengubah hubungan retak menjadi harmonis.

Pada tataran sosial, momentum ini menjadi sarana rekonsiliasi. Sabda Nabi Muhammad SAW, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi," menemukan relevansinya di tengah masyarakat majemuk Indonesia yang rentan gesekan akibat perbedaan pandangan. Idul Fitri mengajarkan bahwa memaafkan adalah langkah awal menuju harmoni.

Transformasi Spiritual dan Kemanusiaan

Di ranah spiritual, Idul Fitri menandai kelahiran kembali sebagai pribadi yang lebih suci. Jika Ramadan menjadi madrasah pengendalian diri, Idul Fitri adalah wisuda kemanusiaan. Zakat fitrah—selain membersihkan harta—menjadi instrumen solidaritas sosial yang nyata. Bahkan dalam konteks kebangsaan, perayaan ini berfungsi sebagai social glue (perekat sosial) yang menguatkan kohesi antarelemen masyarakat, tak terbatas pada umat Islam saja. Ucapan maaf yang meluas ke semua kalangan menunjukkan semangat inklusivitas khas Indonesia.

Pada akhirnya, Idul Fitri adalah cerminan peradaban manusiawi yang melampaui batas agama. Sebagaimana tercermin dalam tradisi Nusantara, nilai-nilainya tak hanya menguatkan iman, tetapi juga membangun kesadaran kolektif untuk terus bermuhasabah, berbenah, dan merajut kebersamaan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H, mohon maaf lahir dan batin.

Penulis: Alif Alqausar (Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI