Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Opini / Menghadirkan Mata dan Perspektif Pemulihan

Menghadirkan Mata dan Perspektif Pemulihan

Senin, 02 Maret 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Mohd Habibie

Narasi kontemplatif perjalanan Humansight dalam upaya merespons bencana, dari titik-titik minor di pinggiran, menuju langkah-langkah transformatif yang salah satunya adalah dengan mengupayakan hadirnya platform pelibatan masyarakat. [Foto: dok. Humansight]


DIALEKSIS.COM | Opini - Ada momen-momen dalam sejarah ketika arah zaman diubah bukan oleh atraksi besar, tetapi oleh pertemuan tak disengaja, wacana-wacana sederhana, dan langkah-langkah kecil yang diulang dengan sabar. Narasi kontemplatif ini adalah perjalanan Humansight dalam upaya merespons bencana, dari titik-titik minor di pinggiran, menuju langkah-langkah transformatif yang salah satunya adalah dengan mengupayakan hadirnya platform pelibatan masyarakat.

Saya adalah warga Dayah Kruet, Pidie Jaya. Rumah saya ditenggelamkan oleh lumpur. Selain plafon, yang tersisa hanyalah kenangan dan jejak air mata. Saya beruntung, algoritma mempertemukan saya dengan banyak orang baik. Postingan saya tentang seorang anak yang makan di atas teras rumahnya yang terendam viral, donasi berdatangan.

Lalu perlahan algoritma menjauh. Ia gagal menghadirkan keberuntungan yang sama untuk orang tua Abizar, seorang anak yang meninggal karena lumpur menghentikan fungsi paru-parunya. Di titik itu saya mulai memahami, algoritma tidak akan selalu hadir. Yang seharusnya terus hadir adalah negara, dengan segala perangkatnya. Dan itulah yang kemudian harus kita upayakan bersama.

Rupa di Balik Angka Adalah Manusia

Setiap bencana melahirkan angka. Angka korban jiwa, angka pengungsi, angka kerusakan. Angka-angka itu penting untuk memahami dampak dan skala bencana. Namun kami di @humansight.id memilih berdiri di sisi lain angka.

Dalam salah satu unggahan paling awal tentang banjir Aceh, kami menulis “Di balik angka dan laporan bencana, ada manusia dengan cerita, luka, harapan, dan ketangguhan. Cerita ini datang dari para penyintas banjir di Aceh.” Kalimat tersebut bagi kami adalah deklarasi metodologis, cara pandang yang menolak mereduksi manusia menjadi statistik semata.

Kami memilih “sight”, tilikan dan atau perspektif sebagai identitas. Humansight jika diterjemahkan adalah perspektif kemanusiaan. Keyakinan itu kami transformasikan menjadi manifesto, Humanitarian Data-Driven Response. Sekilas tampak kontradiktif, bagaimana mungkin sesuatu yang data-driven, yang bertumpu pada angka, justru berangkat dari penolakan terhadap angka sebagai tujuan akhir?

Jawabannya terletak pada kata respons. Data bukan untuk disimpan. Data ada untuk direspons dan respons yang bermartabat hanya mungkin ketika angka diberi wajah, koordinat, dan konteks. Pemulihan yang bermartabat hanya mungkin ketika suara rakyat benar-benar didengar.

Perspektif untuk Tindakan Solutif

Jika ditilik, perjalanan Humansight dapat dibaca sebagai sebuah alur untuk menghadirkan sistem yang menopang kerangka kebijakan yang lebih solutif. Dimulai dari melihat dan menganalisis angka, mendengar suara-suara di balik angka serta mendokumentasikannya, lalu bertindak agar semua itu memberi dampak yang nyata. Agar dampak tersebut meluas, sistem itu harus diformalkan dan dikolaborasikan menjadi kebijakan.

Kolaborasi itulah yang melahirkan tanggapi.acehprov.go.id, sebuah platform resmi yang dirancang bersama Dinas Komunikasi dan Informatika dan Sandi Aceh, dengan nama yang berupa kata kerja imperatif, sebuah perintah untuk merespons. Platform ini diluncurkan sebagai saluran resmi agar setiap suara masyarakat didengar, dicatat, dan ditindaklanjuti.

Dashboard Peta Aksi dan Partisipasi Masyarakat yang kemudian berkembang dari sana kini menjadi sistem terintegrasi yang mencakup enam klaster penanggulangan bencana, dari pencarian dan pertolongan, logistik, pengungsian, kesehatan, pendidikan, hingga pemulihan.

Apa yang Humansight bawa ke meja kolaborasi ini lebih dari sekedar kode pemrograman atau data statis. Yang kami bawa adalah perspektif, cara melihat yang menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap titik data. Setiap koordinat GPS dalam peta Tanggapi adalah seorang ibu yang akhirnya berhasil didengar. Setiap laporan yang terunggah adalah seorang anak yang ceritanya tak lagi tenggelam di antara ribuan komentar Instagram yang tak terbaca. Kami percaya, Pemerintah Aceh bergerak dengan semangat yang sama.

Mata yang Tetap Terbuka

Ada sebuah kebenaran yang jarang diucapkan tentang bencana, bahwa tantangan terbesarnya bukan ketika air datang, melainkan ketika perhatian pergi. Momentum perhatian publik, media, dan lembaga kemanusiaan akan memudar. Enam bulan dari sekarang, Aceh akan kehilangan spotlight.

Di Humansight, kami memahami betul hal ini. Karena itu kami terus mengunggah, bukan karena kami mengejar viral, tetapi karena kondisi di lapangan masih nyata. Dari genangan lumpur di Pidie Jaya yang belum sepenuhnya dibersihkan, dari desa-desa terisolir di Aceh Tengah yang masih menunggu jembatan, dari tenda-tenda di mana masih ada begitu banyak warga bernaung, dari anak-anak yang masih menyimpan cerita yang tak sanggup mereka ucapkan.

Humanitarian Data-Driven Response yang kami tuliskan di bio Instagram bukan sekadar tagline. Ia adalah deskripsi tentang apa yang terjadi ketika sebuah yayasan kecil memutuskan bahwa tugas terbesarnya bukan sekadar mengirim bantuan fisik, melainkan membantu pemerintahan memiliki apa yang selama ini absen, mata yang akan tetap terbuka ketika dunia sudah berpaling, dan telinga yang tetap mendengar ketika suara-suara mulai melemah.

Di banyak rumah, kini mengalir air dari sumur yang telah kami bersihkan. Dari gawai di tangan, kini kita bisa melihat titik-titik kebutuhan dari gampong-gampong terpencil.

Dari layar, kita bisa memeriksa data kebencanaan yang telah dianalisis dan divisualkan, untuk memastikan tidak ada suara yang terlewatkan; untuk menjamin bahwa data dari gampong terisolir benar-benar menggerakkan kebijakan.

Sudah cukup?

Tidak. Belum cukup. Belum pernah cukup.

Saat ini, detik ini, masih ada anak-anak seperti Abizar di gampong-gampong yang belum muncul di timeline siapa pun. kini ada cara agar suara mereka tidak harus bergantung viral.

Jika Anda warga terdampak, laporkan. Jika Anda relawan di lapangan, dokumentasikan. Jika Anda akademisi, jurnalis, atau pegiat data. analisis dan kawal.

Jika Anda hanya punya hp dan empat menit waktu luang, buka, lihat, dan sebarkan.

Buka tanggapi.acehprov.go.id. Jadilah mata dan telinga yang tidak pernah berpaling. [**]

Penulis: Mohd. Habibie (Dosen FT Unimal dan Koordinator Humansight Pidie Jaya)

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI