DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murtalamuddin, mengatakan bahwa pentingnya membangun kembali marwah pendidikan Aceh melalui penguatan etos kerja dan profesionalisme guru.
Dalam pernyataannya di video berdurasi 3 menit yang dilansir media dialeksis.com, Rabu, 18 Februari 2026, ia mengaku menemukan berbagai persoalan mendasar yang harus segera dibenahi demi memastikan kualitas layanan pendidikan benar-benar berpihak kepada siswa.
Menurut Murtalamuddin, hasil survei kecil yang ia lakukan secara langsung ke lapangan menunjukkan bahwa masih terdapat praktik pembelajaran yang belum berjalan optimal.
Ia menilai, sebagian guru belum sepenuhnya melaksanakan tugas dengan kesungguhan dan komitmen profesional.
“Saya menemukan masih ada guru yang belum maksimal dalam mengajar, terutama pada mata pelajaran eksakta yang membutuhkan praktik di laboratorium. Di sejumlah SMK, kegiatan praktik seperti teaching factory, pengujian di laboratorium, maupun pembelajaran di bengkel belum berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti metode pembelajaran yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan zaman, seperti kebiasaan menyuruh siswa menyalin ulang buku teks tanpa pendalaman materi atau praktik aplikatif.
Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan bahwa penyelenggaraan pendidikan belum sepenuhnya dilandasi semangat pelayanan dari hati.
Murtalamuddin mengatakan bahwa pendidikan bukan hanya soal penyampaian informasi, melainkan proses pembentukan karakter, sikap, dan keterampilan.
Guru, katanya, memiliki tanggung jawab moral yang besar dalam membentuk masa depan generasi Aceh.
“Guru itu bukan sekadar pengajar. Guru adalah pendidik yang bertugas mengubah perilaku, membentuk akal budi, serta mengasah keterampilan anak didik. Kita harus memastikan bahwa harapan orang tua ketika menyerahkan anaknya ke sekolah benar-benar terjawab,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa tidak ada orang tua yang menyekolahkan anak tanpa cita-cita. Setiap orang tua, lanjutnya, memimpikan masa depan yang lebih baik bagi putra-putrinya, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun pembentukan karakter.
Karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan guru, kepala sekolah, hingga birokrat untuk kembali pada nilai dasar pelayanan pendidikan yang ia sebut sebagai “sipat atee dengan atee”, yakni melayani dengan hati.
“Layanilah orang lain sebagaimana kita ingin dilayani. Kita pasti ingin anak-anak kita mendapatkan pendidikan terbaik. Maka ketika anak orang lain bersekolah di tempat kita, sudah seharusnya kita memberikan layanan terbaik yang sama,” katanya.
Murtalamuddin menilai bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak bisa hanya bersifat administratif, tetapi harus menyentuh budaya kerja dan integritas profesi.
Ia menyebut, jika seorang pendidik menginginkan pendidikan terbaik untuk anaknya sendiri namun tidak memberikan yang terbaik bagi anak orang lain, maka itu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap profesi.
“Ketika kita tidak profesional dalam menyelenggarakan pendidikan, kita bukan hanya mengkhianati profesi, tetapi juga mengkhianati diri sendiri dan kepercayaan orang tua siswa,” ujarnya.
Untuk itu, Dinas Pendidikan Aceh berkomitmen melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap proses pembelajaran di sekolah-sekolah, termasuk penguatan pengawasan, peningkatan kapasitas guru, serta optimalisasi sarana praktik di SMK dan laboratorium di SMA.
Ia juga mendorong agar sekolah-sekolah memperkuat pembelajaran berbasis praktik dan kebutuhan industri, terutama bagi SMK, agar lulusan benar-benar memiliki kompetensi yang siap pakai di dunia kerja.
Dalam konteks yang lebih luas, Murtalamuddin menegaskan bahwa kebangkitan Aceh tidak dapat dilepaskan dari kualitas pendidikannya.
Menurutnya, pemulihan marwah Aceh harus dimulai dari ruang-ruang kelas, dari komitmen guru yang bekerja dengan integritas dan dedikasi.
“Aceh tidak akan bangkit tanpa pendidikan yang bermutu. Semangat pendidikan harus menjadi fondasi utama. Kita ingin melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, kuat secara moral, dan terampil secara profesional,” katanya.
Ia pun mengajak seluruh tenaga pendidik untuk menjadikan momentum ini sebagai refleksi bersama. Profesionalisme, disiplin, dan pelayanan yang tulus disebutnya sebagai kunci membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan.
“Marilah kita kembali pada jati diri kita sebagai pendidik. Bekerjalah dengan hati, dengan kesungguhan, dan dengan tanggung jawab. Karena di tangan kitalah masa depan Aceh dititipkan,” pungkas Murtalamuddin.[nh]