DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Konflik berkepanjangan antar mahasiswa di lingkungan Universitas Syiah Kuala akhirnya memuncak menjadi kerusuhan besar yang mengakibatkan pembakaran, penjarahan, hingga kerusakan fasilitas bernilai miliaran rupiah di Fakultas Pertanian.
Peristiwa yang terjadi pada Kamis dini hari, 21 Mei 2026 itu disebut sebagai salah satu insiden paling serius dalam dinamika kemahasiswaan di kampus tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Demisioner Ketua BEM Fakultas Pertanian USK tahun 2025, Silva Riskandi, membeberkan kronologi panjang konflik yang disebut berawal dari ketegangan pasca aksi demonstrasi penolakan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) pada 18 Mei 2026.
Menurut Silva, aksi demonstrasi tersebut dilakukan oleh aliansi mahasiswa tanpa keterlibatan BEM USK. Setelah massa merasa tuntutannya berhasil dengan pencabutan Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang JKA, mahasiswa melakukan konvoi keliling Kota Banda Aceh dan melintas di kawasan Gelanggang USK.
“Massa kemudian berhenti di depan Sekretariat BEM USK untuk merayakan pencabutan Pergub tersebut. Situasi awalnya biasa saja,” kata Silva.
Namun suasana mendadak berubah ketika, menurutnya, seorang mahasiswa yang berada di dalam Sekretariat BEM USK keluar dan mempertanyakan maksud kedatangan massa dengan nada yang dianggap menantang.
“Beberapa mahasiswa sebenarnya sudah mencoba menenangkan situasi dan meminta mahasiswa tersebut masuk kembali ke dalam sekretariat,” ujarnya.
Situasi yang mulai mereda kemudian kembali memanas setelah terjadi pelemparan batu dari arah massa. Batu tersebut mengenai kepala seorang mahasiswa Fakultas Pertanian hingga mengalami luka dan pendarahan.
“Tidak diketahui siapa pelaku pelemparan karena massa saat itu bercampur, ada berbagai unsur termasuk pihak eksternal dan tidak ada koordinator lapangan yang mengendalikan massa,” jelas Silva.
Kericuhan pun pecah dan menyebabkan kaca Sekretariat BEM USK rusak. Setelah insiden tersebut, lima mahasiswa Fakultas Pertanian mendatangi sekretariat untuk melakukan mediasi dan menyampaikan permintaan maaf.
Namun upaya damai itu disebut tidak berjalan mulus.
“Permintaan maaf pertama ditolak oleh staf BEM yang berlatar belakang mahasiswa teknik. Permintaan maaf kedua juga ditolak, bahkan ada ajakan satu lawan satu, tetapi pihak Fakultas Pertanian menolak,” katanya.
Karena mediasi tidak menemukan hasil, mahasiswa Fakultas Pertanian memutuskan meninggalkan lokasi. Akan tetapi, tidak lama berselang, staf BEM Universitas kembali mendatangi pihak Fakultas Pertanian dan meminta masing-masing fakultas mengirim dua perwakilan untuk mediasi lanjutan.
Silva mengatakan, dalam mediasi tersebut pihak Fakultas Pertanian kembali menyampaikan keinginan berdamai. Namun kondisi di lokasi yang minim penerangan justru memicu intimidasi dan kekerasan.
“Beberapa mahasiswa Fakultas Teknik melakukan pengeroyokan, pengejaran, penganiayaan, bahkan penghinaan terhadap lembaga Fakultas Pertanian,” ungkapnya.
Menurutnya, aksi kekerasan baru berhenti setelah sejumlah dosen USK datang ke lokasi.
Peristiwa itu memicu kemarahan mahasiswa Fakultas Pertanian yang kembali berkumpul di fakultas. Namun BEM Fakultas Pertanian disebut berupaya menenangkan massa dan meminta mahasiswa meninggalkan kawasan Sekretariat BEM USK demi mencegah bentrokan susulan.
Situasi kembali memanas ketika korban dugaan pengeroyokan menceritakan pengalaman yang dialami kepada mahasiswa lain di Fakultas Pertanian. Emosi mahasiswa semakin meningkat akibat aksi saling provokasi ketika sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik melintasi kawasan fakultas tersebut.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Pertanian kemudian turun langsung menenangkan mahasiswa dan meminta seluruh massa tetap kondusif. Pihak biro kemahasiswaan USK juga disebut hadir melakukan mediasi antara BEM Fakultas Pertanian dan BEM Fakultas Teknik.
“Mediasi pertama belum menghasilkan kesepakatan damai. Kemudian sekitar pukul 22.45 WIB dilakukan mediasi lanjutan dan disepakati kedua pihak membubarkan diri,” ujar Silva.
Pada 19 Mei 2026, biro kemahasiswaan USK kembali mengundang unsur pimpinan kemahasiswaan universitas dan fakultas terkait untuk mediasi lanjutan.
Namun pertemuan itu disebut belum menemukan titik temu. Ketegangan kembali meningkat pada 20 Mei 2026 malam ketika mahasiswa Fakultas Pertanian menggelar rapat KBM membahas persiapan arak-arakan wisudawan yang akan dilaksanakan keesokan harinya.
Menurut Silva, dini hari 21 Mei 2026 situasi kembali memanas akibat provokasi dari oknum yang lewat saat mahasiswa Fakultas Pertanian sedang duduk bersama usai rapat.
“Kedua pihak kemudian saling melakukan aksi lempar-melempar di sekitar Sekretariat Fakultas Teknik,” katanya.
Kericuhan menyebabkan kerusakan fasilitas dan korban luka sebelum akhirnya warga sekitar membantu membubarkan massa.
Aparat kepolisian kemudian datang untuk mengamankan situasi dan meminta mahasiswa kembali ke rumah masing-masing namun dari mahasiswa memberikan permintaan untuk menjaga kampus namun dari pihak aparat kepolisian mengatakan mereka yang akan menjaga/bertanggung jawab atas keamanan kampus. Kemudian situasi yang sempat mereda ternyata belum benar-benar selesai.
Sekitar pukul 03.00 WIB, saat sebagian besar mahasiswa Fakultas Pertanian telah membubarkan diri, massa Fakultas Teknik disebut kembali berkumpul dan bergerak menuju kawasan Fakultas Pertanian.
“Peristiwa itu kemudian berujung pada penyerangan, penjarahan, dan pembakaran di lingkungan Fakultas Pertanian, khususnya kawasan FPL dan FPB,” ujar Silva.
Ia menyebut massa diduga membawa balok kayu, senjata tajam, hingga bom molotov. Akibatnya, sejumlah bangunan terbakar, termasuk laboratorium, sekretariat, ruang perkuliahan, kendaraan, serta fasilitas milik satpam Fakultas Pertanian.
Tak hanya itu, sejumlah alat laboratorium juga dilaporkan hilang akibat penjarahan.
Silva juga mengungkapkan dugaan pelemparan bom molotov ke dalam pos satpam yang nyaris merenggut korban jiwa.
“Bom molotov dilempar ke dalam pos satpam hingga pos terbakar. Saat itu ternyata ada satpam di dalamnya dan hampir ikut terbakar, namun berhasil melompat keluar melalui jendela belakang,” katanya.
Akibat kerusuhan tersebut, kerugian diperkirakan mencapai miliaran rupiah dan berdampak luas terhadap aktivitas akademik maupun non-akademik di Fakultas Pertanian USK.
“Peristiwa ini bukan hanya soal kerusakan fasilitas, tetapi juga menimbulkan trauma di kalangan mahasiswa dan mencoreng dunia akademik,” tutup Silva.