DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Gerakan Pemuda (GP) Ansor Aceh menyoal isu dugaan aktivitas misionaris yang mencuat pascabencana banjir bandang di Gayo Lues.
GP Ansor mengingatkan agar situasi kemanusiaan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan tersembunyi yang berpotensi mengganggu kerukunan umat beragama di Negeri Serambi Mekkah.
Ketua PC GP Ansor Gayo Lues, Dharmika Yoga, menegaskan bahwa masyarakat Aceh, khususnya di wilayah Gayo Lues, masih dalam tahap pemulihan pascabencana banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 lalu. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut kehadiran empati dan solidaritas murni tanpa muatan ideologis apa pun.
“Pascabencana, masyarakat kita masih rapuh, baik secara fisik maupun psikologis. Mereka membutuhkan uluran tangan dan ketulusan, bukan narasi atau praktik yang berpotensi memecah belah. Jangan sampai ada oknum yang memanfaatkan situasi duka untuk menjalankan misi tertentu,” ujar Yoga kepada Dialeksis.com, Senin (19/1/2026).
Sebelumnya, beredarnya video di media sosial yang diunggah akun Instagram @tercyduck.aceh, dengan narasi dugaan aktivitas misionaris di wilayah Gayo Lues pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Video itu disebut direkam di kawasan Pajak Terpadu Blangkejeren dan menampilkan sekelompok orang dari luar Aceh yang diduga menyisipkan ajaran agama non-Muslim di tengah masyarakat terdampak banjir dan longsor.
Ia mengatakan bahwa Aceh memiliki kekhususan dalam penerapan Syariat Islam, namun sejak lama juga dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi dan kehidupan damai antarumat beragama.
“Aceh adalah negeri bersyariat, tetapi juga negeri yang ramah. Sejarah membuktikan masyarakat Aceh hidup berdampingan secara damai. Nilai luhur ini harus dijaga bersama dan tidak boleh dirusak oleh praktik-praktik yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.
Yoga juga mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memperkuat literasi sosial dan keagamaan agar tidak mudah terprovokasi oleh isu sensitif, terutama di tengah kondisi emosional masyarakat yang masih terdampak bencana.
Sementara itu, Sekretaris PW GP Ansor Aceh, Ruslan Ramli yang akrab disapa Cak Lan, menegaskan bahwa kerja-kerja kemanusiaan harus dilandasi keikhlasan, nilai kemanusiaan universal, serta semangat persaudaraan.
“Dalam ajaran Islam, menolong korban bencana adalah kewajiban moral. Bantuan kemanusiaan tidak boleh dicampur dengan agenda lain. Jika sudah diberi embel-embel kepentingan tertentu, maka nilai kemanusiaannya menjadi hilang,” ujarnya.
Cak Lan menambahkan, GP Ansor dan Banser Aceh selama ini aktif terlibat dalam berbagai aksi kemanusiaan, termasuk saat banjir bandang melanda sejumlah daerah di Aceh. Prinsip yang dipegang adalah melayani tanpa membedakan latar belakang apa pun.
“Kami turun ke lapangan bukan untuk mengubah keyakinan siapa pun, tetapi untuk menyelamatkan nyawa, menguatkan yang lemah, dan membantu pemulihan. Inilah esensi ajaran Islam,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh organisasi kemasyarakatan dan keagamaan untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah serta tokoh agama agar distribusi bantuan berjalan terarah dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Dialog dan komunikasi sangat penting. Jika ada kecurigaan, jangan dipendam. Bicarakan dan selesaikan secara bermartabat. Aceh sudah sering diuji dengan bencana, jangan lagi ditambah konflik sosial,” pungkasnya.