Rabu, 17 Juni 2026
Beranda / Politik dan Hukum / Kader Senior PKB Aceh Pertanyakan Proses Penunjukan Ketua DPC, Sebut Ada Kejanggalan

Kader Senior PKB Aceh Pertanyakan Proses Penunjukan Ketua DPC, Sebut Ada Kejanggalan

Selasa, 16 Juni 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Erizal, kader senior PKB sekaligus mantan Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Kota Banda Aceh periode 2022-2027. Dokumen untuk dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dinamika internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Aceh mulai mendapat sorotan dari sejumlah kader senior. 

Erizal, kader senior PKB sekaligus mantan Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Kota Banda Aceh periode 2022-2027, menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam proses penetapan ketua DPC di beberapa daerah.

Menurut Herizal, proses penunjukan pimpinan cabang semestinya dilakukan secara bertahap dan mengacu pada mekanisme organisasi yang telah diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.

Ia menilai sejumlah tahapan penting yang selama ini menjadi bagian dari proses kaderisasi dan seleksi kepemimpinan belum sepenuhnya terlihat dijalankan sebelum penetapan dilakukan.

“Kalau menurut pendapat saya pribadi, memang ada kejanggalan dalam proses penetapan ketua. Seharusnya ada pemetaan kandidat, Musyawarah Cabang (Muscab), serta uji kelayakan dan kepatutan (UKK) yang menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan kandidat yang dinilai layak memimpin DPC PKB,” kata Erizal kepada media dialeksis.com, Selasa, 16 Juni 2026.

Menurutnya, proses yang terlalu cepat berpotensi menimbulkan pertanyaan di kalangan kader, terutama ketika sejumlah nama yang ditetapkan belum melalui tahapan kaderisasi yang selama ini menjadi standar organisasi.

“Misalnya ada yang belum mengikuti tahapan-tahapan kaderisasi tertentu. Hal-hal seperti itu menurut saya terlalu cepat jika langsung ditetapkan menjadi pemimpin. Ini yang kemudian menimbulkan pertanyaan di kalangan kader,” ujarnya.

Lebih lanjut, Erizal mengungkapkan bahwa kekecewaan juga muncul dari para kader lama yang selama bertahun-tahun berjuang membesarkan partai di daerah. Mereka, kata dia, merasa kontribusi yang telah diberikan belum menjadi pertimbangan yang jelas dalam proses penentuan kepemimpinan.

Menurutnya, banyak kader yang telah bekerja keras membangun PKB sejak masa-masa awal ketika partai belum memiliki pengaruh politik yang signifikan di daerah.

“Selama ini ada teman-teman yang sudah berjuang mati-matian membangun PKB, dari tidak dikenal menjadi dikenal, dari tidak memiliki kursi hingga akhirnya memiliki kursi. Hari ini mereka tidak terpilih, sementara dasar penilaiannya seperti apa juga tidak dipahami secara jelas. Di situ letak kekecewaan banyak kader,” jelasnya.

Erizal mengatakan, secara objektif seharusnya rekam jejak para pengurus lama dapat menjadi salah satu bahan evaluasi dalam menentukan figur yang layak memimpin partai di tingkat cabang.

Menurutnya, capaian organisasi yang telah diraih selama masa kepemimpinan sebelumnya dapat diukur dan dibandingkan dengan kriteria yang digunakan dalam proses seleksi saat ini.

“Secara faktual, data-data lama dan data-data baru bisa dibandingkan. Tokoh-tokoh atau ketua lama yang tidak terpilih itu kan bisa dilihat progres perjalanan mereka selama memimpin. Maka wajar jika muncul pertanyaan, dasar apa yang digunakan sehingga mereka tidak dipilih kembali,” katanya.

Meski demikian, Erizal berharap dinamika yang berkembang tidak berujung pada perpecahan internal. Ia meminta kepemimpinan baru PKB agar lebih peka membaca kondisi dan aspirasi kader di daerah.

Menurutnya, komunikasi yang baik dengan struktur partai di tingkat bawah menjadi faktor penting untuk menjaga soliditas organisasi.

“Harapan saya, PKB harus jeli melihat dinamika di lapangan. Banyak aspirasi kader yang perlu didengar agar tidak muncul kesalahpahaman dan kekecewaan yang berkepanjangan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mendorong agar seluruh proses pengambilan keputusan tetap mengacu pada AD/ART partai sehingga setiap kebijakan memiliki legitimasi yang kuat di mata kader.

Erizal menegaskan bahwa struktur partai hingga tingkat kecamatan seharusnya mendapatkan ruang untuk mengetahui dan memberikan masukan terhadap figur-figur yang akan memimpin organisasi.

“Kita mengharapkan PKB menjalankan AD/ART-nya secara konsisten. Cabang-cabang dan kecamatan juga harus mengetahui siapa calon ketuanya. Pola kerja organisasi harus disesuaikan dengan aturan yang sudah ada agar prosesnya lebih transparan dan dapat diterima semua pihak,” katanya.

Di tengah munculnya berbagai tanggapan dari kader di daerah, Erizal berharap PKB dapat menjadikan dinamika tersebut sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat organisasi ke depan. Baginya, partai yang besar adalah partai yang mampu menjaga keseimbangan antara regenerasi kepemimpinan dan penghargaan terhadap kader-kader yang telah berkontribusi membangun partai dari bawah.

“Yang terpenting adalah menjaga kebersamaan dan memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan organisasi. Dengan begitu, PKB bisa tetap solid dan semakin kuat menghadapi tantangan politik ke depan,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI