DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Maraknya aksi pencurian yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Banda Aceh terus memicu keresahan masyarakat. Warga mengaku mulai kehilangan rasa aman akibat kasus pencurian yang terus berulang, sementara langkah pencegahan dinilai belum memberikan dampak signifikan di lingkungan permukiman.
Anggota DPRK Banda Aceh dari Fraksi NasDem yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banda Aceh, Teuku Nanta mengatakan meningkatnya kasus pencurian di Banda Aceh merupakan persoalan serius yang harus menjadi perhatian bersama, bukan hanya aparat keamanan semata.
“Terkait maraknya kasus pencurian di Banda Aceh, tentu kita prihatin karena ini sudah cukup meresahkan masyarakat,” kata Teuku Nanta Muda kepada Dialeksis.com, Selasa, 26 Mei 2026.
Ia menilai kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat serta mengganggu kenyamanan warga dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Menurutnya, aparat keamanan perlu meningkatkan patroli rutin, terutama di kawasan yang dianggap rawan terjadi aksi kriminalitas. Kehadiran aparat di lapangan dinilai penting untuk memberikan rasa aman sekaligus mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan.
“Menurut saya, persoalan ini harus jadi perhatian bersama. Aparat keamanan perlu meningkatkan patroli di titik-titik rawan,” ujarnya.
Namun demikian, Teuku Nanta Muda menegaskan bahwa menjaga keamanan lingkungan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada aparat penegak hukum. Ia mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya kepedulian sosial dan pengawasan lingkungan secara bersama-sama.
“Masyarakat juga perlu kembali mengaktifkan kepedulian lingkungan seperti berpatroli keliling atau saling menjaga antarwarga,” katanya.
Ia menyebut semangat kebersamaan dan kepedulian sosial yang selama ini menjadi ciri masyarakat Aceh harus kembali diperkuat agar lingkungan tetap aman dan nyaman.
Selain faktor keamanan, Teuku Nanta Muda juga menyoroti aspek sosial dan ekonomi yang dinilai ikut memengaruhi meningkatnya angka kriminalitas, terutama di kalangan anak muda.
Menurutnya, tekanan ekonomi dan terbatasnya lapangan pekerjaan dapat menjadi salah satu pemicu munculnya tindakan kriminal di tengah masyarakat.
“Dan kita juga melihat perlu ada perhatian terhadap faktor sosial dan ekonomi, terutama bagi anak-anak muda, supaya angka kriminalitas bisa ditekan,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah kota bersama seluruh pemangku kepentingan dapat menghadirkan lebih banyak program pembinaan kepemudaan, pelatihan keterampilan, hingga peluang kerja agar generasi muda memiliki aktivitas dan masa depan yang lebih baik.
Dalam kesempatan itu, Teuku Nanta Muda juga meminta masyarakat untuk tidak takut melapor apabila menemukan aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar. Menurutnya, partisipasi warga sangat penting dalam membantu aparat mengungkap kasus-kasus kriminal yang terjadi.
“Yang paling penting, masyarakat jangan takut melapor kalau ada hal-hal mencurigakan. Keamanan kota ini tanggung jawab kita bersama supaya Banda Aceh tetap aman dan nyaman,” tegasnya.
Sebelumnya, keresahan warga terhadap maraknya pencurian disampaikan oleh Khairani, warga Gampong Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, yang mengaku sudah lima kali menjadi korban pencurian dalam beberapa waktu terakhir.
Khairani yang juga Sekretaris perusahaan media online Dialeksis.com mengatakan aksi maling yang terjadi di lokasi tempat usaha sekaligus tempat tinggal keluarganya sudah sangat meresahkan.
Peristiwa terbaru terjadi pada Jumat, 23 Mei 2026 sekitar pukul 06.25 WIB di kawasan Jalan Merpati Raya, Gampong Blang Oi, Kecamatan Meuraxa.
“Sudah lapor ke aparat gampong, tapi tidak ada solusi dan tindakan apa-apa,” ujar Khairani sebelumnya.
Ia mengaku kecewa karena kasus pencurian terus berulang tanpa adanya langkah nyata yang mampu memberikan rasa aman kepada masyarakat.