DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sejarah Islam di Aceh tidak hanya dibangun oleh dakwah dan keilmuan, tetapi juga oleh persahabatan luhur para ulama yang meninggalkan jejak mendalam bagi umat.
Salah satu kisah yang hingga kini terus hidup dalam ingatan masyarakat Aceh dan Indonesia adalah persahabatan erat antara Abu Dahlan al-Fairusy al-Baghdady Tanoh Abee (Teungku Chik Tanoh Abee ke-9) dan Abu Ibrahim Woyla, dua ulama besar yang sangat dihormati pada masanya.
Abu Dahlan Tanoh Abee dikenal sebagai ulama kharismatik pewaris Zawiyah dan Perpustakaan Tanoh Abee di Seulimeum, Aceh Besar.
Lembaga ini merupakan salah satu pusat keilmuan Islam tertua di Aceh yang menyimpan ribuan manuskrip kuno dan telah melahirkan banyak ulama Nusantara.
Sementara itu, Abu Ibrahim Woyla merupakan sosok ulama besar Aceh dengan pengaruh keilmuan yang melampaui batas daerah, bahkan hingga tingkat nasional.
Persahabatan keduanya terjalin sangat dekat dan penuh kehangatan. Abu Ibrahim Woyla tercatat sering berkunjung ke Zawiyah Tanoh Abee, bahkan tak jarang menetap selama beberapa hari.
Di tempat inilah, kedua ulama besar tersebut kerap berdiskusi mendalam mengenai ajaran Islam, persoalan umat, masa depan negeri, serta nilai-nilai keadaban dan kebangsaan yang harus dijaga.
Dalam setiap kunjungannya, Abu Ibrahim Woyla tidak hanya hadir sebagai sahabat, tetapi juga sebagai ulama yang membawa keberkahan.
Doa-doa dan amalan beliau kerap dipanjatkan untuk keluarga Abu Dahlan Tanoh Abee, para santri, serta masyarakat Tanoh Abee. Ikatan spiritual ini semakin memperkuat hubungan batin di antara keduanya.
Kedekatan itu juga tercermin dari hubungan Abu Ibrahim Woyla dengan salah seorang putra Abu Dahlan Tanoh Abee, Teungku Abdul Hafidz, yang sejak muda dikenal memiliki banyak karamah Allah dan kini dikenal masyarakat sebagai Cut Fid Tanoh Abee.
Hubungan tersebut menjadi bagian penting dari kesinambungan sanad keilmuan dan spiritual Zawiyah Tanoh Abee dari generasi ke generasi.
Persahabatan kedua ulama ini tidak hanya bersifat personal, tetapi juga memiliki dimensi kebangsaan. Dalam satu kesempatan, Abu Dahlan Tanoh Abee disebut pernah memperkenalkan Abu Ibrahim Woyla kepada KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden Republik Indonesia ke-4 sekaligus guru bangsa. Momen ini menandai eratnya hubungan ulama Aceh dengan tokoh-tokoh nasional Indonesia.
Kisah penting lainnya terjadi pasca bencana gempa dan tsunami Aceh tahun 2004. Saat itu, Abu Ibrahim Woyla secara khusus mendatangi Zawiyah Tanoh Abee untuk bertemu Abu Dahlan Tanoh Abee.
Dalam pertemuan tersebut, Abu Ibrahim Woyla menyampaikan bahwa “Hikayat 10 Tanda Kiamat”, karya Teungku Chik Tanoh Abee ke-6, Syaikh Abdul Wahab al-Fairusy al-Baghdady”kakek buyut Abu Dahlan--telah terbukti kebenarannya. Hikayat tersebut ditulis pada abad ke-18 Masehi, jauh sebelum peristiwa tsunami melanda Aceh.
Setelah wafatnya Abu Dahlan Tanoh Abee pada tahun 2006, jalinan persahabatan itu tidak terputus. Abu Ibrahim Woyla tetap sering berkunjung ke Tanoh Abee dan menemui Cut Fid Tanoh Abee yang telah menjadi pewaris Zawiyah dan Perpustakaan Tanoh Abee.
Kunjungan tersebut terus berlangsung hingga Abu Ibrahim Woyla wafat pada tahun 2009. Kepergian dua ulama besar ini meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Aceh dan Indonesia.
Kisah persahabatan Abu Dahlan Tanoh Abee dan Abu Ibrahim Woyla menjadi bagian penting dari sejarah Islam Aceh dan Indonesia sebuah teladan bahwa ilmu, akhlak, dan persaudaraan ulama mampu menerangi zaman dan tetap hidup dalam ingatan umat hingga hari ini.