Senin, 26 Oktober 2026
Beranda / Sumatera Pulih / Pemerintah Bangun 89 Huntap, Warga Blang Pandak Senang Bakal Punya Rumah Baru

Pemerintah Bangun 89 Huntap, Warga Blang Pandak Senang Bakal Punya Rumah Baru

Senin, 26 Oktober 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Sebanyak 89 unit hunian tetap (huntap) direncanakan dibangun di atas lahan sekitar 1,6 hektare di Desa Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh. [Foto: Dok. Tim Media Satgas PRR]


DIALEKSIS.COM | Sigli - Hampir 10 bulan warga korban banjir di Desa Blang Pandak tinggal di hunian sementara (huntara). Hal itu membuat penduduk desa di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh menaruh harapan besar pada pembangunan hunian tetap (huntap) yang sedang berjalan. Mereka menantikan kepastian agar dapat segera kembali menempati rumah sendiri.

Khairati, salah seorang warga Desa Blang Pandak, mengatakan merasa senang setelah pembangunan huntap mulai berjalan. Bagi dirinya dan keluarga, rumah permanen menjadi harapan untuk mengakhiri kehidupan di hunian sementara setelah banjir merusak tempat tinggal mereka.

“Perasaan kami senang karena sudah ada huntap tempat tinggal kami. Kami berharap segera selesai supaya bisa tinggal di sana,” kata Khairati.

Saat ini, Khairati tinggal di huntara bersama suami, ibu, dan tiga anaknya. Meski harus menjalani kehidupan di hunian sementara selama berbulan-bulan, ia mengaku tidak mengalami kendala berarti. Ketersediaan air bersih yang kini sudah lancar turut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Namun, ia berharap pembangunan rumah permanen tidak mengalami keterlambatan sehingga keluarganya dapat segera menempati hunian baru.

Percepatan Huntap Masuk Agenda Pemulihan Pascabencana

Pembangunan di Blang Pandak sejalan dengan agenda pemerintah mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Berdasarkan Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera 2026-2028, pemulihan diarahkan untuk membangun kembali wilayah terdampak secara lebih baik, aman, dan berkelanjutan.

Dalam rapat koordinasi dan konferensi pers di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Rabu (21/10/2026), Menteri Dalam Negeri Sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Kasatgas PRR) Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian menekankan pentingnya percepatan pelaksanaan program karena waktu yang tersisa pada 2026 semakin terbatas.

Ia meminta kementerian dan lembaga terkait segera merealisasikan kegiatan yang telah direncanakan serta mendorong pemerintah daerah mendukung pelaksanaannya di lapangan.

“Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tidak berhenti terus melakukan percepatan pemulihan rehabilitasi, rekonstruksi pascabencana Sumatera,” ujar Tito.

Dalam sektor perumahan, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman menargetkan pembangunan 26.036 unit huntap dengan skema relokasi terpusat di tiga provinsi terdampak selama 2026-2027. Jumlah itu terdiri atas 21.228 unit di Aceh, 3.707 unit di Sumatera Utara, dan 1.101 unit di Sumatera Barat.

Tito menjelaskan, pembangunan kompleks huntap terutama ditujukan bagi warga yang kehilangan rumah sekaligus lahan atau tinggal di kawasan rawan bencana.

“Yang (huntap) kompleks itu dikerjakan oleh PKP itu terutama yang rumahnya, tanahnya sudah habis sudah enggak ada lagi atau di daerah merah, satu kampung hilang otomatis dibangunkan lagi kompleks (oleh) PKP,” ujarnya.

89 Huntap Dibangun di Atas Lahan 1,6 Hektare

Di Desa Blang Pandak, sebanyak 89 unit huntap direncanakan dibangun di atas lahan sekitar 1,6 hektare. Pembangunan tersebut termasuk dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana untuk memulihkan kehidupan masyarakat terdampak.

Tim Monev Aceh-1 Komando Taktis Satgas PRR, Laksma TNI Nouldy Tangka, mengatakan pembangunan huntap di lokasi tersebut telah memasuki tahap pematangan lahan.

Satgas PRR mendorong koordinasi lintas instansi untuk mendukung kelancaran pembangunan, termasuk memastikan tersedianya jaringan air bersih bagi kawasan hunian baru.

Sebanyak 89 unit rumah itu menggunakan anggaran APBN 2026 dengan nilai kontrak sekitar Rp20,78 miliar. Rumah dibangun dengan tipe 36 menggunakan teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA), yang dirancang tahan gempa dan mendukung percepatan konstruksi.

Pengerjaan dijadwalkan berlangsung selama 102 hari, sejak 21 September hingga 31 Desember 2026, dengan target penyelesaian paling lambat Januari 2027.

Kualitas Hunian Jadi Bagian Penting Pemulihan

Renduk PRRP Sumatera menegaskan bahwa keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi tidak cukup diukur dari jumlah bangunan yang selesai. Pembangunan juga harus menerapkan prinsip Build Back Better, Safer and Sustainable, yakni membangun kembali dengan lebih baik, lebih aman, dan berkelanjutan.

Prinsip tersebut mencakup kesiapan dan kepastian lahan, pengurangan risiko bencana, peningkatan kualitas bangunan, serta pemulihan akses terhadap layanan dasar. Ketersediaan air bersih, sanitasi, jalan, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, dan sumber penghidupan juga menjadi bagian penting dalam pemulihan permukiman.

Satgas PRR berperan mengoordinasikan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi melalui sinergi kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah agar pelaksanaan program berjalan sesuai rencana.

Di Blang Pandak, harapan itu kini bertumpu pada penyelesaian 89 unit huntap yang sedang dibangun. Bagi Khairati, rampungnya rumah permanen bukan hanya mengakhiri masa tinggal di huntara, tetapi juga menjadi awal untuk menata kembali kehidupan keluarga dengan tempat tinggal yang lebih pasti dan aman. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI