DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pemerintah mengusulkan penambahan kuota program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan hingga 150 ribu ton untuk membantu menjaga keberlangsungan usaha peternak unggas, khususnya skala mikro.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengatakan usulan tersebut akan dibahas dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
"Untuk mengendalikan harga, unlock-nya harga telur di tingkat produsen ini, Bapak Kepala Bapanas sudah memutuskan untuk menambah SPHP jagung sebanyak 150 ribu ton," kata Ketut di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Program SPHP jagung pakan 2026 telah berjalan sejak awal Mei dengan total kuota 213,2 ribu ton. Kuota tersebut terdiri dari 138,65 ribu ton untuk peternak mikro, 50,37 ribu ton bagi peternak kecil, dan 24,17 ribu ton untuk peternak menengah.
Hingga 18 Agustus 2026, realisasi penyaluran mencapai 120,31 ribu ton atau 49,97 persen dari target. Jagung tersebut telah diakses peternak di 28 provinsi, dengan jumlah penerima terbanyak berada di Jawa Timur sebanyak 3.672 peternak dan Jawa Tengah 2.012 peternak.
Bapanas mencatat harga telur ayam di tingkat peternak pada 19 Agustus berada di Rp22.978 per kilogram, masih 13,29 persen di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) Rp26.500 per kilogram.
Sementara itu, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan program SPHP jagung akan diperpanjang hingga akhir 2026 selama masih dibutuhkan peternak.
Harga jagung SPHP ditetapkan Rp5.000 per kilogram di gudang Bulog dan maksimal Rp5.500 per kilogram di tingkat peternak. [red]

