DIALEKSIS.COM | Bireuen - Arus lalu lintas di jalur utama penghubung Banda Aceh-Medan mengalami kemacetan panjang pada libur Lebaran 1447 Hijriah.
Antrean kendaraan dilaporkan mengular hingga sekitar dua kilometer di kawasan Jembatan Awe Geutah - Teupin Reudep tepatnya di Desa Awe Geutah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng,Kabupaten Bireuen, pada Minggu (22/3/2026).
Pantauan di lokasi menunjukkan ratusan kendaraan dari berbagai jenis terjebak dalam antrean panjang untuk dapat melintasi jembatan darurat tersebut. Kendaraan tampak berhenti total hingga mendekati badan jembatan, sementara petugas memberlakukan sistem buka-tutup untuk mengatur arus kendaraan dari dua arah.
Kemacetan semakin parah karena tingginya mobilitas masyarakat pada hari kedua Idulfitri. Banyak warga yang melakukan perjalanan mudik maupun bersilaturahmi ke keluarga di berbagai daerah di Aceh maupun menuju Sumatera Utara.
Seperti diketahui, jembatan rangka baja yang sebelumnya menjadi jalur utama di kawasan tersebut ambruk akibat banjir bandang yang melanda Aceh pada 26 November 2025. Sejak saat itu, pemerintah membangun jembatan bailey sebagai jalur darurat agar konektivitas Banda Aceh“Medan tetap dapat dilalui kendaraan.
Namun kapasitas jembatan darurat tersebut terbatas sehingga arus kendaraan harus diatur dengan sistem buka-tutup, terutama saat volume kendaraan meningkat pada masa libur panjang.
Rauhul Haq, seorang pengemudi mobil pribadi yang ditemui di lokasi, mengaku telah menunggu lebih dari satu jam untuk dapat melintasi jembatan. Ia sedang melakukan perjalanan dari Medan menuju Bireuen untuk mengunjungi keluarganya.
“Sudah satu jam lebih saya menunggu di sini. Saya dari Medan mau ke rumah saudara di Bireuen. Barang yang saya bawa juga kebutuhan pokok, tapi mau bagaimana lagi, semua harus ikut antre,” ujar Rauhul Haq kepada media dialeksis.com.
Menurutnya, kemacetan semakin terasa ketika volume kendaraan meningkat, terutama pada jam-jam ramai saat masyarakat melakukan perjalanan silaturahmi pasca Lebaran.
“Kalau jam ramai begini, kendaraan hampir tidak bergerak. Sistem buka-tutup memang perlu, tapi antreannya jadi sangat panjang,” katanya.
Selain kendaraan pribadi, antrean juga dipenuhi berbagai jenis kendaraan lain seperti truk logistik, minibus penumpang jenis Hiace, bus lintas provinsi, hingga kendaraan keluarga yang melakukan perjalanan mudik.
Sementara itu, Zainal, seorang sopir truk yang juga terjebak kemacetan, mengatakan kondisi antrean di kawasan jembatan tersebut memang sering terjadi sejak jembatan lama putus akibat banjir besar tahun lalu.
Menurutnya, pengendara harus bersabar karena jalur tersebut merupakan satu-satunya akses utama yang menghubungkan Banda Aceh dengan Medan.
“Kalau musim liburan seperti ini memang padat sekali. Semua kendaraan harus antre untuk lewat jembatan darurat,” ujarnya.
Untuk mengurangi kepadatan, Satuan Lalu Lintas Polres Bireuen telah memberlakukan rekayasa lalu lintas dengan memanfaatkan jalur alternatif sejak Jumat, 13 Maret 2026.
Dalam skema tersebut, kendaraan roda empat seperti mobil pribadi dan minibus dari arah Banda Aceh menuju Medan diarahkan melintas melalui Jembatan Kutablang dengan sistem satu arah (one way).
Sedangkan kendaraan dari arah Medan menuju Banda Aceh dialihkan melalui Jembatan Awe Geutah dengan batas maksimal tonase kendaraan 10 ton.
Kebijakan ini diterapkan guna mengurangi antrean panjang di jembatan darurat serta menjaga keselamatan pengguna jalan.
Selain itu, kendaraan dengan tonase lebih besar seperti truk dengan kapasitas hingga 30 ton, kendaraan sumbu tiga, ambulans, mobil pemadam kebakaran, kendaraan pengangkut bahan bakar minyak (BBM), serta kendaraan logistik sembako masih diperbolehkan melintas melalui jalur Kutablang.
Namun pengaturannya tetap menggunakan sistem buka-tutup yang disesuaikan dengan kondisi arus lalu lintas di sekitar lokasi. [nh]