Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Di Tengah Duka Bencana, GP Ansor Banda Aceh Ajak Masyarakat Maknai Idulfitri dengan Empati

Di Tengah Duka Bencana, GP Ansor Banda Aceh Ajak Masyarakat Maknai Idulfitri dengan Empati

Senin, 23 Maret 2026 13:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Banda Aceh, Saiful Amri. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Idul Fitri 1447 Hijriah tahun ini tidak sepenuhnya dirayakan dalam suasana kegembiraan oleh seluruh masyarakat Aceh. Bagi sebagian warga, Lebaran hadir bersamaan dengan duka yang masih membekas akibat bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah dalam beberapa waktu terakhir.

Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Banda Aceh, Saiful Amri, mengatakan bahwa kondisi ini justru menghadirkan makna Idul Fitri yang lebih dalam bagi masyarakat.

Menurutnya, Idul Fitri bukan sekadar momentum perayaan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan, melainkan ruang untuk memperkuat solidaritas sosial di tengah ujian yang dihadapi bersama.

“Idul Fitri tahun ini memang tidak sepenuhnya hadir dalam suasana sukacita. Sebagian saudara kita di Aceh masih merasakan dampak bencana hidrometeorologi, kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan rasa aman,” kata Saiful Amri kepada media dialeksis.com, Senin (23/3/2026).

Namun demikian, ia menilai masyarakat Aceh tetap menunjukkan keteguhan dan kekuatan sosial dalam menghadapi keadaan tersebut.

“Ada yang tetap merayakan sebagaimana mestinya, ada pula yang menyesuaikan dengan keadaan. Di sinilah Idul Fitri menemukan maknanya yang paling mendalam, bukan sekadar perayaan, tetapi ruang untuk saling menguatkan,” ujarnya.

Saiful Amri juga menyoroti tradisi mudik yang menjadi bagian penting dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia. Menurutnya, mudik tidak semata-mata dimaknai sebagai perpindahan fisik dari kota ke kampung halaman.

Lebih dari itu, mudik merupakan kebutuhan batin untuk kembali kepada akar kehidupan, keluarga, serta nilai-nilai yang sering terabaikan dalam kesibukan sehari-hari.

“Mudik bukan hanya perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan batin. Kita kembali kepada keluarga, kepada nilai-nilai, bahkan kepada diri sendiri yang selama ini mungkin terlupakan dalam hiruk-pikuk kehidupan,” katanya.

Dalam refleksinya, Saiful Amri juga mengingatkan bahwa sejarah Islam memberikan pelajaran penting tentang makna Idul Fitri. Ia menyebutkan bahwa Idul Fitri pertama dirayakan oleh umat Islam setelah peristiwa besar dalam sejarah Islam, yakni Battle of Badr.

Saat itu, kata dia, kondisi umat Islam belum sepenuhnya pulih dari luka dan kelelahan setelah menghadapi peperangan. Meski demikian, Rasulullah dan para sahabat tetap merayakan hari kemenangan dengan penuh rasa syukur.

“Idul Fitri pertama dirayakan setelah Perang Badar. Saat itu umat Islam belum sepenuhnya pulih dari luka dan kelelahan. Tetapi Rasulullah SAW dan para sahabat tetap merayakan hari kemenangan dengan kesederhanaan dan rasa syukur,” jelasnya.

Menurut Saiful Amri, fakta historis tersebut menjadi pengingat bahwa Idul Fitri tidak bergantung pada situasi yang serba ideal. Justru dalam kondisi keterbatasan, nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan Idul Fitri menjadi semakin terasa.

“Ia mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan Idul Fitri bukanlah hasil dari kemapanan materi, melainkan dari kejernihan hati,” katanya.

Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk menjadikan Idul Fitri tahun ini sebagai momentum memperkuat empati dan solidaritas terhadap sesama, terutama bagi mereka yang masih berjuang memulihkan kehidupan pascabencana.

Menurutnya, kepedulian sosial, gotong royong, dan saling membantu merupakan nilai yang sangat relevan dalam situasi seperti sekarang.

“Lebaran ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial. Kita mungkin tidak bisa menghapus duka mereka yang terdampak bencana, tetapi kita bisa hadir untuk menguatkan,” ujar Saiful Amri.

Ia berharap semangat kebersamaan yang tumbuh dalam momentum Idul Fitri dapat menjadi energi bagi masyarakat Aceh untuk bangkit dan pulih dari berbagai tantangan yang dihadapi.

“Idul Fitri adalah hari kemenangan. Bukan hanya kemenangan menahan lapar dan dahaga selama Ramadan, tetapi juga kemenangan melawan ego, menguatkan empati, dan mempererat persaudaraan,” pungkasnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI