DIALEKSIS.COM | Meulaboh - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan gambut di Kabupaten Aceh Barat terus meluas. Hingga Minggu, 2 Agustus 2026, luas lahan yang terbakar dilaporkan telah mencapai sekitar 19 hektare.
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat masih melakukan pemadaman dan pendinginan di kawasan lahan gambut Desa Deuah, Kecamatan Samatiga.
Berdasarkan laporan lapangan yang dipublikasikan ANTARA Foto, luas karhutla sebelumnya diperkirakan sekitar 14 hektare. Namun, dalam dua pekan terakhir, area terdampak bertambah menjadi 19 hektare. Perluasan kebakaran dipengaruhi cuaca panas dan tiupan angin kencang yang mempercepat pengeringan vegetasi sekaligus penyebaran api.
Karhutla di Aceh Barat mulai meningkat sejak pertengahan Juli 2026. BPBD mencatat pada Selasa, 21 Juli 2026, luas lahan terbakar mencapai sembilan hektare dan tersebar di tiga kecamatan. Sehari kemudian, luasnya bertambah menjadi sekitar 12,5 hektare dengan sebaran kebakaran meluas ke empat kecamatan.
Sejumlah lokasi yang sebelumnya terdampak antara lain Desa Gunong Kleng di Kecamatan Meureubo, Desa Cot Seumeureng dan Paya Lumpat di Kecamatan Samatiga, serta Desa Lapang dan Leuhan di Kecamatan Johan Pahlawan.
Petugas menghadapi tantangan berat karena kebakaran terjadi di lahan gambut. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat menyimpan bara di bawah tanah. Kondisi tersebut menyebabkan api sulit dipadamkan sepenuhnya dan berpotensi kembali muncul meski permukaan lahan terlihat telah padam.
Selain karakteristik gambut, akses menuju titik api yang terbatas serta sumber air yang jauh dari lokasi turut menghambat proses pemadaman. Petugas harus membawa mesin pompa dan menyambungkan selang dalam jarak panjang untuk menjangkau kawasan yang terbakar.
Ancaman meluasnya karhutla juga sejalan dengan kondisi cuaca nasional. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi El Niño kuat masih berlangsung dan berpotensi menekan pembentukan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Pada Dasarian I Agustus 2026, curah hujan kategori rendah diprediksi mendominasi sekitar 91,43 persen wilayah Indonesia. BMKG juga memasukkan Aceh sebagai salah satu wilayah yang perlu mewaspadai potensi angin kencang pada periode 31 Juli hingga 3 Agustus 2026.
Meski hujan secara lokal masih berpeluang terjadi, kondisi vegetasi yang mengering dan tiupan angin dapat memperbesar risiko kebakaran. BMKG mengimbau masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan gambut, semak belukar dan lahan kering.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan kepada aparatur gampong, BPBD atau petugas pemadam kebakaran apabila menemukan asap maupun titik api agar kebakaran dapat ditangani sebelum meluas. [dbs]