Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Ketua MPU Aceh: Rektor USK Mendatang Harus Berakar pada Kearifan Lokal Aceh

Ketua MPU Aceh: Rektor USK Mendatang Harus Berakar pada Kearifan Lokal Aceh

Rabu, 14 Januari 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk. H. Faisal Ali. Foto: Serambi/Hari Teguh


DIALEKSIS.COM | Aceh - Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk. H. Faisal Ali, yang akrab disapa Abu Sibreh, memberikan tanggapan atas penetapan tiga calon rektor Universitas Syiah Kuala (USK) oleh Majelis Wali Amanat (MWA) pada tahapan penyaringan pemilihan Rektor USK periode 2026 - 2031. Keputusan MWA tersebut tercantum dalam berita acara hasil tahapan penyaringan.

Adapun ketiga calon rektor yang ditetapkan disebutkan secara alfabetis adalah: Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si, Prof. Dr. Ir. Marwan, dan Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A. Ketiganya berhak melaju ke tahapan selanjutnya setelah meraih tiga suara terbanyak dalam proses penyaringan.

Menanggapi penetapan tersebut, Abu Sibreh menegaskan bahwa pemimpin baru USK harus benar-benar memahami dan menginternalisasi kearifan lokal Aceh.

“Kampus jantung hati rakyat Aceh harus tercermin dalam setiap sendi kelembagaan. Rektor yang kami butuhkan bukan sekadar administrator atau akademisi berprestasi di level nasional, tetapi sosok yang paham mendalam konteks keacehan ruh, identitas, dan kebutuhan masyarakat Aceh,” ujarnya kepada Dialeksis saat diminta pandangannya, 14 Januari 2026.

Abu Sibreh menjelaskan lebih lanjut bahwa pemahaman terhadap kearifan lokal tidak sekadar simbolik. Menurutnya, rektor terpilih harus mampu; memastikan bahwa identitas Aceh menjadi bagian nyata dari kebijakan akademik dan budaya kampus; menjawab tantangan zaman dengan solusi yang relevan bagi masyarakat Aceh dan generasi mendatang.

Selain itu pimpinan Pimpinan Ponpes Mahyal Ulum Al-Aziziyah memberikan saran untuk mencetak lulusan yang paham konteks lokal sekaligus memiliki kapasitas intelektual untuk bersaing secara nasional dan internasional;

“Menjadi penghubung antara intelektual dan kearifan lokal, sehingga pengetahuan akademis dapat menjawab persoalan riil masyarakat,” saranya lagi.

“Jangan jauh dari arah kearifan lokal. Artinya, identitas dan kebutuhan Aceh harus menjadi ukuran, bukan sekadar hiasan. Rektor yang baik adalah yang mampu hadir nyata berbuat untuk Aceh dan melahirkan orang-orang yang faham konteks keacehan,” kata Abu Sibreh.

Pernyataan itu sekaligus menjadi amanat bagi seluruh pihak terkait, termasuk MWA, sivitas akademika, dan masyarakat Aceh, untuk menempatkan aspek kultural dan lokal sebagai pertimbangan penting dalam tahapan pemilihan berikutnya.

Proses pemilihan rektor selanjutnya akan dilanjutkan sesuai mekanisme internal USK. Publik menantikan nama rektor terpilih yang tidak hanya kompeten secara akademis dan manajerial, tetapi juga mampu membawa kampus kebanggaan Aceh semakin berkontribusi bagi kesejahteraan dan perkembangan daerah.


Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI