DIALEKSIS.COM | Takengon - Fenomena lubang raksasa di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, yang kian melebar telah terungkap secara ilmiah. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menyatakan lubang tersebut bukanlah sinkhole (lubang ambles akibat pelarutan batuan karbonat), melainkan akibat piping erosion, erosi bawah permukaan yang dipicu aliran air tanah dan air permukaan pada lereng curam.
Hasil kajian resmi Dinas ESDM Aceh yang dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui surat tertanggal 27 Januari 2026 menunjukkan luasan lubang telah bertambah signifikan dari pemantauan sebelumnya. Pada 30 Mei 2022, luasan gerakan tanah tercatat sekitar 28.000 meter persegi; kini area terdampak meluas menjadi lebih dari 30.000 meter persegi (sekitar 3 hektare) dan telah menyentuh badan jalan utama, berkembang ke arah tenggara, serta mengancam permukiman warga.
Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh, Ikhlas, menjelaskan melalui pesan WhatsApp pada Jumat (6/2/2026) bahwa kondisi di Jalan Buter-Pondok Balik secara teknis merupakan piping erosion.
“Longsoran yang ada di Ketol merupakan fenomena erosi bawah permukaan (piping erosion) yang diakibatkan oleh erosi oleh air tanah dan air permukaan, serta disebabkan kondisi tebing yang curam dan dapat dipicu oleh gempa bumi dan hujan,” tulis Ikhlas.
Ikhlas menegaskan perbedaan dengan sinkhole: fenomena sinkhole umum terjadi pada daerah berlapis batugamping atau batuan karbonat yang mudah larut, sehingga pembentukan rongga bawah permukaan terjadi akibat pelarutan batuan tersebut. Sementara di Ketol, pengikisan terjadi karena aliran air bawah permukaan yang mengikis material halus pada lereng curam, bukan pelarutan batuan karbonat.
Dampak terhadap masyarakat dan infrastruktur telah nyata. Tower SUTET milik PT PLN (Persero) harus dipindahkan karena berada sangat dekat dengan bibir lubang, dan peristiwa ini sempat memicu pemadaman listrik di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah. Pemerintah daerah menetapkan lokasi sebagai Zona Merah dan memasang pagar pembatas untuk mencegah masyarakat mendekat demi keselamatan.
Berdasarkan pendataan sementara, sejumlah kebun cabai dan lahan pertanian terdampak, serta tiga unit ruko milik warga mengalami kerusakan. Penanganan teknis kini berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum (PU), yang telah mengirim tim ahli ke lapangan untuk observasi dan kajian mendalam sebelum menentukan langkah konstruktif.
Petugas Kementerian PU, Mulyadi, mengatakan kondisi tanah di lokasi masih labil dan terus mengalami penurunan sehingga analisis memerlukan waktu.
“Analisa saya kemarin di situ masih turun tanahnya. Mungkin dua bulan atau tiga bulan ke depan baru didapat hasil terkait langkah atau bentuk penanganan yang akan dilaksanakan di lokasi tersebut,” ujarnya.
Pergerakan tanah di Desa Pondok Balik sendiri tercatat sudah berlangsung terus-menerus sejak 2011, namun percepatan dan meluasnya fenomena akhir-akhir ini disinyalir dipengaruhi oleh peningkatan curah hujan yang meningkatkan infiltrasi dan aliran bawah permukaan serta faktor topografi yang curam. Berbagai literatur geologi menunjukkan air memegang peran utama dalam pembentukan rongga bawah tanah, baik melalui pelarutan maupun pengikisan butiran halus.
Kejadian di Pondok Balik menjadi pengingat pentingnya pemahaman geologi lokal, pengelolaan tata air yang tepat, serta mitigasi risiko berbasis ilmu pengetahuan. Pemerintah menegaskan keselamatan warga menjadi prioritas utama sambil menunggu rekomendasi teknis dari tim ahli. Masyarakat diimbau tetap waspada dan mematuhi batas aman yang ditetapkan petugas. [ra]