DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di balik toga yang dikenakan Cut Tsunami Sayyidina Putri saat mengikuti wisuda di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, tersimpan kisah perjuangan panjang seorang ayah yang tak pernah menyerah pada keadaan.
Ayahnya, Joni Sukandar (53), warga Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, sehari-hari bekerja sebagai pemulung. Namun, keterbatasan ekonomi tidak pernah menjadi alasan baginya untuk menghentikan pendidikan ketiga putrinya.
Dengan penuh rasa syukur, Joni mengaku bangga melihat putri keduanya berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dan meraih gelar sarjana dari Fakultas Hukum UIN Ar-Raniry.
"Alhamdulillah, anak saya punya jiwa petarung. Saya memang hanya pemulung, tapi saya selalu berusaha agar anak-anak tetap sekolah dan kuliah," ujar Joni kepada Dialeksis.com, Rabu (24/6/2026).
Perjalanan hidup Joni jauh dari kata mudah. Sebelum menjadi pemulung, ia telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari berjualan dan mengantarkan koran kepada pelanggan di Banda Aceh. Profesi itu sudah dijalaninya sejak masih muda.
"Saya sudah lebih dari 30 tahun jual koran. Kalau mulung baru sekitar empat tahun terakhir, karena koran sekarang sudah semakin berkurang. Jadi sambil mencari pelanggan koran, saya juga mengumpulkan barang-barang bekas," katanya.
Setiap hari, Joni berkeliling ke berbagai sudut Kota Banda Aceh untuk mencari barang yang masih memiliki nilai jual. Dari hasil itulah ia memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan anak-anaknya.
Meski penghasilannya tidak menentu, Joni selalu menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Baginya, sekolah adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan.
"Namanya anak kuliah, ya tetap harus dikuliahkan. Walaupun susah, tetap diusahakan. Saya cari rezeki sendiri, yang penting anak-anak bisa sekolah," ujarnya.
Usaha itu kini mulai membuahkan hasil. Putri sulungnya telah menyelesaikan pendidikan dan bekerja sebagai guru. Sementara Cut Tsunami Sayyidina Putri, putri keduanya, baru saja menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum UIN Ar-Raniry. Adapun putri bungsunya saat ini masih menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN).
Bagi Joni, keberhasilan anak-anaknya bukan hanya hasil kerja keras mereka, tetapi juga buah dari keyakinan bahwa pekerjaan apa pun tidak boleh menjadi penghalang untuk bermimpi.
"Saya dari dulu memang cari uang sendiri. Tidak jadi pegawai tidak apa-apa. Yang penting halal dan bisa menghidupi keluarga. Anak-anak juga melihat itu, jadi mereka tidak malu dengan pekerjaan ayahnya," tuturnya.
Nama Cut Tsunami Sayyidina Putri sendiri menyimpan cerita tersendiri. Ia lahir pada masa-masa sulit pascabencana tsunami Aceh tahun 2004. Karena lahir berdekatan dengan peristiwa yang mengubah sejarah Aceh tersebut, kedua orang tuanya sepakat menyematkan nama "Tsunami" sebagai bagian dari identitasnya.
Kini, nama yang lahir dari sebuah tragedi itu justru menjadi simbol keteguhan dan harapan.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Cut Tsunami Sayyidina Putri berhasil membuktikan bahwa kerja keras dan semangat pantang menyerah mampu mengantarkan seseorang meraih pendidikan tinggi.
Dengan ketulusan, kerja keras, dan tekad yang kuat, seorang pemulung pun mampu mengantarkan anaknya berdiri di panggung wisuda dan menggapai masa depan yang lebih cerah.
"Yang penting jangan putus asa. Kerja apa saja yang halal tidak masalah. Pendidikan anak harus tetap diperjuangkan," pungkas Joni. [nh]
