Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Warga Linge Masih Mengungsi di Tenda, Huntara Belum Rampung Jelang Idulfitri

Warga Linge Masih Mengungsi di Tenda, Huntara Belum Rampung Jelang Idulfitri

Jum`at, 20 Maret 2026 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Warga Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah sedang melaksanakan salat hari raya Idulfitri 1447 Hijriah di halaman tempat pengungsian. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Takengon - Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, sebagian warga yang terdampak bencana di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, masih harus bertahan hidup di tenda pengungsian.

Hingga kini, pembangunan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat terdampak belum sepenuhnya rampung, sehingga banyak warga belum dapat kembali hidup dengan layak.

Sertalia, warga Kemukiman Wih Dusun Jamat, mengungkapkan bahwa kondisi pengungsian masih menjadi kenyataan pahit bagi masyarakat di sejumlah desa di wilayah tersebut.

Ia mengatakan, hingga saat ini belum ada satu pun desa terdampak di Kecamatan Linge yang pembangunan hunian sementaranya benar-benar selesai.

“Karna huntara yang dibangun oleh pemerintah belum selesai, sampai sekarang masih ada delapan desa di Kecamatan Linge yang warganya tinggal di tenda atau tempat pengungsian,” ungkap Sertalia kepada media dialeksis.com, Jumat (20/3/2026).

Adapun delapan desa-desa tersebut antara lain Kute Reje, Delung Sekinel, Jamat, Reje Payung, Umang, Penarun, Paten Nagka, Gewat, dan Lumut.

Menurut Sertalia, sebagian warga memang tidak lagi berada di tenda pengungsian karena memilih tinggal di rumah keluarga atau kerabat. Namun kondisi tersebut tetap jauh dari kata normal karena mereka belum memiliki tempat tinggal tetap.

“Sebagian memang tidak di pengungsian, tetapi tinggal di rumah keluarga mereka. Banyak juga warga yang terdampak langsung belum terdaftar sebagai penerima huntara maupun bantuan biaya hidup,” ujarnya.

Selain mendesak percepatan pembangunan huntara, Sertalia juga berharap pemerintah segera menghadirkan fasilitas kesehatan darurat di kawasan pengungsian.

Ia menyebut, keberadaan pos kesehatan atau polindes darurat sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang masih bertahan di lokasi pengungsian.

“Kami berharap pemerintah segera membangun pos kesehatan atau polindes darurat di area pengungsian. Selain itu juga perlu dilakukan pengecekan kualitas air bersih yang kami konsumsi setiap hari,” kata Sertalia.

Tidak hanya itu, warga juga berharap pemerintah membantu menormalisasi kembali lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.

Menurutnya, akses menuju kebun dan sawah hingga saat ini masih terganggu akibat dampak bencana. Bahkan sebagian warga kehilangan lahan usaha yang sebelumnya menjadi penopang ekonomi keluarga.

“Kami juga berharap lahan-lahan pertanian kami dinormalisasi kembali, akses ke kebun dan sawah diperbaiki, serta diberikan lokasi baru untuk usaha kami. Jangan biarkan kami terus bergantung pada bantuan,” tegasnya.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, secercah kebahagiaan sempat hadir bagi warga pengungsian. Masyarakat di Kemukiman Wih Dusun Jamat menerima bantuan kerbau untuk daging meugang menjelang Idulfitri.

Bantuan tersebut berasal dari Presiden Prabowo Subianto yang disalurkan kepada masyarakat terdampak bencana.

Hamdan, Reje Kampung Kute Reje, menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah atas bantuan tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden dan juga pemerintah provinsi serta kabupaten, khususnya Dinas Pertanian yang telah menyalurkan bantuan kerbau untuk daging meugang Idulfitri ini,” ujar Hamdan.

Ia menjelaskan, tradisi meugang tetap dilaksanakan oleh masyarakat meskipun dalam kondisi pengungsian.

“Hari Kamis kami melaksanakan meugang satu hari sebelum Idulfitri seperti biasa. Hari ini kami langsung membagikan daging kepada setiap kepala keluarga. Alhamdulillah setiap KK mendapatkan daging sekitar 2,5 kilogram termasuk tulang dan bagian lainnya,” jelasnya.

Menurut Hamdan, berdasarkan perhitungan awal Ramadan yang diikuti oleh sebagian masyarakat, warga di sejumlah desa di Kemukiman Wih Dusun Jamat akan melaksanakan Salat Idulfitri lebih awal.

“Berdasarkan hitungan Ramadan yang kami ikuti, besok kami sudah melaksanakan salat Idulfitri 1447 Hijriah di area pengungsian ini,” katanya.

Ia menambahkan, dari lima desa yang berada di wilayah Kemukiman Wih Dusun Jamat, tiga desa melaksanakan Salat Idulfitri pada Jumat, yakni Kute Reje, Jamat, dan Delung Sekinel. Sementara dua desa lainnya, yaitu Reje Payung dan Linge, akan melaksanakan Salat Idulfitri pada Sabtu. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI