Sabtu, 31 Oktober 2026
Beranda / Berita / Bibit Siklon 91B Terdeteksi, Aceh Siaga Cuaca Ekstrem

Bibit Siklon 91B Terdeteksi, Aceh Siaga Cuaca Ekstrem

Sabtu, 31 Oktober 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

TCWC Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Foto: BMKG.


DIALEKSIS.COM | Aceh - Bumi Serambi Mekah menghadapi potensi hujan lebat hingga sangat lebat pada akhir Oktober hingga awal November 2026. Kemunculan bibit siklon tropis 91B di Laut Andaman menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika cuaca. Masyarakat diminta mewaspadai banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang.

Dalam prakiraan periode 30 Oktober - 1 November 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memasukkan Aceh dan Sumatera Utara ke dalam kategori siaga hujan lebat hingga sangat lebat. Kedua provinsi juga berpotensi mengalami angin kencang. 

BMKG menjelaskan, keberadaan bibit siklon 91B turut memengaruhi pola angin regional dan mendukung pembentukan awan hujan. Pada laman pemantauan siklon tropis BMKG, sistem tersebut tercatat berada di Laut Andaman dan bergerak ke arah barat laut menjauhi Indonesia. Aceh termasuk wilayah yang berpotensi menerima dampak cuaca ekstrem dari sistem tersebut. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dalam keterangannya pada Kamis (29/10/2026), menyebut bibit siklon 91B terpantau terbentuk pada hari yang sama pukul 01.00 WIB di Laut Andaman, sebelah utara Aceh.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengingatkan pemerintah daerah agar mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi basah seiring perkembangan cuaca tersebut.

Sebelumnya, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Cucu Kusmayancu, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer berpotensi meningkatkan curah hujan di Aceh pada 29 - 31 Oktober 2026. Dalam keterangannya pada 29 Oktober yang diberitakan detikSumut, bibit siklon itu memiliki angin maksimum sekitar 25 knot atau 46 kilometer per jam dan tekanan udara minimum 1.009 hPa.

Selain bibit siklon, pembentukan awan hujan didukung gelombang Kelvin, belokan dan pertemuan angin, suhu muka laut yang hangat, serta kelembapan udara yang tinggi. Untuk periode tersebut, BMKG memetakan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Aceh Besar, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Pidie, dan Sabang. 

Pada Sabtu (31/10/2026) pagi, Prakirawan BMKG Aceh juga menerbitkan peringatan dini pukul 04.40 WIB. Peringatan itu memuat potensi hujan sedang hingga lebat, disertai kilat atau petir dan angin kencang, mulai pukul 04.50 WIB di sejumlah kecamatan. 

Di Kabupaten Aceh Barat, wilayah yang disebut meliputi Johan Pahlawan, Kaway XVI, Woyla, Samatiga, Bubon, Arongan Lambalek, Meureubo, Woyla Barat, dan Woyla Timur.

Di Kabupaten Simeulue, potensi cuaca tersebut mencakup Simeulue Tengah, Salang, Teupah Barat, Simeulue Timur, Teluk Dalam, Simeulue Barat, Teupah Selatan, Alafan, Teupah Tengah, dan Simeulue Cut.

Untuk Kabupaten Aceh Singkil, wilayahnya meliputi Pulau Banyak, Singkil, Gunung Meriah, Kota Baharu, Singkil Utara, Kuala Baru, dan Pulau Banyak Barat. Sementara di Kabupaten Aceh Jaya mencakup Teunom, Krueng Sabee, Setia Bakti, Panga, dan Pasie Raya. Di Kabupaten Nagan Raya, peringatan awal menyebut Kecamatan Kuala Pesisir.

BMKG memperkirakan hujan dapat meluas ke Kabupaten Aceh Selatan, yakni Bakongan, Kluet Utara, Kluet Selatan, Trumon, Pasi Raja, Kluet Tengah, Kluet Timur, Bakongan Timur, Kota Bahagia, dan Trumon Tengah.

Perluasan di Aceh Barat juga berpotensi menjangkau Sungai Mas, Pante Ceureumen, dan Panton Reu, selain kecamatan yang telah disebut dalam peringatan awal.

Di Aceh Singkil, potensi perluasan meliputi Simpang Kanan, Danau Paris, Suro Makmur, dan Singkohor. Di Aceh Jaya, wilayah tambahan mencakup Sampoiniet, Indra Jaya, dan Darul Hikmah.

Adapun di Nagan Raya, hujan berpotensi meluas ke Kuala, Seunagan, Seunagan Timur, Beutong, Darul Makmur, Suka Makmue, Tadu Raya, dan Tripa Makmur. Potensi serupa juga mencakup Rundeng dan Longkib di Kota Subulussalam serta wilayah sekitarnya.

Peringatan dini pagi tersebut berlaku hingga pukul 09.00 WIB pada 31 Oktober 2026. Setelah masa berlakunya berakhir, perkembangan cuaca perlu merujuk pada pembaruan BMKG. Prakiraan periode 30 Oktober - 1 November tetap menjadi acuan kewaspadaan yang terpisah dari peringatan jangka pendek tersebut. 

Di sektor perairan, BNPB dalam keterangan 29 Oktober juga menyampaikan potensi gelombang 1,25 - 2,5 meter di Selat Malaka bagian utara sebagai dampak tidak langsung bibit siklon untuk prakiraan 24 jam saat itu. Kondisi pelayaran selanjutnya perlu mengikuti informasi cuaca maritim terbaru. 

BNPB meminta pemerintah daerah mengaktifkan posko siaga, menyiapkan peralatan dan logistik, membersihkan saluran air, serta memastikan jalur evakuasi dan tempat pengungsian siap digunakan.

Masyarakat diimbau mengenali jalur evakuasi, menyiapkan dokumen penting, serta mewaspadai tanda longsor seperti retakan tanah dan pohon miring. Warga juga diminta mengikuti arahan petugas serta pembaruan informasi resmi.

“Selalu pantau informasi dan arahan resmi dari BMKG, BNPB, dan BPBD setempat,” demikian imbauan BNPB. 

Informasi cuaca dapat dipantau melalui laman BMKG, aplikasi InfoBMKG, media sosial resmi @infobmkg, serta layanan nowcasting BMKG. 

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI