Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Celoteh Warga / Agusni AH Menulis Luka dalam “Membatu”

Agusni AH Menulis Luka dalam “Membatu”

Senin, 18 Mei 2026 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Agusni AH

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Agusni AH, penyair sekaligus penulis yang dikenal dengan sentuhan narasi puitisnya, kembali menghadirkan sebuah cerpen berjudul “Membatu”. Sebuah balada sunyi tentang sepasang suami-istri yang perlahan tenggelam dalam dinginnya perasaan dan kerasnya ego. Cerita ini mengalir lirih, menuturkan retaknya rumah tangga yang bermula dari diam, luka yang dipendam, serta ketidakmampuan membaca isi hati satu sama lain, hingga akhirnya berakhir pada perceraian yang tak lagi memiliki jalan pulang setelah talak tiga terucap dari bibir sang lelaki.

Melalui narasi yang sendu dan penuh perenungan, “Membatu” bukan sekadar kisah tentang patah hati dan perpisahan. Cerpen ini juga menjadi cermin batin tentang betapa berbahayanya amarah yang dibiarkan menguasai diri dalam kehidupan rumah tangga. Sebab ada kata-kata yang, sekali terucap, tak akan pernah bisa ditarik kembali, meski penyesalan datang dan menetap sepanjang usia.

Lebih dari itu, cerpen ini seolah mengingatkan kita, khususnya sebagai Muslim, agar senantiasa menjaga lisan, menahan emosi, dan berhati-hati dalam mengambil keputusan ketika pertengkaran datang menghampiri. Karena yang hancur terkadang bukan hanya ikatan antara dua insan, melainkan juga harapan, kenangan, serta jalan pulang yang perlahan lenyap tanpa sisa.

Berikut dapat Anda simak cerpen “Membatu” karya Agusni AH.

MEMBATU

_______

Cerpen: Agusni AH


“Iya, karena hati dan perasaanku terbuat dari kayu dan batu.

Hanya kau pemilik hati yang paling rapuh.

Hanya kau yang punya perasaan yang paling kelu. Sedangkan aku tak lebih sebongkah batu yang bersosok dungu.”

Perempuan itu mendengus seraya menarik napasnya dalam-dalam, tanpa airmata. Selanjutnya ia diam sembari berlangkah gontai menuju bibir pantai malam yang membisu.

Debur ombak terdengar lirih seperti seseorang yang sedang menahan tangis agar tak pecah. Langit malam menggantung luas. Bulan pucat mengapung di atas laut seperti luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Angin malam meniup pelan, merambat daratan seiring ombak-ombak yang pecah menghempas pantai sunyi. 

Kedua tangannya melipat di dada, seakan sedang memeluk kehancuran yang tak lagi mampu ia sembunyikan.

Sesosok lelaki di belakangnya mematung. Diam membisu, diam yang panjang.

Diam yang terasa lebih dingin dari kematian.

“Aku lelah,” ucap perempuan itu dengan pandangan kosong mengarah ke laut lepas. “Aku terlalu lama berbicara dengan seonggok makhluk seperti tak bernyawa.”

Lelaki itu menunduk. Tangannya mengepal. Di tengah suasana hatinya yang kelu, pelan-pelan ia bicara: “maaf...aku tak pernah berniat melukaimu.”

“Tapi kau melakukannya.” Sergah perempuan itu. “Dan itu terjadi berulang kali.”


Ombak datang, menyentuh ujung kaki yang telanjang, lalu kembali surut dengan bentukan gelembung-gelumbung air yang berbuih seperti seseorang yang tak diterima kedatangannya.

“Aku hanya tak pandai menunjukkan perasaan,” timpal lelaki itu lirih.

Perempuan itu mengernyit dan tertawa kecil. Tawa yang terdengar getir dan retak.

“Tidak,” katanya sambil menggeleng pelan. “Kau bukan tak pandai mencinta. Kau hanya terlalu sibuk menyembunyikan hati sampai akhirnya benar-benar kehilangan rasa.” 

Mendengar ucapan perempuan seperti menyeru, seperti gelombang dan ombak yang pecah begitu saja. Lelaki itu ingin menyangkal, tetapi suara-kata seperti mati di tenggorokannya. Sejak dulu memang begitu. Ia selalu kalah oleh diamnya sendiri. Tercekat. Setiap kali perempuan itu menangis, ia memilih bungkam. 

Malam kian larut. Lampu-lampu kapal di kejauhan tampak seperti kunang-kunang tersesat di tengah samudera malam yang gelap. Keduanya masih menghadap lautan seperti dua alur pikiran yang masig-masing tengah berenang di lautan yang dalam.

 “Aku pernah menunggumu berubah,” katanya pelan. “Sangat lama.”

Lelaki itu memandang punggungnya yang tampak rapuh.

“Setiap kali kau melukaiku, aku selalu berpikir mungkin besok kau akan berbeda. Mungkin besok kau akan mendekapku lebih erat sehingga jalan pikiran dan hati yang dipenuhi harapan menjadi menyatu dalam satu rasa." Ujar perempuan itu lebih pelan, namun sangat menghujam jiwa lelaki yang kini semakin tak berarti di matanya. Walau secara diam-diam masih menyimpan sejuta rasa, tapi kini ia lebih memilih mengurungnya. Dan, takkan lagi mengharapkan secuil asa apa pun pada lelaki yang jauh sebelumnya sangat dipuja. 

"Mungkin besok kau akan mengatakan silahkan pergi jauh-jauh, dan jangan pernah kembali lagi.” Ia menarik napas panjang. 

Angin malam berembus lebih kencang. Membawa aroma laut yang penuh kesepian.

Lelaki itu perlahan mendekat, merapat ke belakang tubuh perempuan yang telah diceraikannya. Dekat sekali. Namun, ada rasa jarak menyeruak dipenuhi luka.

“Sejujurnya aku masih sangat menyintaimu,” ungkapnya senada alunan gelombang ombak yang memecah di bibir pantai.

Perempuan itu menoleh. Tatapannya kosong, tetapi justeru di situlah segala kehancuran bersemayam. Bahkan bisa terkuburkan.

“Kau tahu apa yang paling menyakitkan ?” Tanyanya lirih. “Dicintai seseorang yang tak pernah tahu cara memperlakukan cinta.”

Kalimat itu menghantam lelaki, jauh lebih keras daripada ombak yang pecah di karang.

Ia menunduk dalam-dalam.

Seumur hidupnya, ia pikir mencintai cukup dengan bertahan. Cukup dengan tidak berpaling. Cukup dengan tetap tinggal. Selebihnya diam, dan menganggap semuanya akan baik-baik saja. Namun malam itu ia sadar, cinta ternyata bukan sekadar menetap. Cinta adalah memberi hangat pada hati yang menggigil.

Dan ia gagal melakukannya. Lelaki itu lebih memilih kata-kata kasar, ucapan menyakitkan meluncur begitu saja. Tak terkecuali pernyataan "talak", padahal itu adalah sesuatu yang paling dibenci Tuhan. Namun, terkadang manusia lebih memilih hawa nafsunya. Walau hanya dari peesoalan sederhana. Seyogyanya lelaki dituntut lebih berhati-hati dalam menjaga lisan dan sikapnya. Lelaki adalah khalifah, lelaki adalah imam, yang semuanya mesti dijaganya.

Perempuan itu beranjak perlahan. Ujung gaun panjangnya mengibas pasir-pasir yang basah.

“Aku pernah menjadi seseorang yang paling sabar menunggumu,” ucapnya. “Tapi, bahkan kesabaran pun punya liang kubur seperti ruang menuju ajal oleh setiap makhluk bumi.”

“Kau benar-benar mau pergi lagi ?” Tanya lelaki itu.

“Aku sudah terlalu lama tinggal di tempat yang membuatku merasa sendirian.” Perempuan itu menyela.

“Jangan...!” Suara yang tertahan.

Satu kata itu akhirnya keluar dari mulut lelaki tempramental itu. "Kau jangan pergi lagi...!" Seru lelaki itu yang selama ini tak pernah berhasil ia ucapkan ketika perempuan itu berkali-kali ingin menyerah.

Namun semuanya terlambat. Menjadi tak berarti.

Perempuan itu tersenyum tipis. Senyum yang justeru lebih menyakitkan daripada tangisan.

“Saat aku hampir benar-benar hilang, dan tenggelam kesendirian, baru kau mencoba menggenggam dan berusaha menariknya," pungkas perempuan itu lagi.

Langit mendadak gerimis. Titik-titik hujan jatuh perlahan memenuhi, di atas pasir, juga di wajah keduanya.

Entah kenapa lelaki itu merasa malam sedang berkabung. Bagai dirundung pilu panjang dari sebuah kematian.

“Aku tidak membencimu,” lanjut perempuan itu. “Aku hanya lelah menjadi satu-satunya yang hidup di antara hubungan yang mati. Dan kita tak mungkin rujuk lagi karena aku telah kau jatuhkan talak tiga, bukan...!?"

"Cukup Aku yang tahu caraku mencintaimu dengan sepenuh rasaku. 

Terima kasih akan sakit ini, aku yang dungu tetap mencintaimu dengan caraku."

 Perempuan itu melangkah gontai, menjauh perlahan. Jejak kakinya tertinggal di pasir basah sebelum akhirnya dihapus ombak.

Lelaki itu terpaku memandang punggung yang semakin jauh.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah mampu ia pahami. Lelaki itu terduduk lemas di pasir hamparan pasir basah. Hujan semakin rapat turun dari langit malam. Air membasahi rambut dan wajahnya, sekujur tubuhnya kuyup, tetapi tetap saja matanya kering.

Mungkin beginilah rasanya menjadi batu.

Tak mampu menangis bahkan ketika seluruh dunia di dalam dadanya sedang runtuh. Dan ia tenggelam dalam lautan nestapa. Dalam malam yang kian membatu.*.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI