DIALEKSIS.COM | Tehran - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan bahwa Selat Hormuz hanya ditutup bagi kapal tanker dan kapal yang dianggap musuh Iran, sementara kapal-kapal dari negara lain dipersilakan transit. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan jaringan televisi AS MS Now, di mana Araqchi menegaskan: “Selat Hormuz hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh Iran. Kepada mereka yang menyerang Iran dan sekutu mereka. Yang lain dipersilakan untuk lewat.”
Araqchi juga mengakui bahwa banyak negara memilih menghindari rute tersebut karena alasan keselamatan, tetapi menegaskan bahwa keputusan itu bukan merupakan tanggung jawab Iran. “Tentu saja, banyak dari mereka lebih memilih untuk tidak lewat karena masalah keamanan. Ini tidak ada hubungannya dengan kami,” ujarnya.
Menurut Araqchi, meski ketegangan tinggi, masih ada kapal-kapal yang berhasil melintas. Dia menyebut setidaknya kapal dari India dan China telah melewati selat itu secara aman dalam beberapa hari terakhir. Pernyataan ini datang di tengah klaim Iran bahwa beberapa serangan terhadap kapal di sekitar jalur itu adalah tindakan yang dilancarkan sebagai respons terhadap serangan terhadap Tehran dan sekutunya.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi ekonomi global ” sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia melewati selat sempit inisehingga gangguan pada arus lalu lintasnya berdampak langsung pada pasar energi global.
Gangguan di perairan ini telah mendorong lembaga internasional dan negara-negara konsumen minyak untuk melepas cadangan strategis. Badan Energi Internasional (IEA) dan aliansi negara-negara besar mengumumkan pelepasan cadangan minyak bersama ” total sekitar 400 juta barel ” untuk menstabilkan pasokan dan menekan lonjakan harga minyak. Langkah ini menjadi respons atas penutupan dan serangan yang mengganggu arus perdagangan minyak.
Dampak pasar terasa segera: harga minyak acuan melonjak signifikan selama pekan terakhir, mendorong kekhawatiran inflasi dan tekanan pada ekonomi pengimpor energi. Selain faktor pasokan, gangguan asuransi dan keselamatan awak kapal ikut membuat operator menghindari rute-rute normal. (Data harga komoditas dan pergerakan pasar dilaporkan oleh pelaku pasar internasional).
Sementara itu, Kelompok militer Iran Korps Garda Revolusi Islam sebelumnya menyatakan bahwa setiap kapal yang ingin melewati Selat Hormuz harus mendapatkan izin dari pihak Iran, dan menegaskan tindakan terhadap kapal yang dianggap mengabaikan peringatan tersebut. Pernyataan semacam ini memperkuat alasan beberapa negara dan operator kapal untuk menghindari rute tersebut demi keselamatan awak dan kargo.
Kasus konkret yang memperburuk ketegangan: beberapa kapal dilaporkan diserang di dan sekitar Selat Hormuz, termasuk sebuah kapal berbendera Thailand yang mengalami kerusakan dan menimbulkan korban. Pemerintah-pemerintah negara yang mengalami kerusakan atau kehilangan awak telah meminta klarifikasi dan/atau menjatuhkan aksi diplomatik kepada Tehran. Insiden-insiden itulah yang menjadi latar dilema keamanan maritim saat ini.
Dengan kondisi ini, Araqchi menyerukan agar negara-negara yang merasa terancam menempuh jalur diplomasi dan koordinasi. Namun para pengamat dan pelaku industri pelayaran menilai bahwa normalisasi penuh lalu lintas laut di Selat Hormuz masih sangat bergantung pada perkembangan politik dan militer di lapangan ” termasuk kepastian keamanan nyata bagi kapal-kapal dagang dan tanker.