Minggu, 28 Juni 2026
Beranda / Berita / Dunia / AS Serang Iran Usai Tuduh Teheran Langgar Gencatan Senjata di Selat Hormuz

AS Serang Iran Usai Tuduh Teheran Langgar Gencatan Senjata di Selat Hormuz

Sabtu, 27 Juni 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Sebuah pesawat tempur F-35B Lighting II, yang tergabung dalam Skuadron Serangan Tempur Marinir (VMFA) 121, lepas landas dari dek penerbangan kapal serbu amfibi kelas Amerika USS Tripoli (LHA 7), 13 Mei 2026. [Foto: U.S. Navy]


DIALEKSIS.COM | Washington - Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer Iran pada Jumat (26/6/2026) setelah Washington menuduh Teheran melanggar perjanjian gencatan senjata dengan menyerang kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut menyasar lokasi penyimpanan rudal, drone, serta radar pantai milik Iran. Menurut CENTCOM, langkah itu diambil sebagai respons atas serangan drone Iran terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur pelayaran strategis tersebut.

Dalam pernyataannya di platform X, CENTCOM mengatakan sebuah drone serang satu arah yang diluncurkan Iran pada Kamis menghantam kapal kargo berbendera Singapura, Ever Lovely, di perairan dekat Oman. Kapal itu dilaporkan tetap dapat melanjutkan pelayarannya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengklaim militer AS berhasil menembak jatuh tiga drone lain yang disebut mengarah ke kapal-kapal di Selat Hormuz.

"Agresi yang tidak beralasan terhadap pelayaran komersial oleh pasukan Iran merupakan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata," demikian pernyataan CENTCOM.

Menurut militer AS, tindakan Iran turut mengganggu kebebasan navigasi di salah satu jalur perdagangan dan distribusi minyak terpenting di dunia.

Serangan ini terjadi hanya lebih dari sepekan setelah Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman yang dimaksudkan sebagai langkah awal menuju kesepakatan damai permanen antara kedua negara.

Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance juga melakukan kunjungan ke Swiss untuk membahas implementasi kesepakatan tersebut bersama perwakilan Iran.

Dalam unggahan di X, Vance menegaskan bahwa Amerika Serikat telah mematuhi isi perjanjian. "Iran menandatangani perjanjian gencatan senjata. Kami telah menghormatinya," tulis Vance.

Ia menambahkan bahwa jika terdapat perbedaan pandangan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman, Iran seharusnya menyelesaikannya melalui jalur komunikasi, bukan dengan tindakan militer.

Tak lama sebelum serangan diumumkan, Trump sempat ditanya wartawan di Gedung Putih mengenai kemungkinan respons terhadap dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Iran.

"Anda akan mengetahuinya," jawab Trump singkat.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membantah tuduhan AS dan menyatakan justru Washington yang melanggar kesepakatan. Dalam pernyataannya, IRGC menyebut serangan udara AS dilakukan dengan dalih melindungi kapal yang disebut melintas melalui jalur yang tidak sah di Selat Hormuz.

IRGC mengaku Angkatan Lautnya telah membalas serangan tersebut dengan menyerang posisi militer AS di kawasan.

Iran juga mengklaim pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz berada di bawah kewenangannya sesuai ketentuan dalam nota kesepahaman yang mereka sebut sebagai Memorandum Kesepahaman Islamabad.

"Jika agresi ini kembali terjadi, respons kami akan jauh lebih luas," demikian peringatan IRGC.

Di sisi lain, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menilai tindakan AS menunjukkan Washington tidak berkomitmen terhadap proses negosiasi maupun gencatan senjata.

"AS kembali menyerang Iran di tengah proses perundingan. Pelanggaran gencatan senjata ini hanya akan berujung pada penyesalan di pihak mereka," tulis Azizi melalui akun X miliknya.[dm-cnbc]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes