DIALEKSIS.COM | Pyongyang - Korea Utara kembali melontarkan peringatan keras terhadap Jepang dan Korea Selatan setelah kedua negara sepakat memperluas kerja sama pertahanan di tengah meningkatnya tensi keamanan di Semenanjung Korea. Pyongyang menilai penguatan aliansi militer Seoul-Tokyo merupakan tindakan yang justru memperbesar risiko konflik di kawasan.
Pernyataan itu disampaikan Kepala Bagian Institut Studi Negara Musuh Korea Utara, Kang Chol Su, melalui media resmi Korean Central News Agency (KCNA). Ia menyebut langkah Jepang dan Korea Selatan sebagai tindakan yang "mencari kehancuran sendiri".
"Kerja sama Seoul-Tokyo merupakan tindakan bodoh yang sama saja dengan mencari mati," kata Kang, sebagaimana dikutip Yonhap.
Menurut Kang, peningkatan hubungan pertahanan kedua negara tidak akan sedikit pun mengurangi kemampuan pencegahan (deterrence) Korea Utara. Ia menegaskan negaranya tetap memiliki posisi strategis sebagai negara bersenjata nuklir.
"Tidak akan pernah ada perubahan terhadap sikap tegas yang telah dibangun di Semenanjung Korea oleh negara dengan kekuatan senjata nuklir yang kuat," ujarnya.
Kang secara khusus menyoroti pertemuan Menteri Pertahanan Korea Selatan dan Jepang yang digelar di Seoul pada akhir Juni lalu. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara sepakat memperluas kerja sama pertahanan, termasuk di bidang teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), latihan pencarian dan penyelamatan, hingga peningkatan pertukaran militer.
Selain itu, Pyongyang juga menyinggung pengisian bahan bakar pesawat tempur Korea Selatan di pangkalan militer Jepang yang terjadi awal tahun ini. Menurut Kang, perkembangan tersebut menjadi indikasi bahwa Seoul dan Tokyo sedang membangun fondasi menuju perjanjian dukungan logistik militer yang memungkinkan kedua negara saling memasok amunisi, bahan bakar, dan kebutuhan tempur lainnya dalam kondisi darurat.
"Kerja sama keamanan Jepang dan Korea Selatan pada hakikatnya adalah kerja sama konfrontatif yang secara langsung menargetkan DPRK (Korea Utara)," tegasnya.
Aliansi Tiga Negara Dinilai Semakin Solid
Pyongyang juga menilai penguatan hubungan Seoul-Tokyo tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari semakin eratnya kerja sama trilateral bersama Amerika Serikat.
Beberapa hari lalu, Menteri Luar Negeri Jepang, Amerika Serikat, dan Korea Selatan kembali menggelar pertemuan di sela-sela KTT NATO di Turki. Dalam forum tersebut, ketiga negara menegaskan komitmen memperkuat koordinasi strategis menghadapi ancaman keamanan kawasan, termasuk isu nuklir dan rudal Korea Utara.
Bagi Korea Utara, konsolidasi tiga negara tersebut justru dijadikan alasan untuk terus memperkuat program persenjataan strategisnya.
Kang menegaskan, semakin besar tekanan militer dari negara-negara sekutu Amerika Serikat, semakin kuat pula alasan Pyongyang mempertahankan dan mengembangkan kemampuan nuklirnya.
Ketegangan Kembali Memanas
Pernyataan keras Pyongyang muncul di tengah meningkatnya aktivitas militer Korea Utara dalam beberapa pekan terakhir. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un baru-baru ini mengawasi uji coba berbagai sistem persenjataan dari kapal perusak terbaru negaranya, termasuk rudal jelajah yang diklaim mampu membawa hulu ledak nuklir. Langkah tersebut menjadi bagian dari ambisi Pyongyang membangun kekuatan angkatan laut modern yang memiliki kemampuan serangan nuklir.
Situasi semakin memanas setelah Korea Utara pada Sabtu (11/7) juga mengecam hasil KTT NATO. Pyongyang menuding Amerika Serikat bersama para sekutunya terus memperluas blok militer dan memperkuat konfrontasi global. Dalam pernyataan resminya, Korea Utara bahkan menegaskan akan terus meningkatkan kualitas maupun kuantitas arsenal nuklirnya sebagai respons terhadap tekanan dari Washington beserta sekutunya, termasuk Jepang dan Korea Selatan.
Di tengah rivalitas tersebut, kawasan Asia Timur kembali menghadapi dinamika keamanan yang semakin kompleks. Penguatan aliansi Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan di satu sisi dibalas dengan percepatan modernisasi militer Korea Utara yang terus menjadikan kemampuan nuklir sebagai pilar utama strategi pertahanannya.
Sejumlah pengamat menilai kondisi ini berpotensi memperpanjang spiral perlombaan senjata di kawasan apabila tidak diimbangi dengan upaya diplomasi yang efektif.