DIALEKSIS.COM | Madrid - Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengumumkan pemilihan umum (pemilu) dini yang akan digelar pada 29 November mendatang. Keputusan itu diambil setelah Kongres menolak sejumlah langkah pemerintah untuk meredam kemarahan publik terkait krisis perumahan.
Dikutip dari berbagai sumber, pengumuman tersebut disampaikan Sánchez pada Senin (5/10/2026). Krisis perumahan dalam beberapa waktu terakhir memicu gelombang demonstrasi di berbagai wilayah Spanyol.
Puluhan ribu warga turun ke jalan sepanjang akhir pekan. Aksi tersebut bahkan diwarnai bentrokan dengan polisi di sejumlah daerah. Seruan untuk menggelar pemogokan umum juga semakin menguat.
Kemarahan publik meningkat setelah seorang perempuan penyandang disabilitas berusia 87 tahun diusir dari rumah yang telah ditempatinya selama sekitar 70 tahun pada September lalu. Namun, persoalan perumahan sebenarnya telah menjadi keluhan masyarakat selama bertahun-tahun.
Tingginya biaya hidup, upah yang stagnan, serta terbatasnya hunian terjangkau menjadi persoalan utama. Tekanan paling terasa di kawasan wisata populer yang mengalami lonjakan permintaan hunian, meski perekonomian Spanyol mencatat pertumbuhan kuat setelah pandemi.
Selain perumahan, isu imigrasi juga menjadi sumber ketegangan politik. Pemerintah masih menghadapi dampak kedatangan puluhan ribu migran ke wilayah kantong Spanyol, Ceuta, di Afrika Utara pada Juli lalu.
Sánchez telah menjabat sebagai perdana menteri sejak Juni 2018. Sejak November 2023, dia memimpin pemerintahan koalisi minoritas sayap kiri. Ketiadaan mayoritas di parlemen membuat pemerintahannya kesulitan meloloskan sejumlah reformasi besar.
Selama berkuasa, Sánchez juga beberapa kali berselisih dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, termasuk terkait kritik terhadap kebijakan luar negeri Washington di Timur Tengah. [jr-cnbc]