Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Prabowo-Trump Teken Agreement on Reciprocal Trade, Indonesia-AS Buka Babak Baru Perdagangan

Prabowo-Trump Teken Agreement on Reciprocal Trade, Indonesia-AS Buka Babak Baru Perdagangan

Minggu, 22 Februari 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Gedung Putih, Washington DC. [Foto: BPMI Setpres]


DIALEKSIS.COM | Internasional - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Gedung Putih, Washington DC, pada Kamis, 19 Februari 2026 waktu setempat. 

Penandatanganan itu terjadi di sela agenda pertemuan puncak Board of Peace (BoP) yang digagas pemerintahan AS. Kesepakatan ini menjadi tonggak penting dalam hubungan ekonomi kedua negara, sekaligus membuka babak baru akses pasar dan kerja sama strategis bilateral.

Dalam ART yang disepakati, Indonesia berkomitmen menghapus hambatan tarif untuk sekitar 99 % produk Amerika Serikat yang masuk ke pasar Indonesia. Hal ini mencakup produk dari sektor pertanian, alat kesehatan, makanan laut, otomotif, bahan kimia, hingga teknologi informasi dan komunikasi.

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat menetapkan tarif resiprokal sebesar 19 % terhadap sebagian besar produk Indonesia yang diekspor ke pasar AS, tarif yang merupakan hasil negosiasi dan penurunan dari ancaman sebelumnya hingga 32 %. Beberapa komoditas unggulan Indonesia seperti minyak sawit, kopi, dan kakao mendapatkan pembebasan tarif di bawah kesepakatan ini.

Kesepakatan dagang ini juga mencakup komitmen ekonomi yang signifikan dari kedua pihak. Indonesia telah menyetujui sejumlah pembelian produk dan investasi dari Amerika Serikat yang mencapai puluhan miliar dolar. Terinfokan pembelian energi AS senilai sekitar US$15 miliar per tahun, pembelian pesawat komersial dan barang lain termasuk dari Boeing, senilai sekitar US$13,5 miliar, dan pembelian produk pertanian AS yang diperkirakan mencapai lebih dari US$4,5 miliar.

Selain itu, laporan internasional menyebutkan adanya perjanjian bisnis senilai sekitar US$38,4 miliar antara perusahaan Indonesia dan AS yang diteken sebelum pertemuan puncak, mencakup sektor energi, agribisnis, tekstil, dan teknologi.

Dalam keterangan resmi Gedung Putih, kesepakatan ini dipandang sebagai awal dari era baru kerja sama ekonomi yang lebih dalam antara Jakarta dan Washington, dengan komitmen kuat dari kedua pemimpin untuk mengimplementasikan hasil perjanjian dengan cepat dan konsisten.

Sementara itu, Presiden Prabowo dalam kunjungannya menegaskan bahwa kesepakatan itu akan membawa peluang bagi dunia usaha Indonesia dan AS, serta memberikan sinyal positif bagi iklim investasi bilateral yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Kesepakatan ini terjadi di tengah dinamika hubungan perdagangan global, di mana banyak negara tengah meninjau kembali kebijakan tarif dan akses pasar mereka. Bagi Indonesia, ART menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat posisi ekonomi dalam rantai pasok global, memperluas akses ekspor, dan menarik investasi asing.

Dengan disepakatinya perjanjian tersebut, Indonesia dan Amerika Serikat berharap kemitraan strategis kedua negara tidak hanya meningkat dalam perdagangan, tetapi juga menciptakan kontribusi positif terhadap stabilitas ekonomi dan pertumbuhan global. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI