DIALEKSIS.COM | Kyiv - Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Ukraina pada Minggu (24/5/2026) malam waktu setempat. Serangan tersebut disebut menggunakan sejumlah rudal canggih, termasuk rudal balistik jarak menengah Oreshnik.
Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataan resminya menyebut serangan itu sebagai balasan atas gempuran Ukraina terhadap fasilitas sipil.
“Angkatan Bersenjata Federasi Rusia melakukan serangan besar-besaran menggunakan rudal balistik Oreshnik, rudal balistik Iskander yang diluncurkan dari udara, rudal balistik hipersonik Kinzhal yang diluncurkan dari udara, dan rudal jelajah Tsirkon,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia, dikutip Reuters.
Sebelumnya, Ukraina dilaporkan dihujani berbagai jenis misil dan drone pada awal Minggu. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya empat orang.
Gempuran itu terjadi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam akan membalas serangan Ukraina ke wilayah yang telah diduduki pasukan Rusia di bagian timur Ukraina.
Rudal Oreshnik menjadi salah satu senjata yang mendapat perhatian dalam serangan terbaru ini. Rudal balistik jarak menengah tersebut memiliki jangkauan sekitar 3.000 hingga 5.500 kilometer.
Putin pertama kali memperkenalkan rudal Oreshnik ke publik pada 21 November lalu, ketika Rusia mengujinya dalam serangan ke wilayah Dnipro, Ukraina.
Sejumlah ahli menilai rudal Oreshnik memiliki kemiripan dengan sistem rudal lain yang telah lama dikembangkan Rusia. Sebagai rudal balistik jarak menengah, Oreshnik disebut mampu menjangkau sebagian besar negara-negara Eropa.
“Sistem ini telah dikembangkan selama beberapa waktu,” kata pakar nonproliferasi nuklir di Middlebury Institute for International Studies, Jeffrey Lewis.
Menurut pejabat Ukraina, rudal Oreshnik mampu membawa enam hulu ledak. Masing-masing hulu ledak disebut dapat memuat enam submunisi. Dugaan itu menguat setelah serangan Oreshnik ke Dnipro pada pekan sebelumnya.
Pakar militer Rusia, Anatoly Matviychuk, juga meyakini Oreshnik dapat membawa enam hingga delapan hulu ledak, baik konvensional maupun nuklir.
Selain daya jangkau dan kapasitas hulu ledaknya, Oreshnik disebut mampu melaju dengan kecepatan setidaknya Mach 5 atau lima kali kecepatan suara. Rudal tersebut juga dapat bermanuver di tengah penerbangan, sehingga lebih sulit dilacak dan dicegat sistem pertahanan udara.
Serangan terbaru ini kembali memperlihatkan meningkatnya eskalasi perang Rusia-Ukraina. Di tengah ancaman balasan dan penggunaan senjata jarak menengah, situasi keamanan di kawasan Eropa Timur diperkirakan masih akan terus memanas.