Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Rusia Pamer Rudal Nuklir Sarmat, Klaim Jadi yang Terkuat di Dunia

Rusia Pamer Rudal Nuklir Sarmat, Klaim Jadi yang Terkuat di Dunia

Rabu, 13 Mei 2026 19:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri pertemuan dengan komandan Pasukan Rudal Strategis Rusia, Kolonel Jenderal Sergei Karakayev, melalui tautan video di Kremlin di Moskow, Rusia, pada 12 Mei 2026 [Foto: Mikhail Metzel/Pool via Reuters]


DIALEKSIS.COM | Moskow - Rusia kembali menunjukkan kekuatan militernya setelah sukses melakukan uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) terbaru, Sarmat. 

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut rudal berkemampuan nuklir itu sebagai “rudal terkuat di dunia” dan memastikan senjata tersebut akan mulai masuk layanan tempur pada akhir tahun ini.

Dalam tayangan televisi pemerintah Rusia, komandan pasukan rudal strategis Sergei Karakayev melaporkan langsung kepada Putin mengenai keberhasilan peluncuran rudal tersebut. 

“Ini adalah rudal terkuat di dunia,” kata Putin. Ia mengklaim daya ledak hulu ledak Sarmat lebih dari empat kali lebih besar dibandingkan rudal Barat mana pun.

Putin juga mengatakan Sarmat mampu terbang secara suborbital dengan jangkauan lebih dari 35.000 kilometer. Menurutnya, rudal tersebut dapat “menembus semua sistem pertahanan anti-rudal yang ada maupun yang akan datang”. Di Barat, rudal ini dikenal dengan julukan “Satan II” dan dirancang menggantikan rudal era Soviet, Voyevoda.

Pengembangan Sarmat sendiri telah berlangsung sejak 2011 dan sempat mengalami sejumlah hambatan. Sebelum uji coba terbaru, rudal itu hanya mencatat satu peluncuran sukses dan dilaporkan mengalami ledakan besar saat pengujian gagal pada 2024. Meski demikian, Putin mengeklaim Sarmat memiliki kekuatan setara Voyevoda namun dengan tingkat presisi lebih tinggi.

Uji coba rudal dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran global atas berakhirnya Perjanjian New START, kesepakatan terakhir antara Rusia dan Amerika Serikat yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis kedua negara. Perjanjian tersebut resmi berakhir pada Februari lalu tanpa adanya pengganti baru.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mendorong agar perjanjian nuklir baru juga melibatkan China. Namun Beijing menolak usulan tersebut. Di sisi lain, Moskow dan Washington saling menuduh melanggar ketentuan New START selama beberapa tahun terakhir.

Sejak berkuasa pada 2000, Putin terus mendorong modernisasi triad nuklir Rusia. Selain Sarmat, Rusia juga mengembangkan berbagai sistem senjata strategis baru seperti kendaraan luncur hipersonik Avangard, drone bawah laut nuklir Poseidon, hingga rudal jelajah Burevestnik. 

“Kami terpaksa memastikan keamanan strategis Rusia demi menjaga keseimbangan kekuatan,” ujar Putin. [AFP, AP & Reuters/Aljazeera]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI