Selasa, 23 Juni 2026
Beranda / Berita / Dunia / Trump Ancam Iran, Damai di Swiss Terancam

Trump Ancam Iran, Damai di Swiss Terancam

Senin, 22 Juni 2026 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

President Donald Trump. Foto: AP Photo/Julia Demaree Nikhinson


DIALEKSIS.COM | Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras kepada Iran. Ia memperingatkan Teheran agar segera mengendalikan kelompok milisi sekutunya, Hizbullah, di Lebanon.

Ancaman itu disampaikan Trump pada Minggu, 21 Juni 2026, ketika pejabat senior Amerika Serikat dan Iran mulai membuka perundingan damai di Swiss. Perundingan tersebut digelar di tengah situasi kawasan yang masih rapuh, terutama setelah meningkatnya bentrokan antara militer Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan.

“Iran harus segera menghentikan proksi mereka yang dibayar mahal di Lebanon dari menimbulkan masalah,” tulis Trump melalui platform Truth Social miliknya.

Trump bahkan mengancam akan kembali menyerang Iran jika Teheran dinilai gagal menahan gerak kelompok sekutunya.

“Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, hanya lebih keras lagi,” tulisnya.

Pernyataan Trump itu muncul di saat diplomasi antara Washington dan Teheran sedang memasuki fase penting. Amerika Serikat dan Iran sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding pada Rabu pekan lalu. Kesepakatan awal itu memuat komitmen penghentian permusuhan di sejumlah front, termasuk Lebanon.

Namun, situasi di lapangan belum sepenuhnya mereda. Serangan udara Israel pada Sabtu dilaporkan menewaskan sedikitnya 30 orang di wilayah timur dan selatan Lebanon. Setelah itu, terjadi jeda pertempuran pada malam hari ketika militer Israel diperintahkan menghentikan bentrokan dengan Hizbullah.

Ketegangan tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu proses perundingan damai AS-Iran di Swiss. Lebanon kini menjadi salah satu ujian utama bagi kesepakatan awal Washington dan Teheran.

Wakil Presiden AS JD Vance, yang ikut dalam pembicaraan di Swiss, mengatakan pihaknya melihat kemajuan dalam beberapa hari terakhir untuk menjaga gencatan senjata di Lebanon tetap berlaku.

“Kita semua bekerja menuju perdamaian regional,” kata Vance, seperti dilansir AFP, Senin, 22 Juni 2026.

Vance menyebut posisi perundingan terkait Lebanon cukup positif, meski masih ada sejumlah persoalan yang harus diselesaikan.

“Saya merasa sangat senang dengan posisi kita di Lebanon. Masih ada beberapa hal yang perlu diselesaikan, tetapi kita akan terus berupaya,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintahan Trump telah melakukan upaya besar untuk menghentikan konflik di Lebanon dalam beberapa bulan terakhir.

Meski demikian, ancaman terbuka Trump terhadap Iran memperlihatkan rapuhnya jalan diplomasi yang sedang dibangun. Di satu sisi, Washington mendorong perundingan damai. Di sisi lain, tekanan militer tetap digunakan sebagai pesan keras kepada Teheran.

Perundingan di Swiss kini menjadi panggung penting untuk melihat apakah Amerika Serikat dan Iran mampu menjaga kesepakatan awal, atau justru kembali terseret dalam eskalasi baru di Timur Tengah.


Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes