Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Antisipasi Tiket Mahal, Masyarakat Aceh Diimbau Pesan Lebih Awal Lewat Aplikasi

Antisipasi Tiket Mahal, Masyarakat Aceh Diimbau Pesan Lebih Awal Lewat Aplikasi

Jum`at, 17 April 2026 16:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Sultan Iskandar Muda, Setiyo Pramono. Dokumen pribadi.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kenaikan harga tiket pesawat dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian publik, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. 

Fenomena ini tak hanya dirasakan oleh masyarakat sebagai pengguna jasa transportasi udara, tetapi juga berdampak langsung pada aktivitas bandara, termasuk di Bandara Sultan Iskandar Muda.

Dalam uji wawancara narasumber pada Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar oleh Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Aceh bersama Asosiasi Media Siber Indonesia Aceh dan Universitas Muhammadiyah Jakarta, General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Sultan Iskandar Muda, Setiyo Pramono, memaparkan secara rinci faktor penyebab hingga dampak kenaikan harga tiket pesawat.

Menurut Setiyo, kenaikan harga tiket pesawat saat ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika global, terutama melonjaknya harga avtur yang menjadi komponen utama dalam operasional maskapai.

“Kalau kita lihat, kenaikan ini sangat dipengaruhi oleh harga avtur. Dulu kisarannya sekitar Rp11.000 per liter, sekarang bisa mencapai Rp25.000 per liter. Ini kenaikan yang sangat signifikan,” ujarnya kepada media dialeksis.com, Jumat, 17 April 2026.

Ia menjelaskan, avtur merupakan biaya terbesar dalam operasional penerbangan. Ketika harga bahan bakar melonjak, maskapai praktis tidak memiliki banyak opsi selain menyesuaikan harga tiket.

“Kondisi ini membuat maskapai harus melakukan penyesuaian. Kalau tidak, tentu akan berdampak pada keberlanjutan operasional mereka,” tambahnya.

Selain faktor global, Setiyo juga menyoroti peran pemerintah dalam menjaga keseimbangan harga tiket melalui berbagai kebijakan.

Ia menyebutkan, salah satu instrumen yang memengaruhi harga tiket adalah penyesuaian fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar yang dibebankan kepada penumpang.

“Pemerintah sebenarnya hadir untuk menjaga keseimbangan. Ada kebijakan seperti fuel surcharge, bahkan kemungkinan intervensi melalui pajak seperti PPN yang sebagian ditanggung. Ini untuk memberi ruang bagi maskapai agar tetap bisa beroperasi,” jelasnya.

Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi bentuk kompromi antara menjaga keberlangsungan industri penerbangan dan melindungi daya beli masyarakat.

Dampak dari kenaikan harga tiket pesawat mulai terlihat nyata di Bandara Sultan Iskandar Muda. Setiyo mengungkapkan adanya penurunan signifikan jumlah penumpang harian.

“Kalau sebelumnya rata-rata penumpang bisa mencapai 2.400 orang per hari, sekarang turun menjadi sekitar 1.400 hingga 1.900 penumpang per hari,” ungkapnya.

Penurunan ini, lanjutnya, mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat terhadap layanan transportasi udara.

“Kita melihat ada pengurangan mobilitas. Masyarakat jadi lebih selektif untuk bepergian menggunakan pesawat karena biayanya yang meningkat,” katanya.

Di tengah situasi tersebut, Setiyo mengimbau masyarakat untuk lebih cermat dalam merencanakan perjalanan udara.

Ia menyarankan calon penumpang untuk aktif memantau harga tiket melalui berbagai platform digital, mengingat harga tiket bersifat fluktuatif mengikuti perubahan harga avtur.

“Harga tiket itu dinamis, bisa berubah sewaktu-waktu. Karena itu, masyarakat sebaiknya rutin memantau dan membeli tiket jauh-jauh hari,” sarannya.

Menurutnya, pembelian tiket lebih awal menjadi salah satu strategi paling efektif untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau dibandingkan pembelian mendadak.

“Perencanaan perjalanan yang matang itu kunci. Dengan membeli lebih awal, peluang mendapatkan harga lebih murah akan jauh lebih besar,” tambahnya.

Setiyo menegaskan bahwa kenaikan harga tiket pesawat merupakan dampak langsung dari tekanan global, khususnya lonjakan harga avtur. Dalam situasi ini, baik pemerintah, maskapai, maupun masyarakat memiliki peran masing-masing untuk beradaptasi.

“Kita tidak bisa melihat ini dari satu sisi saja. Ini adalah kombinasi dari faktor global, kebijakan pemerintah, dan strategi maskapai. Dampaknya tentu dirasakan bersama, termasuk oleh masyarakat,” tuturnya.

Ia berharap, dengan adanya pemahaman yang lebih baik mengenai penyebab kenaikan harga tiket, masyarakat dapat mengambil langkah yang lebih bijak dalam merencanakan perjalanan.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa beradaptasi. Masyarakat tetap bisa bepergian, tetapi dengan strategi yang lebih efisien,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI