DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Prestasi yang satu ini bukan kaleng-kaleng. Bank Mustaqim Aceh kembali menunjukkan kelasnya sebagai bank daerah yang bukan cuma “hidup”, tapi benar-benar berkontribusi nyata. Dalam ajang TOP BUMD Awards 2026 di Jakarta, bank ini sukses memborong tiga penghargaan sekaligus.
Acara yang berlangsung di Hotel Raffles itu mempertemukan ratusan BUMD terbaik se-Indonesia. Dari sekitar 1.600 BPR dan BPRS yang ikut, Bank Mustaqim Aceh mampu tembus ke level tertinggi.
Yang menarik, Bank Mustaqim Aceh tidak datang sebagai “pemain baru”. Mereka justru menunjukkan tren naik yang konsisten. Tahun - tahun sebelumnya sudah meraih Bintang 4, dan kini dua kali berturut-turut menyabet Bintang 5, level tertinggi dalam penilaian.
Penilaian sendiri tidak main-main. Mulai dari kinerja keuangan, tata kelola, strategi bisnis, sampai dampak ke masyarakat, semua dikuliti oleh dewan juri independen.
Tiga penghargaan utama yang diraih, meliputi; TOP BUMD Awards 2026 “ BPRS Bintang 5, TOP CEO BUMD 2026 (Raisul Mukhlis), dan TOP Pembina BUMD 2026 (Gubernur Aceh, Muzakir Manaf).
Ini menandakan bukan cuma institusinya yang kuat, tapi juga kepemimpinan dan dukungan pemerintah berjalan searah.
Yang bikin Bank Mustaqim beda, mereka tidak hanya fokus angka, tapi juga arah. Sekitar 88% pembiayaan disalurkan ke sektor UMKM dan usaha riil. Artinya, uang yang berputar benar-benar menyentuh masyarakat bawah pedagang, petani, hingga pelaku usaha kecil.
Direktur Utama Raisul Mukhlis menegaskan bahwa strategi ini bukan kebetulan. “Kalau bank daerah tidak kuatkan sektor riil, lalu siapa lagi?” kira-kira begitu pesan yang ingin ditegaskan.
Produk-produk yang ditawarkan juga tidak asal ada. Mulai dari pembiayaan mikro dengan margin ringan, program agribisnis dengan masa tenggang, sampai cicilan emas semuanya dirancang agar bisa diakses masyarakat luas.
Di tengah persaingan bank digital, Bank Mustaqim justru menggabungkan pendekatan teknologi dan sentuhan langsung. Salah satu yang menarik adalah layanan jemput setoran ke nasabah, sesuatu yang sangat membantu pelaku usaha kecil yang sibuk di lapangan.
Selain itu, mereka juga aktif masuk ke sekolah-sekolah lewat program tabungan pendidikan. Jadi bukan cuma bisnis hari ini, tapi juga investasi kebiasaan finansial untuk generasi ke depan.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, tidak tinggal diam. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini harus jadi momentum untuk memperkuat seluruh BUMD di Aceh.
Menurutnya, kemandirian ekonomi daerah tidak bisa hanya bergantung pada pusat. Harus dimulai dari lembaga keuangan sendiri yang kuat dan berpihak pada rakyat.
Bank Mustaqim juga tidak mau tertinggal dalam hal teknologi. Integrasi sistem seperti Virtual Account dan pengelolaan pembiayaan berbasis digital mulai diterapkan.
Langkah ini penting agar bank daerah tidak kalah cepat dengan bank nasional maupun fintech.
Bank Mustaqim Aceh bukan cuma “ikut lomba lalu menang”, tapi memang sedang membangun fondasi ekonomi daerah dari bawah. Dari UMKM, dari petani, dari sekolah pelan tapi pasti.
Kalau konsistensi ini dijaga, bukan tidak mungkin ke depan bank daerah seperti ini bisa jadi tulang punggung ekonomi Aceh yang lebih mandiri dan kuat.