DIALEKSIS.COM | Aceh Besar - Kekayaan tanaman buah lokal Aceh perlahan mulai menghilang. Bukan karena bencana atau perubahan iklim semata, tetapi akibat semakin sedikitnya masyarakat yang mau membudidayakan dan merawat tanaman warisan tersebut.
Kekhawatiran itu disampaikan Fikar Masyar Putra, pemilik Budidaya Berkah Bibit di Desa Cot Geudreut, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar.
Menurutnya, sejumlah varietas buah khas Aceh kini semakin sulit ditemukan karena tidak lagi memiliki regenerasi petani.
"Yang saya sedihkan itu bukan sekadar pohonnya berkurang, tetapi sudah tidak ada penerus yang mau menanam. Yang ada sekarang hanya tinggal memanen pohon yang sudah ada," kata Fikar kepada Dialeksis.com, Sabtu, 27 Juni 2026.
Ia mencontohkan salah satu varietas yang kini mulai langka, yakni jeruk patek. Dahulu buah tersebut cukup mudah ditemukan di sejumlah wilayah Aceh, termasuk kawasan Sampoinoit, Aceh Jaya.
"Jeruk patek itu kulitnya tipis, warnanya hijau, rasanya manis. Sekarang sudah hampir tidak ada lagi. Pohonnya banyak yang tidak dirawat, tidak dipupuk, akhirnya buahnya menjadi asam dan kualitasnya menurun," ujarnya.
Menurut Fikar, persoalan utama bukan semata-mata soal harga jual hasil pertanian, tetapi rendahnya kesadaran masyarakat bahwa sektor pertanian sebenarnya mampu memberikan nilai ekonomi yang besar apabila dikelola dengan baik.
"Ini bukan hanya soal daya jual. Yang lebih penting adalah kesadaran bahwa tanaman itu bisa menghasilkan uang kalau dirawat dengan serius," katanya.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Fikar membangun Budidaya Berkah Bibit bukan hanya sebagai tempat menjual bibit tanaman, tetapi juga sebagai pusat pelestarian berbagai varietas tanaman buah.
Ia mengaku memiliki idealisme untuk terus memperbanyak bibit tanaman buah, baik varietas lokal maupun unggul, agar tidak punah di masa mendatang.
"Tujuan saya bukan sekadar berjualan. Saya ingin memperbanyak bibit tanaman buah supaya varietas-varietas yang bagus tetap ada dan bisa dinikmati generasi berikutnya," ungkapnya.
Sebagian besar bibit yang dipasarkan merupakan hasil perbanyakan sendiri. Meski demikian, untuk beberapa jenis tanaman tertentu yang lebih murah diproduksi dari luar daerah, ia tetap bekerja sama dengan mitra pembibitan.
"Kalau semua harus kita produksi sendiri tentu tidak mungkin. Makanya kita juga membangun jaringan atau plasma dengan petani lain supaya sama-sama berkembang," jelasnya.
Fikar juga aktif membagikan ilmu kepada masyarakat sekitar, terutama teknik sambung pucuk atau grafting agar warga mampu memproduksi bibit berkualitas secara mandiri.
"Orang-orang sekitar yang mau belajar saya ajarkan. Ada yang sekarang sudah bisa menyambung tanaman sendiri dan menjual bibit hasil karyanya. Itu yang saya inginkan, menciptakan ekosistem," katanya.
Namun demikian, ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah perubahan pola pikir masyarakat yang semakin konsumtif dibanding produktif.
"Sekarang masyarakat kita lebih banyak konsumtif daripada produktif. Dulu banyak orang yang mau membuat bibit, sekarang sudah semakin sedikit," ujarnya.
Ia juga menyoroti masih minimnya pengetahuan masyarakat mengenai cara merawat tanaman setelah membeli bibit.
"Banyak orang beli bibit, kita sudah siram, sudah jelaskan, tapi setelah dibawa pulang malah mati karena tidak dirawat. Sebenarnya mereka kurang edukasi tentang cara merawat tanaman," tutur Fikar.
Karena itu, ia berharap edukasi mengenai budidaya tanaman buah dapat lebih diperkuat, baik melalui komunitas, sekolah maupun dukungan pemerintah, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi pembeli bibit, tetapi juga mampu menjadi pelaku pertanian yang produktif.
"Bagi saya, kalau semakin banyak orang bisa membuat bibit dan menanam sendiri, itu jauh lebih membahagiakan daripada sekadar banyak menjual bibit. Yang ingin kita bangun adalah budaya bertani yang terus hidup," pungkasnya.
