DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Menjelang perayaan Imlek yang jatuh pada 17 Februari 2026, harga lobster asal Aceh mengalami kenaikan dan semakin diminati pasar dalam negeri.
Komoditas laut bernilai tinggi ini kembali menjadi primadona, terutama lobster mutiara, yang harganya menembus angka ratusan ribu hingga hampir satu juta rupiah per kilogram.
Fajar, seorang pembudidaya lobster di Banda Aceh, mengatakan tren kenaikan harga mulai terasa sejak awal pekan tahun 2026 seiring meningkatnya permintaan jelang Imlek.
“Biasanya mendekati Imlek harga lobster mulai naik. Sekarang sudah terasa, terutama untuk lobster ukuran konsumsi,” ujarnya sata ditemui media dialeksis.com di kerambanya di Ulee Lheue, Banda Aceh, Kamis (22/1/2026).
Fajar memulai usaha budidaya lobster sejak 2012 dengan fokus pada lobster mutiara (Panulirus ornatus). Ia memanfaatkan bibit hasil tangkapan nelayan lokal dari Aceh Besar dan Aceh Jaya.
Menurutnya, kebijakan larangan ekspor benih lobster berukuran kecil di bawah 200 gram justru membuka peluang besar bagi pembudidaya untuk mengembangkan lobster hingga ukuran siap konsumsi.
“Dulu banyak benih keluar, sekarang kita besarkan di dalam negeri. Nilai tambahnya besar, dan ini menguntungkan nelayan serta pembudidaya,” kata Fajar.
Saat ini, harga lobster di tingkat pembudidaya bervariasi tergantung jenisnya. Lobster mutiara dijual sekitar Rp900.000 per kilogram, lobster pasir Rp550.000 per kilogram, lobster bambu Rp500.000 per kilogram, lobster batu Rp400.000 per kilogram, sementara lobster kipas berkisar Rp150.000 per kilogram.
Lobster-lobster tersebut dipasarkan ke berbagai daerah, mulai dari Banda Aceh dan sejumlah kabupaten di Aceh, hingga kota-kota besar seperti Jakarta, Batam, dan Bali.
Menurut Fajar, permintaan dari luar daerah cenderung meningkat menjelang hari-hari besar, termasuk Imlek.
Dalam satu siklus budidaya, panen lobster dilakukan sekitar dua bulan sekali, tergantung ukuran dan jenis.
Namun demikian, Fajar mengakui budidaya lobster tidak lepas dari tantangan. Harga pakan yang tinggi menjadi salah satu beban biaya terbesar.
Meski menghadapi tantangan, Fajar menilai potensi budidaya lobster di perairan Aceh sangat besar. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, pengendalian biaya pakan, serta akses pasar yang stabil, lobster dapat menjadi komoditas unggulan perikanan rakyat yang menopang ekonomi pesisir.
“Kalau dikelola serius, lobster Aceh bukan cuma naik harga saat Imlek, tapi bisa jadi kekuatan ekonomi jangka panjang,” pungkasnya. [nh]